
Siang itu di saat Hanum tengah menikmati makan siang seorang diri di kantin perusahaan Mahesa, Hanum dikejutkan dengan kedatangan seorang pria yang sebentar lagi akan berstatus menjadi suaminya.
"Tuan Dio?" Sapa Hanum ramah pada Dio.
Dio hanya menatap datar pada Hanum tanpa menjawab sapaan Hanum. Ia duduk di kursi yang berhadapan dengan Hanum dan menatap wanita itu tanpa meminta izin lebih dulu. Hanum pun membiarkan Dio bersikap sesuka hatinya.
"Maaf, ada apa anda datang menghampiri saya, Tuan?" Tanya Hanum.
"Saya datang karena saya ingin menanyakan maksudmu yang mau saja menerima permintaan Mama saya untuk menikah dengan saya." Jawab Dio tanpa basa-basi.
Hanum masih memasang wajah tenang seolah pertanyaan Dio tidak berefek apa-apa untuknya.
Dio diam sambil menunggu wanita di depannya saat ini menjawab pertanyaannya. Namun bukannya langsung menjawab, Hanum justru memilih tersenyum sejenak pada Dio.
__ADS_1
"Tidak ada alasan yang membuat saya bisa menolak permintaan Bu Shanty, Tuan." Jawab Hanum.
"Apa kau menerimanya karena uang?" Selidik Dio.
Hanum seketika menggeleng. "Saya masih bisa bekerja jika saya membutuhkan uang." Jawab Hanum cepat.
Dio tertegun mendengarnya namun ia tidak percaya begitu saja. "Jika kau menerima pernikahan hanya karena menginginkan imbalan uang maka saya bisa memberikannya langsung kepadamu saat ini juga." Tekan Dio.
Hanum berusaha mengontrol dirinya agar tidak terbawa emosi dengan perkataan pria di depannya saat ini. "Sekali lagi saya katakan jika saya tidak menginginkan imbalan uang seperti apa yang Tuan katakan." Hanum balik menekan perkataannya.
"Terserah Tuan ingin berpendapat apa tentang saya. Yang jelas saya tidak membenarkan perkataan Tuan tersebut karena saya masih bisa menggunakan tenaga dan otak saya untuk bekerja. Saya masih bisa menghidupi anak saya dengan kerja keras saya sendiri tanpa meminta-minta." Jawab Hanum. Untung saja selama ini ia sudah memiliki bekal untuk menjadi wanita tangguh hingga menghadapi pria seperti Dio tidak membuatnya takut.
Dio hanya bisa menahan rasa geram di dalam hatinya. Tidak tahu bagaimana lagi caranya ia agar bisa menghentikan niat Hanum untuk menikah dengannya karena wanita itu terlihat benar-benar tidak ingin menerima uang darinya.
__ADS_1
"Apa masih ada lagi yang ingin anda tanyakan, Tuan?" Tanya Hanum.
Dio memasang wajah sebal. "Kau mengusirku?" Ketusnya.
Hanum menggeleng. "Saya hanya bertanya, Tuan." Jawab Hanum.
"Ck. Harus kau ingat jika saya sama sekali tidak menginginkan rencana pernikahan itu." Tekan Dio.
Hanum tertegun mendengarnya. Walau ia sudah bisa menebak perasaan Dio saat bertemu dengannya malam itu namun Hanum tetap saja merasa tersentil mendengar Dio yang berstatus sebagai calon suaminya dengan terang-terangan mengatakan tidak menerima dengan tulus rencana pernikahan mereka.
"Apa Tuan tidak menerimanya karena saya memiliki seorang anak dan status saya yang bukan lagi seorang gadis?" Tanya Hanum tersenyum kecut.
"Bukan hanya itu saja, karena sejujurnya saya masih memiliki seorang kekasih. Hanya kekasih sayalah yang saya mau untuk menjadi istri saya." Jawab Dio tanpa memikirkan perasaan Hanum.
__ADS_1
"Mungkin takdir tidak membawa Tuan berjodoh dengannya melainkan berjodoh dengan saya." Jawab Hanum masih tetap tenang.
***