
Di dalam rumah, Leo tampak kebingungan mau menghubungi Tuannya karena memang dia tidak tau nomor Tuan Jadennya. Apa lagi Jaden sudah mengatakan bahwa dirinya tidak akan menghubungi Leo sampai tiga hari ke depan, dan nanti Jaden sendiri yang akan menghubunginya.
"Leo, kamu kenapa?" tanya wanita paruh baya yang sebenarnya juga sangat cemas dengan masalah ini. Walaupun hal seperti ini sudah biasa dengan kehidupan Jaden yang diisi dengan membunuh dan perdagangan senjata tajam, tapi Jaden bisa membuat semuanya tanpa jejak.
"Aku tidak bisa menghubungi Tuan Jaden, Nek." Leo menceritakan semua pesan Jaden.
"Leo, apa benar bukan cucuku yang melakukan semua ini?" Tatap mata sedih wanita yang adalah nenek Jaden itu.
"Bukan, Nek. Kalau Tuan Jaden ingin menghabisi Mona, aku orang pertama yang pasti akan mengetahui hal itu. Lagi pula Tuan Jaden sudah diperingatkan oleh Nara, jadi dia tidak akan melakukan hal itu."
"Iya, Nara juga sudah bilang padaku. Dia tidak memperbolehkan Jaden melukai Mona. Lalu, siapa yang melakukannya?"
"Pasti orang yang tau tentang hal yang terjadi beberapa hari ini yang menimpa Tuan Jaden."
"Apa Carlos? Dia pasti masih dendam karena Nara tidak jadi dengan Jacob?"
"Bisa saja, Nek, tapi apa Tuan Carlos tega sampai membunuh orang lain dan membuat Tuan Jaden mendapat tuduhan sekejam ini?"
"Dia bisa melakukan apa saja, Leo, apa lagi untuk Jacob."
"Aku harus menyuruh tuan Jaden pulang secepatnya agar dia tidak malah dicurigai terkait masalah ini."
"Kasihan mereka, mereka baru saja menikmati kebahagiaan lagi, tapi sekarang mereka akan di hadapkan oleh masalah lainnya.
"Nek, aku akan berusaha mencari tau juga tentang masalah ini karena pembunuh sebenarnya masih berada di luar."
***
"Sayang, kenapa kamu tidak mau masuk ke dalam air menemaniku? Apa kamu sudah kelelahan?" tanya Nara yang hanya memakai bikini dan berenang ke dalam danau kecil di dekat pondoknya.
Jaden berdiri tanpa kaos atasan menatap pada istrinya yang berada di dalam air menggerak-gerakkan kaki dan tangannya.
"Aku lebih senang memandangmu dari sini dengan bikini itu." Jaden meneguk segelas orange jusnya.
"Kamu senang memandangku dengan bikini ini? Apa kamu tidak ingin melihat apa yang ada di dalam bikini yang aku pakai?" tanya Nara sengaja menggoda suaminya.
Jaden memberikan senyum menggemaskan pada Nara. Dia tidak menyangka jika istrinya itu mulai berani menggodanya. "Jangan menggodaku, Nara, atau nanti malam kamu akan aku buat meminta ampun padaku."
__ADS_1
"Aku tidak takut dengan ancaman kamu, Tuan Jaden Luther," Nara menekankan setiap ucapannya.
"Aku suka dengan keberanian kamu, Nyonya Luther." Mereka berdua saling melempar senyuman.
Tiba-tiba dari luar terdengar suara kapal berhenti di depan pondok mereka. Tampak Kak Esme berjalan dengan tergesah-gesa mendekat pada Jaden dengan wajah yang cemas.
"Ada apa, Esme?"
"Ada masalah ditempat kamu." Esme menyerahkan ponsel miliknya pada Jaden.
Nara yang melihat hal itu seketika naik ke permukaan dan memakai handuk kimononya.
"Ada apa, Kak Esme?" Nara bertanya panik pada Jaden.
"Apa, Leo? Brengsek! Siapa yang sudah memfitnahku?" Jaden menggenggam erat kepalan tangannya.
"Sayang, ada apa?" Nara sekarang benar-benar di buat panik oleh sikap Jaden yang malah terdiam.
"Nara, kita pulang sekarang. Ada sesuatu yang terjadi." Jaden menatap Nara datar.
"Ada apa? Apa nenek baik-baik saja?" Jaden hanya terdiam menatap Nara. "Sayang, katakan ada apa? Jangan membuatku cemas!"
"Mona meninggal."
Deg
Kedua mata Nara membulat lebar mendengar apa yang baru saja dikatakan oleh suaminya.
"Mo-mona meninggal? Ke-kenapa bisa dia meninggal?" Seketika Nara terbata bertanya pada Jaden.
"Ada seseorang yang sengaja membunuhnya dengan menabrak Mona di jalanan."
"Sengaja membunuh Mona?" Kedua mata Nara yang tampak butiran air mata menatap heran pada Jaden.
"Jangan menatapku seperti itu, Nara. Aku bukan orang yang membunuh Mona, aku tidak melakukan apa-apa pada Mona."
Nara benar-benar bingung dengan semua ini. Apa benar jika bukan suaminya yang melakukan ini? Tapi siapa lagi yang dendam pada Mona selain suaminya yang sakit hati karena Mona penyebab dirinya kehilangan bayi mereka waktu itu.
__ADS_1
"Nara!" Tangan Jaden menggoyangkan tubuh Nara yang seolah melamun sesuatu.
Tangan Nara melepaskan tangan Jaden yang memegangnya. "Aku tidak tau harus berkata apa. Aku mau pulang sekarang."
Nara berjalan dengan cepat masuk ke dalam kamarnya. Jaden yang berdiri di tempatnya merasa kesal. Dia mengusap wajahnya dengan kasar.
"Siapa yang ingin mencari masalah denganku? Aku tidak akan melepaskan kamu jika aku sudah menemukan kamu."
Jaden dan Nara setelah membereskan semua barang-barangnya dan menitipkan cafe itu untuk Esme kelola mereka segera menuju di mana pesawat pribadi milik Jaden menunggu.
"Nara, percayalah pada hati kecilmu, dan percayalah dengan suami kamu karena dia adalah orang di dunia ini yang sangat mencintai kamu, dia tidak akan menyakiti kamu." Esme melihat pada Jaden.
Nara tidak menjawab, bahkan ekspresi Nara terlihat datar. Dia memeluk Kak Esme dan menangis.
"Kak, jaga diri Kakak baik-baik dan jaga juga Mario. Suatu hari nanti aku akan menemui Kakak Esme di sini."
"Aku akan menunggu kedatangan kalian dan anak-anak kalian nantinya."
Pesawat mereka take off. Di dalam pesawat Nara memilih duduk sendiri dan Jaden tau kenapa istrinya bersikap seperti itu.
Jaden masih berpikir siapa yang melakukan hal ini? Dan kenapa dia menuduh Jaden yang menyuruh melakukannya?
Perjalanan di dalam pesawat beda sekali dengan saat mereka berangkat. Kali ini perjalan mereka diliputi keheningan.
Nara benar-benar shock mendengar tentang kematian Mona yang begitu cepat. Meskipun Mona selalu jahat padanya dulu, tapi Nara bukan gadis yang kejam sampai mengharapkan kematiannya.
"Mona, kenapa kamu pergi begitu cepat?" Nara menangis dengan memeluk lututnya. Dia teringat dengan wajah Mona.
Malam di pesawat, Nara memilih tidur di bangku duduknya dengan menekuk tubuhnya.
Jaden yang melihatnya tidak tega dan menggendong tubuh Nara, dia membawa Nara ke dalam kamar tidur pribadinya.
"Aku akan membuktikan jika aku tidak melakukannya. Aku tidak mungkin melakukan hal yang membuat kamu bersedih, Nara."
Jaden membaringkan tubuh Nara dan dia tidur tepat di belakang Nara dengan memeluk Nara erat.
Keesokan harinya, Nara yang terbangun karena merasakan sesuatu yang menindih perutnya melihat ada tangan yang sangat dia kenali.
__ADS_1
"Jangan pernah meragukan aku, Nara. Aku sama sekali tidak ada hubungannya dengan kejadian yang terjadi pada Mona. Meskipun waktu itu aku ingin membunuhnya karena dia sudah jahat dengan kamu dan bayi kita, tapi aku masih bisa menahannya karena aku tau kamu tidak akan memaafkan aku jika aku melakukannya."