
Hanum sudah selesai membasuh wajahnya di dalam kamar mandi. Ia pun keluar dari dalam kamar mandi dengan wajah yang terlihat lebih segar dibandingkan saat bangun tidur tadi. Dio yang melihat istrinya sudah selesai membasuh wajahnya pun mengajak Hanum untuk turun ke lantai bawah untuk makan.
"Apa kau tidak ingin mencuci wajah dulu?" Tanya Hanum sebelum mengiyakan ajakan suaminya.
"Di kamar mandi bawah saja." Jawab Dio.
Hanum menganggukkan kepalanya. Mereka pun melangkah menuju pintu kamar.
Tring
Suara deringan nada panggilan telefon dari ponsel Dio menghentikan niat Dio yang ingin membuka pintu kamar. Dio menoleh menatap layar ponselnya yang nampak hidup karena adanya panggilan telefon di sana.
"Angkat saja lebih dulu." Ucap Hanum karena Dio hanya diam saja.
Dio mengangguk mengira panggilan telefon itu adalah penting untuk ia angkat. Namun saat melihat siapa pemanggil telefon sudah membuat Dio mengurungkan niatnya untuk mengangkat panggilan telefon.
"Loh, kenapa tidak diangkat?" Tanya Hanum bingung.
"Bukanlah panggilan darurat. Sekarang lebih baik kita turun karena panggilan dari perutmu lebih darurat." Ajak Dio.
Hanum dibuat bingung mendengarkan jawaban dari suaminya. "Lebih baik kau angkat dulu saja. Ponselmu berbunyi lagi." Saran Hanum karena ponsel Dio berbunyi untuk yang kedua kalinya.
Dio tak menjawabnya justru menarik tangan Hanum keluar dari dalam kamar. Terpaksa Hanum mengikuti Dio dan tak lagi meminta Dio mengangkat telefonnya. Ia juga tidak ingin memaksa jika Dio tidak ingin.
__ADS_1
Setibanya di lantai bawah senyuman manis Yani sudah menyambut kedatangan mereka atau lebih tepatnya kedatangan Dio. Hanum yang melihat senyuman Yani untuk suaminya mencoba bersikap biasa saja.
"Bibi, tinggalkan aku dan istriku berdua di sini." Pinta Dio. Ia juga tidak merasa nyaman jika ada Yani di antara mereka.
Senyuman Yani surut seketika mendengar perkataan Dio yang secara tidak langsung mengusir mereka.
"Baik, Tuan." Bu Tias menurutinya dan mengajak Yani pergi meninggalkan tempat makan.
"Sungguh menyebalkan!" Gerutu Yani merasa tidak terima disuruh pergi oleh Dio.
Hanum yang mendengarkan gerutuan Yani hanya diam sambil menatap kepergian wanita itu.
"Ayo makan." Ajak Dio pada Hanum.
Dio mengiyakannya lalu melangkah pergi ke arah kamar mandi berada.
Tak berselang lama Dio pun telah kembali dengan wajah yang lebih segar.
"Cukup ambil makanan untuk satu piring saja!" Titah Dio saat melihat Hanum hendak memasukkan makanan ke dalam piring kedua.
"Kenapa? Piring ini untukmu." Jawab Hanum dengan wajah bingung.
"Mulai sekarang kau harus membiasakan makan satu piring berdua denganku." Jawab Dio dengan senyuman tipis di wajahnya.
__ADS_1
"Apa?" Hanum dibuat terkejut mendengarnya. Yang benar saja suaminya itu meminta makan sepiring berdua dengannya.
"Jangan banyak bertanya turuti saja apa yang aku katakan." Ucap Dio tegas.
Mau tidak mau Hanum menurutinya. Ia pun menambah porsi nasi dan lauk pauk di piring pertama.
"Sekarang ayo suapi suamimu." Pinta Dio setelah Hanum selesai menambah porsi makanan mereka.
"Apa kau tidak bisa makan sendiri saja?" Protes Hanum.
Dio menggeleng tanda tidak bisa. Dan lagi Hanum mau tidak mau menuruti permintaan suaminya yang ingin makan disuapi olehnya.
"Kau sudah seperti Divan saja." Cibir Hanum setelah menyuapkan makanan ke mulut Hanum.
"Aku memang ingin seperti Divan agar diberikan kasih sayang yang berlimpah olehmu." Jawab Dio santai namun bisa membuat jantung Hanum berdebar-debar setelah mendengarnya.
***
Sebelum lanjut, jangan lupa berikan vote, like, point, dan komennya dulu, ya.
Sambil menunggu Dio dan Hanum update, silahkan mampir di novel shay yang lagi on going juga berjudul One Night Love Tragedy, ya🖤
Dan jangan lupa follow IG shy @shy1210_ 🤗
__ADS_1