Mr. Mafia & His Little Maid

Mr. Mafia & His Little Maid
Berusaha Kabur Part 2


__ADS_3

Nara yang ketahuan lari dengan tanpa melihat arah, dia asal lari saja mencari jalan di rumah itu hingga dia tidak melihat berlari ke arah luar yang dikira dia pintu keluar ternyata--


"To-long!" Suara Nara berikutnya tidak terdengar jelas.


Nara tercebur ke dalam kolam renang. Pengawal yang tadi mengejarnya tampak kaget.


"Tuan, gadis itu--."


Jaden yang memang kamarnya dekat dengan kolam renang dan ada pintu besar terhubung ke arah kolam tampak santai melihat Nara yang sedang kesusahan mencoba mengangkat tubuhnya agar naik ke permukaan.


"Gadis bodoh! Dia pikir dia bisa keluar dari rumahku tanpa seizinku." Jaden malah tersenyum miring.


Beberapa detik kemudian Jaden ternyata masuk ke dalam kolam dan dia menarik tubuh Nara. Nara yang masih sadar langsung mengalungkan kedua tangannya pada leher Jaden. Tangan Jaden memegang pinggang Nara, dan kedua pasang mata itu pun tampak saling bertemu.


"To-long," ucap Nara terbata.


"Bagaimana rasanya dekat dengan kematian? Itu yang akan kamu rasakan jika berani kabur dari rumahku."


Nara tidak berani berkata apa-apa lagi, dia masih merasakan napasnya yang agak sesak. Jaden segera menggendong tubuh Nara dan membawanya ke dalam kamarnya karena lebih dekat.

__ADS_1


"Kamu siapa?" tanya Nara yang masih ada pada gendongan Jaden.


Jaden tidak menjawab malah dia melepaskan tangannya yang menopang tubuh Nara hingga Nara jatuh dengan agak keras di lantai.


"Aduh! Sakit! Kamu kasar sekali." Nara merasakan pinggangnya yang terbentur lantai


"Cepat kembali ke kamar kamu, dan ganti baju kamu. Aku tidak mau kamu sampai sakit. Menyusahkan!" ucapnya ketus.


"Kalau aku menyusahkan kamu, kenapa kamu menculikku? Kembalikan aku pulang karena aku mau pulang."


Jaden yang sedang mengeringkan rambutnya dengan handuk menoleh ke belakang di mana Nara tengah berdiri menatapnya tajam.


Jaden memindai Nara dari atas sampai bawah. Ada hal yang membuat Jaden tertarik melihat Nara. "Bagus juga tubuh kamu," ucap Jaden yang tentu saja membuat Nara mendelik.


Siapa juga yang mengganti dalaman Nara menjadi warna hitam, mana ada rendanya pula? Nara benar-benar tampak malu.


Jaden perlahan mendekat ke arah Nara yang masih erat menyilangkan tangannya.


"Sekarang aku tau apa yang bisa aku lakukan agar kamu bermanfaat untukku," ucapnya.

__ADS_1


"Apa maksud kamu?"


"Buka bajumu," ucapnya cepat.


"Apa?" Nara langsung mendelik mendengar apa yang baru saja diucapkan oleh Jaden.


"Kamu tidak tuli, Kan?"


"Tentu saja aku tidak tuli! Hanya saja aku ingin meyakinkan jika apa yang aku dengar tidak salah."


"Menurut kamu? Apa kamu salah mendengar?"


"Sebenarnya apa yang kamu inginkan dengan menculikku? Aku hanya anak yatim piatu yang hidup dengan paman dan bibiku yang hidupnya pun jauh dari kata mampu. Kalaupun kamu meminta tebusan pada mereka. Mereka tidak akan menebusku," ucapnya lirih.


Jaden memperhatikan Nara yang menunduk. "Kenapa mereka tidak akan menebusmu? Memangnya kamu tidak berarti untuk mereka?"


Nara mengangkat kepalanya menatap Jaden dengan tatapan nanar. "Mereka tidak punya uang, jadi mereka tidak akan menebusku."


"Apa kamu yakin karena itu?"

__ADS_1


"Apa maksud kamu?" Kedua alis Nara mengkerut.


"Mereka tidak akan menebusmu, bahkan mereka tidak akan mencarimu karena kamu sudah dijual oleh paman kamu padaku, dan aku sudah membayar mahal akan diri kamu." Jaden mengatakan dengan tegas dan mendekatkan wajahnya pada Nara yang sekali lagi membulatkan kedua matanya.


__ADS_2