
Dio, Hanum dan Divan nampak sudah rapi dengan pakaian seragam bewarna hitam. Melihat penampilan istrinya yang sederhana namun tampak elegan membuat kedua bola mata Dio berbinar melihatnya.
"Apa penampilanku jelek malam ini?" Tanya Hanum karena Dio terus menatapnya tanpa berkedip. Hanum jadi merasa tidak percaya diri dengan riasan natural yang ia kenakan saat ini.
"Jelek? Buang kata itu dari pemikiranmu karena kau sangat cantik." Puji Dio.
Hanum tak dibuat tersipu mendengar pujian dari suaminya itu. Ia hanya menebar senyuman tipis di wajah cantiknya. "Terima kasih. Kau juga sangat tampan." Pujinya balik.
"Tentu saja. Kapan seorang Dio Mahesa terlihat jelek?" Sombong Dio.
"Ya, ya. Dari pada terlalu banyak bicara dan membuang waktu lama lebih baik kita segera pergi sekarang." Ajak Hanum.
Dio mengiyakannya. Mereka pun keluar dari apartemen sambil menggandeng tangan Divan.
"Divan ingat ya, kalau sudah berada di tempat acara nanti jangan pergi kemana-mana." Pesan Hanum. Ia masih saja merasa takut jika putranya itu hilang di keramaian seperti saat Divan masih berusia tiga tahun dulu.
__ADS_1
"Baik, Mah." Jawab Divan patuh. Lagi pula saat ini putra kecil Hanum itu bukanlah anak yang terlalu aktif bergerak jika berada di keramaian.
"Kau jangan cemas begitu. Divan akan aman berada di tempat acara nanti." Ucap Dio menenangkan hati istrinya. Dio pun menjelaskan jika di hotel yang akan menjadi tempat acara mereka nanti akan ada banyak pengawal yang berjaga-jaga di sana.
Mendengarkan penjelasan dari suaminya setidaknya membuat Hanum merasa sedikit tenang. Mereka pun terus melangkah hingga akhirnya sampai di dalam mobil. Dio menghidupkan mesin mobilnya dan melajukannya keluar dari area apartemen.
Selama berada di dalam perjalanan menuju tempat acara, seperti biasa Divan menceritakan aktivitasnya selama berada di sekolah dari pagi hingga siang. Hanum dan Dio mendengarkan cerita Divan dengan seksama dan sesekali menanggapinya.
"Oh ya, apa kau dan Divan nyaman tinggal di apartemen saat ini?" Tanya Dio karena ia merasa tinggal di apartemen membuat pergaulan Divan menjadi tidak luas karena putranya tidak memiliki teman.
Dio tersenyum mendengarkan jawaban istrinya yang terdengar sangat manis di telinganya. "Apa Divan juga nyaman? Kan di apartemen Divan tidak memiliki teman." Tanya Dio.
"Nyaman saja, Pah. Teman banyak di sekolah, Pah." Jawab Divan.
Dio kembali tersenyum. Ternyata anak dan istrinya bukanlah orang yang suka menuntut dimana pun mereka tinggal. Mobil milik Dio terus melaju hingga akhirnya sampai di sebuah hotel bintang lima.
__ADS_1
Setelah memarkirkan mobilnya di dalam besement, Dio segera turun untuk membukakan pintu untuk Divan. Sedangkan Hanum seperti biasa turun seorang diri karena ia tidak ingin Dio memperlakukannya sama seperti Divan.
"Ayo." Ajak Dio pada Hanum yang sudah keluar dari dalam mobil.
Hanum mengiyakannya lalu mereka pun berjalan keluar dari area besement menuju pintu masuk hotel. Sebelum masuk ke dalam hotel, Dio memposisikan tangannya untuk digandeng oleh Hanum. Walau merasa ragu dan kaku dengan permintaan suaminya, namun Hanum tetap menggandeng tangan suaminya karena tidak mungkin menolaknya.
"Ingat, jangan pernah menundukkan wajahmu di depan semua orang. Kau adalah nyonya dari Dio Mahesa." Pesan Dio sebelum masuk ke dalam ballroom hotel.
***
Sebelum lanjut, jangan lupa berikan vote, like, point, dan komennya dulu, ya.
Sambil menunggu Dio dan Hanum update, silahkan mampir di novel shay yang lagi on going juga berjudul One Night Love Tragedy, ya🖤
Dan jangan lupa follow IG shy @shy1210_ 🤗
__ADS_1