
Betapa masamnya wajah Dio saat Digo sudah datang ke apartemennya bersama seorang pria yang sangat Dio kenali dan sering membuat darahnya naik. Digo yang mengetahui jika kini Dio tengah kesal kepadanya karena membawa pria tersebut pun berusaha tak menatap wajah Dio dan terus mengajak Hanum berbicara.
"Hai, Dio. Kenapa wajahmu terlihat jelek seperti itu?" Tanya pria tersebut sambil memasang wajah menyebalkan di mata Dio.
"Karena kau ada di sini!" Ketus Dio tanpa takut pria di depannya saat ini tersinggung karena perkataannya.
"Karena ada aku?" Bukannya kesal atau marah, pria tersebut justru tertawa. "Seharusnya kau tidak kesal kepadaku dan berterima kasih karena saat itu aku sudah membawa istrimu ke rumah sakit." Kelakarnya.
Dio mendecakkan lidah. Menyebalkan sekali pria di depannya saat ini. Kekesalannya yang belum surut karena mengetahui pria tersebut yang menggendong istrinya saat pingsan kini sudah semakin bertambah karena pria itu juga menyalahkannya atas kejadian yang terjadi pada Hanum saat itu.
"Dio, bersikap baiklah pada tamu kita. Lagi pula Kak Richard itu adalah sepupumu." Tegur Hanum pelan pada suaminya. Bagaimana pun juga Hanum tidak bisa melupakan kebaikan Richard yang telah menolongnya saat itu.
Ya, pria yang diajak Digo saat ini adalah Richard sepupu dari Dio dan Digo. Digo sengaja tidak memberitahu Dio jika ia membawa Richard karena takut Dio tak mengizinkannya karena masih sebal pada pria itu.
Dio memasang wajah sebalnya pada Hanum yang memintanya bersikap baik pada Richard.
__ADS_1
"Dio..." Hanum mengusap lengan suaminya itu. Entah kenapa suaminya itu sulit bersikap dewasa jika itu bersama Richard.
"Baiklah," jawab Dio tak ingin istrinya menjadi marah kepadanya.
Hanum tersenyum mendengarnya. Tak lama Digo dan Richard pun memberikan hadiah untuk calon keponakan mereka.
"Kenapa repot-repot begini, anak kami kan belum lahir." Ucap Hanum setelah menerima hadiah tersebut yang ternyata adalah beberapa macam pakaian bayi dan stroller bayi.
"Karena kami menginginkannya." Jawah Digo dan Richard hampir bersamaan.
Tak berselang lama Hanum pun berpamitan ke dapur menyiapkan makananan untuk Richard dan Digo. Hanum berniat mengajak kedua pria itu untuk makanan bersama dengan mereka walau waktu belum menunjukkan waktu makan malam.
Dio yang masih merasa sebal pada Richard pun melontarkan sebuah pertanyaan pada pria tersebut. "Kau pasti mencari kesempatan untuk bisa menggendong istriku bukan?" Tuduh Dio pada Richard.
Richard menganggukkan kepalanya hingga membuat Dio melototkan kedua matanya. "Kapan lagi aku bisa menggendong Hanum jika tidak dalam keadaan seperti waktu itu." Kelakarnya.
__ADS_1
"Kau..." Dio yang merasa sebal pun melemparkan tisu di tangannya pada Richard. Untung saja Richard bisa dengan cepat mengelak hingga tisu tersebut tidak mengenai wajahnya.
"Kenapa kalian selalu saja bertengkar setiap bertemu?" Digo yang merasa tak habis pikir dengan tingkah kedua kakaknya pun menggelengkan kepalanya. Mungkin di antara anak berjenis kelamin pria di keturunan keluarga mereka hanya ialah yang paling waras.
"Karena Kakakmu itu terlalu kekanak-kanakakkan. Masa iya dia cemburu kepadaku yang berstatus sepupu." Jawab Richard.
Dio menatap Richard tajam. "Berani sekali kau menyalahkan aku! Jelas-jelas itu karena kau suka kepada istriku!" Cecarnya.
***
Sebelum lanjut, jangan lupa berikan vote, like, point, dan komennya dulu, ya.
Sambil menunggu Dio dan Hanum update, silahkan mampir di novel shy yang lagi on going juga berjudul Noda Menjadi yang Kedua, ya🖤
Dan jangan lupa follow IG shy @shy1210_ 🤗
__ADS_1