
Malam harinya, Bu Shanty dan Tuan Mahesa nampak sudah rapi dengan pakaian formal mereka begitu pun dengan Nenek Eno dan Digo.
"Digo, ayo cepat panggil Kakakmu ke kamarnya. Sudah saatnya kita berangkat." Ucap Bu Shanty pada anak bungsunya.
Digo mengangguk lalu menaiki tangga menuju kamar Kakaknya berada. Saat sudah berada di dekat kamar Dio, Digo menghentikan langkahnya karena melihat Dio keluar dari dalam kamarnya.
"Akhirnya Kakak keluar juga." Ucap Digo.
"Ada apa?" Tanya Dio.
"Mama bilang sudah saatnya kita berangkat." Jawab Digo.
Dio mengangguk paham lalu melangkah melewati Dio begitu saja.
"Aku rasa Kakak tidak menyukai calon istrinya saat ini. Terlihat jelas sekali wajah Kakak selalu masam sejak sampai tadi." Ucap Digo sambil menggelengkan kepalanya.
Digo pun kemudian melangkah mengikuti Dio menuruni tangga rumahnya. Setelah berada di lantai bawah, Bu Shanty pun dengan cepat mengajak kedua putranya untuk keluar karena kini Tuan Mahesa dan Nenek Eno sudah menunggu mereka di dalam mobil.
"Ck. Kenapa Mama terlihat semangat sekali." Gerutu Dio pelan sambil melangkah.
Dua puluh menit kemudian, Bu Shanty beserta keluarganya telah tiba di parkiran apartemen tempat tinggal Hanum.
__ADS_1
"Dia tinggal di sini?" Tanya Dio pada Bu Shanty.
Bu Shanty menganggukkan kepalanya dan meminta Dio dan Digo untuk segera keluar dari dalam mobil.
Dio dan Digo pun menurutinya.
"Digo, tolong bawa buah tangan ini." Ucap Bu Shanty menyerahkan parcel pada Digo.
Digo menurut saja dan menerimanya. Bu Shanty pun turut mengeluarkan buah tangan yang lain dan menyerahkannya pada Tuan Mahesa.
"Sudah, ayo kita masuk." Ajak Bu Shanty.
Semua orang kecuali Dio mengiyakannya lalu melangkah masuk ke dalam apartemen.
"Benar. Kakak iparmu tinggal di sini." Jawab Bu Shanty.
Digo mengangguk saja dan tak lagi banyak tanya.
Mereka pun terus melangkah dan memasuki lift hingga akhirnya sampai di depan apartemen milik Hanum.
Dio yang diminta untuk memencet bel apartemen pun segera menekannya. Tak menunggu lama, pintu apartemen pun nampak terbuka dari dalam dan memperlihatkan seorang wanita cantik kini tengah berdiri seraya tersenyum menyambut kedatangan mereka.
__ADS_1
"Bu Shanty, Nenek, Om, kalian sudah datang." Sapa Hanum ramah.
Bu Shanty mengangguk seraya tersenyum diikuti Tuan Mahesa dan Nenek Eno. Sedangkan Digo nampak tertegun melihat betapa cantiknya wanita yang berdiri di depannya saat ini.
Bukankah wanita ini wanita yang kemarin Mama minta mengantarkanku berkeliling perusahaan? Tanya Dio dalam hati.
"Ayo silahkan masuk dulu." Ajak Hanum setelah mengambil buah tangan yang diserahkan Bu Shanty kepadanya.
Mereka pun mengangguk mengiyakan ajakan Hanum. Saat sudah berada di dalam apartemen, Dio dan Digo dibuat terkejut saat melihat seorang anak laki-laki datang menghampiri Hanum dan kini tengah memegang tangan Hanum.
"Mamah, siapa Oom nih? Teman Mamah ini?" Tanya Divan sambil menatap Dio dan Digo secara bergantian.
Hanum tersenyum seraya mengusap kepala Divan. Sedangkan Dio dan Digo nampak terkejut mendengar panggilan Divan pada Hanum.
"Mamah?" Ucap Digo dan Dio secara bersamaan.
Hanum hanya tersenyum kaku mendengar perkataan Dio dan Digo.
"Jangan terkejut begitu. Divan ini adalah anak laki-laki, Hanum." Ucap Bu Shanty pada kedua putranya.
"Apa?!"
__ADS_1
***