
"Mama, bagaimana ini. Rasanya Cita sangat malu sekali mereka mengetahui pekerjaan baru kita saat ini!" Ucap Cita setelah Mama Jelita kembali ke dapur.
"Mama juga merasa malu Cita. Tapi mau bagaimana lagi? Mereka sudah melihat profesi kita saat ini dan kita tidak bisa menutupinya." Jawab Mama Jelita.
"Apa Richard sengaja membawa mereka datang ke sini untuk mempermalukan kita?" Gerutu Cita.
Mama Jelita menghela nafas. Ia pun juga tidak tahu apakah maksud dari majikannya itu membawa anak tiri dan mantan suaminya datang ke rumahnya.
"Hanum pasti merasa senang melihat kondisi kita sekarang!" Ucap Cita yang masih saja berpikiran buruk pada adik tirinya itu.
"Jangan berbicara yang macam-macam. Sejak dulu dia sepertinya tidak bersikap buruk seperti itu." Jawab Mama Jelita. Walau tidak suka pada mantan anak tirinya itu namun Mama Jelita tidak bisa menyangkal jika Hanum tidak memiliki sikap buruk seperti apa yang Cita katakan.
"Kenapa Mama jadi membela dia? Harusnya Mama kesal kepada dia karena dia pasti sedang menertawakan kita sekarang!" Gerutu Cita
"Cita, kau ini..." perkataan Mama Jelita terhenti saat mendengarkan suara deheman dari ambang pintu dapur.
"Ehm." Suara deheman itu berasal dari Digo yang entah kapan sudah berdiri di ambang pintu dapur.
__ADS_1
"Tuan Digo." Ucap Mama Jelita sedangkan Cita hanya diam saja.
"Apa kalian sedang menceritakan iparku dari belakang?" Tanya Digo dengan wajah datarnya.
"Ka-kami..." Mama Jelita bingung harus menjawab apa.
"Kami apa? Kami menceritakan Hanum dari belakang begitu?" Tanya Digo ketus.
Mama Jelita menunduk dengan kedua tangan yang saling bertaut.
"Ck, ck, ck." Digo mendecakkan lidah.
Mama Jelita dan Cita terdiam.
"Dari pada kalian sibuk menceritakan iparku dari belakang lebih baik sekarang kalian mempersiapkan makan siang untuk kami. Tapi ingat, di dapur ini dilengkapo CCTV dari segala arah. Apa saja yang kalian lakukan dan kalian katakan akan terdengar oleh telinga dan mata kami." Tekan Digo mengingatkan dua wanita ular di depannya saat ini.
Mama Jelita dan Cita hampir saja melupakannya. Bisa-bisanya mereka tanpa beban menceritakan Hanum dari belakang tanpa sadar jika ada kamera yang selalu mengawasi mereka.
__ADS_1
Setelah memberikan peringatan pada mereka. Digo memutar tubuhnya dan kembali ke ruang tengah untuk berkumpul lagi dengan yang lainnya.
"Bagaimana?" Tanya Richard penuh maksud pada Digo.
Digo mengacungkan jari jempolnya pada Richard tanda pekerjaannya sudah selesai ia kerjakan.
"Bagus." Jawab Richard dan diangguki Digo sebagai jawaban.
Hanum yang melihat interaksi mereka sekali lagi dibuat bingung karena tidak mengerti apa maksud pembicaraan mereka saat ini.
Mama Jelita yang masih berada di dapur segera melakukan pekerjaannya dengan baik yaitu memasakkan makan siang untuk mereka. Sedangkan Cita ia pergi ke kamar mereka berada untuk mengistirahatkan tubuhnya yang lelah.
"Huh, ini sungguh memalukan. Sampai kapan aku dan Mama akan menjadi pembantu di rumah ini? Jika begini terus akan lebih banyak orang yang tahu jika kami saat ini bekerja sebagai pembantu!" Gerutu Cita merasa kesal. Jika saat ini Hanum dan Papa tirinya yang diundang Richard datang ke rumahnya, tidak tahu lagi untuk hari berikutnya siapakah orang yang akan diundang Richard datang ke rumahnya.
***
Sebelum lanjut, jangan lupa berikan vote, like, point, dan komennya dulu, ya.
__ADS_1
Sambil menunggu Dio dan Hanum update, silahkan mampir di novel shy yang lagi on going juga berjudul Noda Menjadi yang Kedua, ya🖤
Dan jangan lupa follow IG shy @shy1210_ 🤗