
Dio tentu saja mengingat prinsip hidupnya saat ini. Ia bukannya berniat berpaling hati dari Hanum pada Calista. Saat ini ia hanya merasa terkejut dengan kepulangan mantan kekasihnya itu secara tiba-tiba. Baru saja beberapa waktu lalu ia berniat menjumpai mantan kekasih ke luar negeri kini ia sudah dikejutkan dengan kepulangan mantan kekasihnya itu.
Selama berada di dalam perjalanan menuju perusahaan Mahesa, Dio terus berpikir bagaimana caranya agar Calista tak menemuinya dalam waktu dekat. Untuk saat ini ia hanya ingin fokus dengan kebahagiaan Hanum bersama ayah kandungnya bukan mengurus permasalahan cintanya yang belum selesai.
"Hanum, maafkan aku karena harus memikirkannya saat ini. Namun percayalah jika aku tidak akan berpaling hati darimu." Ucap Dio sambil mengingat wajah cantik istrinya.
Sudah begitu banyak ujian yang datang dan mereka lewati selama hampir satu tahun pernikahan. Dan Dio tidak mungkin menyia-nyiakan kebaikan dan ketulusan istrinya begitu saja karena kedatangan masa lalunya.
"Calista, kau adalah wanita masa laluku. Dan Hanum, istriku, kau adalah pelabuhan terakhirku." Ucap Dio.
Mobil milik Dio terus melaju dengan kecepatan sedang membelah jalanan yang tidak terlalu padat pagi itu karena saat ini sudah memasuki jam masuk bekerja dan berarti sudah tidak banyak lagi kendaraan pekerja dan anak sekolah yang melintas di jalan raya.
Dua puluh menit berlalu, mobil sport milik Dio pun akhirnya sampai di perusahaan Mahesa. Dio segera turun dari dalam mobilnya dan melangkah ke arah pintu utama masuk perusahaan.
__ADS_1
Di lobby perusahaan, Dio tak sengaja bertemu dengan mertuanya yang baru saja selesai menemui seorang resepsionis.
"Dio, kau baru sampai, Nak?" Tanya Papa Irfan.
"Ya, Pa. Tadi ada sedikit urusan di luar perusahaan yang harus Dio kerjakan dulu." Jawab Dio.
Papa Irfan mengangguk paham. Karena masih ada pekerjaan mendesak yang harus ia selesaikan, akhirnya Papa Irfan pun berpamitan untuk kembali ke ruangan kerjanya.
"Ingat, jangan terlalu kelelahan, Pah." Dio mengingatkan mertuanya itu sebelum masuk ke dalam lift.
Sebenarnya Dio sudah memberikan toleransi pada Papa Irfan untuk tidak masuk bekerja lebih dulu dan beristirahat di rumah saja. Namun Papa Irfan menolak dengan alasan ia sudah merasa segar dan sehat dan siap untuk bekerja.
Dio menatap kepergian mertuanya itu dengan senyuman di wajahnya. Ia merasa salut pada mertuanya itu yang selalu bersemangat untuk bekerja dan memberikan hasil pekerjaan terbaik untuk perusahaannya.
__ADS_1
Ting
Pintu lift khusus petinggi perusahaan terbuka, Dio segera masuk ke dalam lift dan menekan tombol lantai teratas berada.
Hari itu Dio tidak merasakan firasat buruk apapun pada dirinya. Pria itu langsung fokus untuk bekerja setelah masuk ke dalam ruangan kerjanya.
Sedangkan di tempat berbeda, Calista yang sudah tidak sabar bertemu dengan kekasihnya kini sudah berada di dalam perjalanan menunu cafe milik Dio. "Semoga saja dia ada di cafe pusat saat ini." Ucap Calista penuh harap.
Setibanya di Cafe milik Dio, Calista segera turun dari dalam mobil dan melangkah dengan anggun masuk ke dalam cafe. Suasana di cafe pagi itu nampak sepi karena belum waktunya cafe untuk buka dan hanya ada para pekerja yang sedang membersihkan meja cafe.
***
Sebelum lanjut, jangan lupa berikan vote, like, point, dan komennya dulu, ya.
__ADS_1
Sambil menunggu Dio dan Hanum update, silahkan mampir di novel shy yang lagi on going juga berjudul Noda Menjadi yang Kedua, ya🖤
Dan jangan lupa follow IG shy @shy1210_ 🤗