
"Agh, syukurlah kalau begitu." Ucap Alfin pelan namun dapat didengar oleh Gaga yang duduk di sebelahnya. Gaga pun menyikut lengan Alfin agar tak sembarangan berbicara.
"Jadi siapakah ayah kandung dari anakmu?" Tanya Sally yang masih terkejut namun juga penasaran dengan ayah kandung Divan.
Hanum menaruh telunjuknya di bibir sambil menggeleng pertanda ia tidak mau menjawabnya. Melihat respon Hanum membuat Sally mengangguk tanda mengerti dengan permintaan Hanum saat ini.
Tidak banyak yang keempat orang itu bicarakan karena Hanum memilih menutup pembicaraan di antara mereka dan tak ingin lagi menjelaskan apapu pada ketiga rekan kerjanya. Sally, Gaga dan Alfin pun mengerti dengan keinginan Hanum dan ikut menjaga privasi Hanum.
"Berjanjilah untuk tidak menyebarkannya kepada siapa-siapa. Cukup kalian bertiga yang tahu tentang statusku saat ini." Pinta Hanum saat mereka telah berada di luar pondok berniat menyusun kayu yang dibawa Alfin dan Gaga.
"Ya. Kami berjanji untuk itu. Kau percaya bukan dengan kami?" Tanya Sally.
Hanum menganggukkan kepalanya. "Terima kasih telah menjadi teman yang baik untukku. Sebelumnya aku tidak pernah mendapatkan teman yang baik seperti kalian." Ungkap Hanum.
Sally tertegun mendengar permintaan dari rekan kerjanya itu. "Kau serius?" Tanya Sally kemudian.
__ADS_1
"Ya." Hanum menganggukkan kepalanya. Beberapa kenangan sikap buruk orang-orang kepadanya kembali terlintas di benaknya. "Di saat aku bekerja dulu aku tidak memiliki seorang teman karena statusku yang saat itu single parent. Dan diakhir pekerjaanku, aku menemukan sosok teman yang sangat baik tanpa perduli masa laluku. Tapi sayang pertemanan kami tidak berjalan lama karena aku menikah dan pindah ke kota ini." Jelas Hanum.
Sally mendengarkannya dengan seksama. Jika apa yang dilalui Hanum saat itu dilalui oleh dirinya rasanya Sally tidak sanggup menjalaninya.
"Maaf jika untuk saat ini aku tidak bisa memberikan alasan kenapa aku bisa menikah dengan Dio." Ucap Hanum sambil merapikan kayu.
Sally menganggukkan kepalanya. "Aku mengerti. Pantas saja setiap kali kita makan di cafe milik Tuan Dio kita sering mendapatkan promo tak terduga. Ternya kau alasannya." Ucap Sally.
Hanum terdiam. Ia tidak terlalu percaya diri untuk itu jika Dio melakukannya untuk dirinya.
"Oh ya, apa susunan kayunya sudah benar?" Tanya Hanum mengalihkan percakapan di antara mereka.
Hanum mengangguk lalu mengajak Sally kembali duduk di pondok karena pekerjaan mereka sudah selesai menyusun kayu untuk pembakaran nanti malam.
Sementara Alfin dan Gaga yang sedang memancing ikan di sebuah kolam yang berada di belakang pondok nampak berbicara dengan serius.
__ADS_1
"Jika kau sudah menaruh hati padanya sebaiknya segera kau hilangkan. Jangan sampai perasaanmu merusak pertemanan di antara kita. Kau mengerti bukan dengan maksudku?" Tanya Gaga.
Alfin menganggukkan kepalanya. "Dia sudah bekeluarga dan rasanya sangat sulit untuk merusak rumah tangga orang lain." Jawab Alfin.
Gaga menepuk pundak Alfin. "Pintar. Jangan merusak kebahagiaan orang lain hanya karena kebahagaiaanmu sendiri. Jangan pernah menjadi manusia egois karena itu sangat buruk." Pesan Gaga.
Alfin mengangguk paham. "Bisakah kau menepuknya pelan saja? Kau membuat pundakku menjadi sakit!" Gerutu Alfin.
Gaga tertawa mendengarnya. "Maaf, aku terlalu bersemangat." Kelakarnya.
Alfin mendengus mendengarnya. Kedua orang pria itu pun kembali fokus memancing dan sesekali diiringi canda tawa di antara mereka.
***
Lanjut? Jangan lupa berikan vote, like, point, dan komennya dulu, ya.
__ADS_1
Sambil menunggu Dio dan Hanum update, silahkan mampir di novel shay yang lagi on going juga berjudul One Night Love Tragedy, ya🖤
Dan jangan lupa follow IG shy @shy1210_ 🤗