Istri Figuran

Istri Figuran
Harapan yang sirna


__ADS_3

"Nak Richard hanya tinggal sendiri di rumah ini?" Tanya Mama Jelita karena tidak melihat siapa pun di dalam rumah selain Richard.


"Ya. Untuk sekarang saya hanya tinggal sendiri di rumah ini. Namun besok akan ada adik saya yang akan ikut tinggal di rumah ini." Jawab Richard.


"Oh... seperti itu..." Mama Jelita mengangguk seraya tersenyum.


Richard yang tidak ingin terlalu lama berbasa-basi dengan mereka langsung saja menunjukkan dimana kamar mereka berada. Dan betapa terkejutnya Mama Jelita dan Cita saat mengetahui jika kamar yang akan diberikan pada mereka adalah kamar pembantu yang berada di belakang rumah.


"Nak Richard ini benar kamar untuk kami?" Tanya Mama Jelita.


"Ya. Ini memang kamar untuk kalian." Jawab Richard.


"Tapi kamar ini seperti kamar untuk pembantu." Cita yang sejak tadi diam akhirnya bersuara.


"Perkataanmu ini aneh sekali. Tentu saja kamar ini kamar untuk pembantu. Kau tidak lupa kan jika kalian datang ke sini untuk apa?" Tanya Richard.


"Untuk menjadi pembantu." Lirih Cita.

__ADS_1


"Pintar." Jawab Richard dengan wajah datarnya.


Mama Jelita menahan sebal dalam hati karena ia berpikir jika Richard akan memberikan kamar yang layak pada mereka namun ternyata Richard justru memberikan kamar pembantu kepada mereka.


"Untuk sekarang kalian bisa istirahat dulu sampai jam sepuluh pagi. Setelah itu kalian temui saya di ruangan kerja saya." Ucap Richard.


Mama Jelita dan Cita mengangguk saja tanpa berniat bertanya untuk apa Richard meminta mereka untuk menemuinya nantinya.


Setelah mendapatkan anggukan kepala dari Cita dan Mama Jelita, Richard pun beranjak pergi meninggalkan mereka.


Cita dan Mama Jelita saling pandang setelah melihat kepergian Richard.


"Bagaimana ini, Mah? Masa kita harus tidur di kamar pembantu? Ini sama saja kita keluar dari kandang singa masuk ke kandang buaya!" Gerutu Cita merasa sebal.


"Mama juga tidak tahu. Mama pikir dia akan memberikan kamar tidur yang layak untuk kita bukan kamar tidur seperti ini!" Ketus Mama Jelita.


Kedua orang wanita itu saling berdecak sebal dan akhirnya mau tidak mau menerima kamar tidur yang diberikan Richard untuk mereka.

__ADS_1


Harapan mereka yang ingin mendapatkan kamar yang layak seperti kamar mereka saat tinggal di rumah Papa Irfan sirna sudah saat melihat kondisi kamar mereka. Kamar tersebut hampir sama dengan kamar kontrakan mereka yang tidak memiliki fasilitas AC dan ranjang yang empuk. Di kamar tersebut bahkan hanya di fasilitasi ranjang yang cukup sempit dan kipas angin dinding yang berukuran tidak terlalu besar.


"Sial! Tahu begini aku tidak akan merasa senang kemarin dibawa tinggal di sini!" Gerutu Cita sambil menjatuhkan bokongnya di pinggir ranjang.


"Sudahlah. Anggap saja ini adalah percobaan untuk kita. Semoga saja setelah ini kita bisa menarik perhatian Tuan Richard hingga dia mau memberikan kamar yang layak untuk kita. Dan syukur-syukur kalau nantinya dia mau menjadikanmu nyonya di rumah ini." Ucap Mama Jelita.


Kekesalan yang Cita rasakan setidaknya sedikit berkurang mendengar harapan dari Mama Jelita.


"Ya, semoga saja kita mendapatkan apa yang kita inginkan. Dengan berjalannya waktu aku yakin pasti bisa menarik perhatian bule itu hingga dia jatuh ke dalam pelukanku." Ucap Cita yakin.


***


Sebelum lanjut, jangan lupa berikan vote, like, point, dan komennya dulu, ya.


Sambil menunggu Dio dan Hanum update, silahkan mampir di novel shy yang lagi on going juga berjudul Noda Menjadi yang Kedua, ya🖤


Dan jangan lupa follow IG shy @shy1210_ 🤗

__ADS_1


__ADS_2