
Hanum terus menatap telefon yang sedang berdering di tangannya tanpa berniat mengangkatnya. Ia masih merasa ragu apakah harus mengangkatnya atau tidak mengingat ia tidak menyimpan nomer itu.
"Jangan-jangan ini nomer orang iseng seperti kemarin lagi." Ucap Hanum setelah cukup lama berpikir. Hanum pun memilih mengabaikan telefon itu dan meletakkan kembali ponselnya di atas lantai.
Hingga sampai deringan ketiga kalinya Hanum tak juga mau mengangkatnya karena perasaannya semakin yakin jika yang menelefonnya saat ini adalah orang asing yang berniat mengerjainya seperti beberapa waktu lalu.
Sementara si penelefon yang diabaikan oleh Hanum begitu saja nampak menggeram sampai menggenggam erat ponsel di tangannya.
"Sial, berani sekali dia mengabaikan telefon dariku." Geram orang itu yang tak lain adalah Dio. Niatnya yang tadi ingin menanyakan apakah Hanum dan Divan sudah sampai atau belum akhirnya sia-sia karena Hanum tak kunjung mengangkat telefon darinya.
"Apa saat ini dia sedang asik bersama dengan pria itu?" Tanya Dio tertuju pada Alfin.
Dio mencoba menjernihkan pikirannya dengan menduga hal lain jika saat ini Hanum masih berada di dalam perjalanan dan tidak melihat ponselnya. Dio pun berniat menunggu Hanum menelefon balik dirinya hingga satu jam kemudian.
Namun satu jam telah berlalu bahkan kini sudah hampir dua jam lamanya setelah ia melakukan panggilan telefon, Hanum tak juga menelefon balik dirinya. Perasaan kesal kembali Dio rasakan karena untuk pertama kalinya diabaikan oleh seorang wanita begitu saja selain Calista.
__ADS_1
"Apa dia sedang tidak ingin diganggu karena sedang bersama dengan pria itu?" Tanya Dio berpikiran buruk.
Banyaknya pemikiran buruk yang terus berkelebat di dalam benaknya membuat Dio merasa tidak tenang berada di dalam apartemennya.
"Mama bilang jika aku harus mulai belajar memperhatikan dirinya. Sekarang aku sudah mulai belajar mengikuti perkataan Mama justru dia mengabaikanku begitu saja!" Dio mengepalkan sebelah tangannya dan meninju udara.
Karena perasaannya semakin tidak tenang memikirkan hal buruk tentang Hanum, Dio pun memilih meninggalkan apartemen dan berniat menghampiri Marvel ke kediamannya. Saat ini hanya sahabatnyalah yang dapat mencari solusi atas permasalahannya saat ini.
Selama berada di dalam perjalanan menuju kediaman Marvel, Dio tak henti mengumpat para pengendara yang menghalangi jalannya karena ia sudah tidak sabar untuk sampai di kediaman Marvel.
"Menyingkirlah atau..." Dio menghentikan perkataannya saat mengingat ia tidak mungkin melakukan apa yang ingin ia katakan selanjutnya.
"Dio?" Windi yang membukakan pintu untuk Dio dibuat terkejut melihat kedatangan Dio ke rumahnya siang-siang seperti ini.
"Hai, Windi. Apa Marvel ada?" Tanya Dio.
__ADS_1
"Ada. Marvel sedang bermain bersama Arthur di ruang tengah." Jawab Windi.
"Baiklah. Bolehkah aku masuk?" Tanya Dio karena Windi berdiri menghalangi jalannya.
"Oh ya, silahkan masuk." Windi pun menggeserkan tubuhnya dan membiarkan Dio berjalan mendahuluinya. "Tumben sekali dia datang siang-siang begini." Ucap Windi sambil menatap punggung Dio.
Marvel yang sedang asik bermain game bersama Arthur dibuat terkejut saat remot di tangannya diambil begitu saja oleh Dio.
"Kau...!!" Pekik Marvel pada Dio yang menatapnya dengan wajah datar saat ini.
"Hentikan permainanmu. Aku membutuhkan bantuanmu saat ini." Ucap Dio enteng tanpa merasa bersalah.
***
Lanjut? Jangan lupa berikan vote, like, point, dan komennya dulu, ya.
__ADS_1
Sambil menunggu Dio dan Hanum update, silahkan mampir di novel shay yang lagi on going juga berjudul One Night Love Tragedy, ya🖤
Dan jangan lupa follow IG shy @shy1210_ 🤗