
Calista sudah berada di dalam kamarnya. Wanita itu nampak memasang wajah sebal mengingat perkataan orang tuanya yang memintanya mengakhiri hubungan dengan Dio. "Mom dan Dad itu kenapa? Kenapa mereka aneh sekali memintaku berpisah dengan Dio? Bukankah selama ini mereka terlihat setuju saja dengan hubungan kami?" Calista dibuat tak habis pikir dengan jalan pemikiran kedua orang tuanya.
Tujuh tahun bukanlah waktu yang mudah bagi Calista dan Dio bertahan menjalani hubungan asmara mereka. Dan kini kedua orang tuanya seolah mendesak agar dirinya berpisah dengan Dio bukan mendesak untuk menikah. Tentu saja desakan itu membuat Calista menjadi bingung dan sebal.
"Dio... begitu banyak hal yang ingin aku ceritakan kepadamu." Gumam Calista.
Calista pun melangkah dengan lunglai ke arah ranjangnya berada dan menjatuhkan tubuhnya di sana. Perjalanan mengudara dari luar negeri ke ibu kota sudah cukup membuatnya lelah ditambah lagi perkataan kedua orang tuanya yang membuatnya semakin lelah.
"Lebih baik aku tidur saja." Ucap Calista tak ingin kepalanya jadi sakit memikirkan perkataan kedua orang tuanya.
*
Satu minggu sudah Papa Irfan keluar dari rumah sakit. Dan selama itu pula Hanum dan Dio masih menginap di rumah Papa Irfan. Dio benar-benar memberikan kesempatan pada istrinya itu untuk dekat kembali dengan ayah kandungnya. Dio bahkan tidak berniat mempertanyakan kapan istrinya itu mau kembali tinggal di apartemen miliknya.
"Benar tidak apa-apa kalau kita tinggal di sini dulu?" Tanya Hanum pada Dio saat mereka baru saja masuk ke dalam kamar setelah selesai makan malam bersama.
"Tak apa. Kenapa kau bertanya seperti itu? Sampai kapan pun kau mau tinggal di sini aku tidak mempermasalahkannya." Jawab Dio.
__ADS_1
"Tapi aku takut kau merasa tak nyaman." Ucap Hanum jujur.
Dio menghela nafas. "Kau tenang saja. Aku tidak merasakan hal itu. Aku justru senang melihatmu bisa berkumpul lagi dengan ayah kandungmu." Tutur Dio.
Hanum tersenyum haru mendengarnya. Ia pun memeluk Dio barang sejenak.
"Kau sudah berani memelukku ya." Ucap Dio dengan nada menggoda.
"Ti-tidak. Itu hanya sebagai ucapan terima kasihku kepadamu." Ucap Hanum cepat.
Hanum pun sontak memundurkan tubuhnya agar tak bisa digapai oleh suaminya. Namun bukan Dio namanya jika membiarkan Hanum pergi begitu saja dari jangkauannya.
"Karena kau sudah berani memeluk dan menggodaku maka kau harus mendapatkan hukuman malam ini!" Ucap Dio.
Bulu kuduk Hanum seketika berdiri mendengarnya. Ia sudah dapat membayangkan hukuman seperti apa yang dimaksud oleh suaminya itu.
"Tidak. Kau tidak boleh menghukumku karena kita sedang berada di rumah Papa saat ini." Hanum mencoba memberi alasan untuk mengurungkan niat suaminya yang ingin menghukumnya.
__ADS_1
"Lalu kalau di rumah Papa kenapa? Aku menghukummu di dalam kamar bukan di depan Papa." Jawab Dio.
"Tapi—" perkataan Hanum terhenti karena Dio sudah dengan cepat membekap mulutnya dengan sebuah ciuman.
Hanum yang mendapatkan serangan mendadak menjadi tidak bisa menyeimbangkan tubuhnya hingga terjatuh di atas kasur. Tentu saja kesempatan itu digunakan Dio dengan baik untuk segera memulai menghukum istrinya itu.
Namun belum sempat Dio memulai kegiatan intinya, Dio mengurungkan niatnya sejenak saat mendengar suara deringan khusus panggilan telefon dari ponselnya.
"Kevin? Untuk apa dia menelefon malam-malam begini?" Ucap Dio.
***
Sebelum lanjut, jangan lupa berikan vote, like, point, dan komennya dulu, ya.
Sambil menunggu Dio dan Hanum update, silahkan mampir di novel shy yang lagi on going juga berjudul Noda Menjadi yang Kedua, ya🖤
Dan jangan lupa follow IG shy @shy1210_ 🤗
__ADS_1