
"Ya, kita sudah memiliki seorang cucu sekarang." Jawab Papa Irfan dengan mata berkaca-kaca.
Bu Shanty tersenyum lalu mengusap pipinya yang basah karena air mata.
Tring
Suara deringan panggilan masuk di ponselnya menghentikan percakapan Bu Shanty dan Papa Irfan.
Bu Shanty yang melihat nama pemanggil telefon dari orang rumah Dio pun langsung mengangkat panggilan tersebut.
"Apa? Divan menangis sejak tadi di kamarnya?" Tanya Bu Shanty cukup keras pada pelayan di rumah Dio.
Pelayan pun mengiyakannya dan menjelaskan jika Divan terbangun dari tidurnya dan menangis mencari keberadaan Hanum. Divan mengatakan jika Hanum sedang kesakitan di dalam mimpinya.
Bu Shanty yang mendengarkannya pun merasa haru karena ternyata Divan dapat merasakan jika tadi Hanum sedang kesakitan karena berjuang melahirkan adiknya ke dunia ini.
"Katakan pada Divan jika Hanum saat ini baik-baik saja. Katakan juga jika saat ini Hanum sedang berada di rumah sakit dan baru selesai melahirkan adiknya." Jawab Bu Shanty.
Pelayan di seberang telefon mengiyakan perkataan Bu Shanty.
Panggilan telefon pun terputus.
"Ada apa?" Tanya Papa Irfan.
__ADS_1
"Divan menangis mencari keberadaan Hanum karena dia tadi bermimpi jika Hanum sedang kesakitan." Jawab Bu Shanty.
"Apa? Divan dapat merasakan apa yang Hanum rasakan saat ini." Ucap Papa Irfan tak menyangka.
"Ya, begitulah." Jawab Bu Shanty tersenyum haru.
Papa Irfan turut merasa haru mendengarnya.
Malam itu Bu Shanty menitipkan pesan pada pelayan untuk menjaga Divan sampai besok pagi karena ia malam ini tidak bisa menjemput cucu kesayangannya itu. Bu Shanty pun mengirimkan pesan suara pada Divan yang berkata jika Hanum sudah melahirkan adiknya yang cantik ke dunia ini.
Beberapa jam berlalu, kini Hanum dan bayinya sudah dipindahkan ke ruangan perawatan. Dio yang berada di sebelah Hanum terus tersenyum menatap wajah istrinya.
"Kenapa kau terus tersenyum seperti itu?" Tanya Hanum.
Hanum tersenyum mendengarnya. "Terima kasih juga karena kau sudah menemaniku berjuang melahirkan anak kita." Jawab Hanum.
Dio menganggukkan kepalanya. Pandangannya pun beralih pada Bu Shanty yang sedang menggendong bayi mungil mereka.
"Apa kalian sudah menyiapkan nama untuk si kecil ini?" Tanya Bu Shanty.
Hanum menatap pada Dio seolah meminta Dio menjawabnya.
"Sudah. Namanya Daisy. Daisy Mahesa." Jawab Dio.
__ADS_1
"Nama yang manis. Daisy... cucu Nenek yang cantik." Ucap Bu Shanty.
Papa Irfan yang mendengarkannya pun tersenyum sambil menatap wajah cucunya.
Karena malam itu Bu Shanty belum ada memejamkan mata sejak Hanum masuk ke rumah sakit, Dio pun meminta Bu Shanty dan Papa Irfan untuk beristirahat di hotel yang sudah ia pesan yang berada tidak jauh dari rumah sakit berada.
Bu Shanty yang sudah lelah pun mengiyakannya lalu mereka pun pergi menuju hotel.
Keesokan harinya, Bu Shanty dan Papa Irfan sudah kembali lagi ke ruangan perawatan Hanum untuk melihat Hanum dan cucu mereka.
Di dalam ruangan perawatan Hanum pagi itu pun sudah mulai ramai dengan kedatangan Divan, Digo, Richard, Tuan Mahesa dan sahabat Dio lainnya.
"Mamah, adik Divan cantik sekali." Puji Divan sambil menatap wajah adiknya yang saat ini berada di dalam box bayi.
"Ya, apa Divan senang memiliki adik, Nak?" Tanya Hanum lembut.
***
Sebelum lanjut, jangan lupa berikan vote, like, point, dan komennya dulu, ya.
Sambil menunggu Dio dan Hanum update, silahkan mampir di novel shy yang lagi on going juga berjudul Noda Menjadi yang Kedua, ya🖤
Dan jangan lupa follow IG shy @shy1210_ 🤗
__ADS_1