Mr. Mafia & His Little Maid

Mr. Mafia & His Little Maid
Sebuah Kebenaran part 1


__ADS_3

Dimas memutuskan untuk kembali ke kota di mana dia saat ini sedang bekerja. Dia akan fokus saja bekerja dan benar- benar melupakan Denna, walaupun dia harus berperang dengan batinnya.


"Denna, aku hari ini senang sekali!" serunya bahagia.


"Bahagia kenapa?"


Denna dan V sedang berada di sebuah cafe untuk janjian makan siang.


"Lihat ini." V menunjukkan sebuah undangan pernikahan dengan tertulis nama Dimas dan Mitha di sana.


"Kakak kamu akan menikah?"


"Iya, benar apa kataku jika Dimas memang serius dengan Mitha. Aku senang akhirnya kakakku menemukan cinta sejati sesungguhnya dan setelah ini dia akan ada yang mengurusnya."


Denna mencoba mengatur hatinya yang sekarang hancur seperti puzzle mainan yang tidak teratur.


"Iya, semoga mereka akan bahagia."


"Denna, setelah lulus aku akan langsung melamar kamu dan kita akan secepatnya menikah." V tersenyum dan tangannya mengusap lembut pipi Denna.


Denna hanya membalas V dengan anggukan beberapa kali. Denna sadar jika semua apa yang dia rasakan pada Dimas memang bertepuk sebelah tangan.


Denna melihat ada cinta yang benar tulus dihadapannya yang tidak boleh dia abaikan.


Denna pun akhirnya memutuskan dia akan tetap memilih V karena pria itu sangat baik dan tidak pantas Denna sakiti.


Beberapa tahun berlalu dengan kenangan yang masih tersimpan rapi pada diri Denna dan Dimas.


Dimas hari ini harus kembali ke kota di mana dia memiliki banyak kenangan indah di dalamnya. Dimas mendapat tugas melatih para bodyguard di sana. Kepala pimpinan di mana Dimas bekerja mempercayakan Dimas menjadi pelatih di setiap lembaga yang dia pimpin. Cara kerja Dimas sebagai pelatih para bodyguard itu sangat baik.

__ADS_1


"Aku akan melihat keadaan V di rumah, tapi aku tidak tau apa V masih mau tinggal di rumah kita atau tidak?"


Dimas memutuskan pergi ke rumahnya, tapi saat di depan teras rumahnya dia melihat ada mobil mewah di sana.


Dimas ingin tau siapa yang ada di rumahnya. Dia mematikan motornya dan mendengar suara tawa dari dalam rumah itu.


"Setelah kamu menikah dengan putri Jaden Luther itu. Buat dia hidup menderita bersama kamu. Jaden harus menangis darah, bahkan si tua Miranti itu."


"Apa? Apa maksud mereka?"


"Vero, nenek senang kamu mau membalaskan dendam kami pada kakak angkat ayah kamu yang sangat kejam itu."


"Aku juga tidak terima dengan semua yang sudah mereka lakukan padaku dan keluargaku. Hidupku menderita karena mereka, maka akan aku buat putri kesayangan mereka menderita."


"Keterlaluan kamu, V!" seru Dimas "Aku sudah membiarkan kamu mendekati Denna karena aku kira kamu mencintainya, tapi ternyata kamu hanya ingin balas dendam."


"Kamu kenapa bisa ada di sini?"


"Orang asing? Kita ini kakek dan nenek Vero. Kamu itu yang orang asing. Kamu bahkan tidak ada hubungan darah dengan cucuku," ucap nenek Vero.


"Cucu? Cucu yang mana? Kalian bahkan tidak mengakui V adalah cucu kalian. Kalian usir ibu Renata saat ibu Renata menemui kalian, dan sekarang kalian mau mengklaim V adalah cucu kalian. Menjijikan."


"Dengar kamu anak ingusan!" Carlos seketika mencengkeram kra baju Dimas dengan kasar. Dimas masih diam saja. "Jaga bicara kamu! Kami tidak pernah mengusir Renata. Dia yang memilih menghilang sendiri."


"Ibu Renata yang mengatakan sendiri, bahkan aku melihat kesedihan di wajahnya saat dia pulang setelah mendengar cacian dan hinaan kalian. Kalian juga tidak mau merawat V karena tidak mau mengakui V cucu kalian. Ibu Renata menemui kalian karena dia tau hidupnya tidak lama lagi, dia ingin V bisa hidup dari dengan keluarga ayahnya yang pastinya berasal dari keluarga mampu, tapi kenyataan pahit yang dia dapatkan."


"Cukup! Jangan berkata yang tidak benar lagi."


Sebuah tonjokan melayang dan Dimas tersungkur di lantai. V yang melihatnya hanya terdiam.

__ADS_1


"Semua hal yang menimpa Vero dan Renata itu karena ulah kakak angkatnya. Andai Jaden tidak menjadi kakak angkat Jacob ayahnya Vero, semua ini tidak akan terjadi."


Dimas hanya tersenyum miring. Dia berdiri dari tempatnya dan menatap tajam pada Carlos


"Semua yang terjadi pada V karena ulah ayah dan ibu V sendiri. Hidup mereka diliputi oleh dengki dan iri. Semua aku ketahui dan Ibu Renata sendiri yang menceritakannya. Ayah V orang baik, tapi sayang dia berjalan di jalan yang salah. Apa lagi memiliki kedua orang tua seperti kalian yang mengarahkan pada kebencian."


"Apa maksud kamu, Kak? Kenapa kamu malah menjelekkan kedua orang tuaku? Orang tuaku hanya korban dari kerakusan akan harta yang diambil oleh kakak angkat ayahku. Dari sana aku juga bisa belajar akan berhati-hati dengan kakak angkatku."


"Aku tidak akan pernah menyakiti kamu, V. Meskipun kita tidak terlahir di rahim yang sama, bahkan tidak ada hubungan darah, aku rela memberikan nyawaku untuk kamu karena kamu adalah adikku." V terdiam di tempatnya.


"Pergi kamu dari sini! Kamu tidak tau apa yang benar-benar terjadi dengan keluargaku." Tangan nenek Vero menarik lengan Dimas agar pergi dari rumah itu.


"V, aku tidak akan membiarkan kamu membuat hidup Denna menderita. Aku akan mengatakan pada Denna siapa kamu sebenarnya."


Carlos dengan cepat menarik baju Dimas dan menyeretnya keluar dari rumah itu. Carlos segera menghubungi orang suruhannya untuk menghabisi Dimas sebelum Dimas mengatakan semuanya pada keluarga Jaden. Denna dan V rencananya akan bertunangan dulu, dan setelah lulus kuliah mereka akan menikah.


Dimas keluar dari rumah V dan secepatnya naik ke atas motornya. Ada sepasang mata dari tadi mengawasi apa yang ada di dalam rumah itu.


Dimas pergi menuju rumah Denna. Hari ini keluarga Denna berkumpul karena hari libur, mereka juga sedang membahas tentang pertunangan Denna dan V yang bulan depan akan dilangsungkan.


V yang melewati taman dekat rumah Denna tiba-tiba dihadang oleh mobil hitam besar dan beberapa orang dengan baju serba hitamnya turun. Dimas tau jika mereka pasti bukan orang-orang yang baik.


"Mau apa kalian?"


"Ikut kami, atau kamu mati."


"Kalian yang akan mati jika berurusan denganku."


Dimas yang sama sekali tidak ada rasa takut dengan para pria di depannya turun dan melepas jaket hitamnya.

__ADS_1


Satu lawan lima orang. Dimas bisa melumpuhkan mereka satu persatu. "Pergi kalian! Dan katakan pada orang yang menyuruh kalian untuk membunuhku untuk memikirkannya lagi."


"Dimas awas!" teriak seseorang dari arah belakang, pisau yang ingin menusuk Dimas berhasil di tangkis oleh Dimas dengan cepat.Tangan pengawal yang membawa pisau itu dipatahkan oleh Dimas.


__ADS_2