
Jaden tampak panik saat melihat ada darah yang keluar dari kaki Nara. "Leo, percepat jalannya! Ada darah yang keluar dari kaki Nara."
Leo yang juga dari tadi panik, terkejut mendengar apa yang dikatakan oleh Jaden, tapi dia tetap berusaha fokus agar dia dapat membawa Nara sampai ke rumah sakit dengan selamat.
Tidak lama mob mereka tepat di depan gedung rumah sakit. Jaden segera menggendong Nara yang pingsan masuk ke dalam. Dia berteriak memanggil beberapa perawat di sana.
"Ada apa ini?" tanya Stella yang ternyata berada di sana.
"Dok, aku tidak tau kenapa dengan Nara. Dia tadi terjatuh dari anak tangga dan sekarang keadaannya aku tidak tau. Apa lagi ada darah yang keluar dari kakinya," terang Jaden panik.
"Bawa Nara ke ruang perawatan sekarang, dan kamu tunggu di sini."
"Aku mau masuk, Dok! Aku akan menemani Nara," bentak Jaden.
"Tuan Jaden, tolong percaya padaku. Aku tidak bisa menangani Nara dan bayinya jika kamu seperti ini."
"Tuan, benar apa yang dikatakan oleh dokter. Kita menunggu di sini dulu." Leo mencoba menenangkan Jaden di sana.
Akhirnya Jaden mau menurut dan Nara dibawa masuk ke dalam ruang perawatan.
Jaden tampak gusar menunggu di depan ruangan di mana Nara sedang di tangani.
"Kenapa mereka lama sekali, Leo?" Jaden berkata dengan nada tinggi.
Leo tau jika Tuannya ini sedang gelisah menunggu dokter memeriksa Nara. Leo pun takut terjadi apa-apa pada Nara dan bayinya.
"Tuan Jaden tenang dulu. Berpikirlah jika Nara dan bayi Tuan Jaden baik-baik saja."
"Leo, sebenarnya apa yang terjadi?"
"Saya sendiri kurang tau karena waktu tiba di sana, saya melihat Nara terdorong oleh tubuh Renata sampai terguling di anak tangga dan saya langsung menangkapnya."
"Terdorong tubuh Renata?"
Tidak lama Nenek dan rombongan yang juga khawatir dengan keadaan Nara datang ke sana. Sosok wanita paruh baya itu melihat Jaden dan langsung memeluknya.
__ADS_1
"Jaden, bagaimana keadaan Nara?" tanya wanita paruh baya itu cemas.
"Aku tidak tau, Nek. Dokter Stella belum keluar dari memeriksa Nara."
"Semoga Nara baik-baik saja, aku merasa bersalah dengan kejadian yang menimpa Nara ini, Jaden." Renata tampak menangis.
"Apa maksud kamu, Renata?" tanya Nenek.
"Tadi aku bertengkar dengan seseorang dan tidak sengaja aku terdorong hingga menabrak tubuh Nara yang ada di anak tangga. Maafkan aku, Nek."
"Kenapa kamu ceroboh sekali, Renata?" bentak Jaden marah.
"Aku hanya kesal dengan orang itu yang menghina Nara. Dia mengatakan Nara hanya seorang pelayan kenapa bisa menikah dengan majikan jika tidak dia sudah menjual dirinya."
Tangan Jaden seketika mencengkeram tangan Renata. "Siapa yang mengatakan hal itu?"
"Jaden, kamu tenang dulu. Nanti saja kita urus masalah itu karena sekarang yang terpenting adalah Nara dan bayi kalian." Nenek Miranti memegang lengan tangan cucunya agar lebih tenang.
Tidak lama dokter keluar dari ruang di mana tadi Nara sedang di rawat dengan wajah yang Jaden tidak harapkan.
"Dengan berat hati saya harus mengatakan jika bayi dalam kandungan Nara tidak bisa saya selamatkan. Nara kehilangan bayinya." Stella sampai melipat kedua tangannya di depan Jaden.
Jaden langkahnya langsung gontai, dan dia hampir saja jatuh jika Leo tidak memeganginya.
"Cicitku." Air mata Miranti seketika menetes perlahan.
"Nek, Nenek harus kuat." Renata memeluk erat tubuh wanita tua itu.
Leo membantu Jaden duduk di bangku penunggu dan mencoba menenangkan Jaden yang tampak rahangnya mengeras menahan sesuatu yang ingin meledak, tapi dia sendiri tidak apa itu.
"Nara masih belum sadar setelah tadi aku beri obat penenang. Saya sudah melakukan hal terbaik untuk Nara dan bayi kalian, tapi takdir berkata lain. Berilah dukungan untuk istri kamu. Dia juga sangat shock dengan kehilangannya bayi kalian." Stella menepuk pundak Jaden beberapa kali lalu pergi dari sana.
"Jaden, aku minta maaf." Stella sampai bersimpuh di bawah kaki Jaden. Aku tidak tau jika sampai akan seperti ini."
Jaden tidak menjawab, dia berdiri dari tempatnya. Tidak lama Nara keluar dari ruangan untuk dipindah ke kamar di mana dia akan menginap beberapa hari di sana sampai keadaannya benar-benar pulih.
__ADS_1
Mereka yang di sana diminta agar tidak mengganggu Nara dulu.
"Nek, dan kalian semua pulanglah. Aku hanya ingin berdua dengan Nara di sini."
"Jaden, aku minta maaf." Renata masih tetap saja memohon maaf pada Jaden. Padahal itu juga bukan semata-mata kesalahan dia.
"Renata, kita pulang saja dan kalian semua sebaiknya kembali saja. Leo beritahu orang-orang jika pernikahannya ditunda dulu karena mempelai wanitanya sedang ada masalah dengan kesehatannya.
"Baik, Nek, saya akan urus semua."
"Renata, nanti saja kamu bicara dengan Jaden dan Nara. Untuk saat ini tidak baik jika kita membahas kenapa Nara bisa sampai kehilangan anaknya. Kita tinggalkan saja mereka berdua."
Jaden masih terdiam di tempatnya. "Sayang, bukan kamu saja yang merasa kehilangan bayi dalam perut Nara, tapi nenek dan Nara juga sangat kehilangan bayi itu. Jangan terlihat terlalu bersedih di depan Nara karena hal itu akan membuat Nara menjadi orang yang sangat bersalah atas kehilangan bayinya." Miranti menangis dalam pelukan Jaden.
Mereka semua pergi dari sana. Jaden berjalan menuju kamar di mana Nara di rawat dan dia berdiri menatap wajah Nara yang masih lelah tertidur karena pengaruh obat penenang. Ranjang Nara diatur seolah Nara sedang bersandar.
Jaden tidak tau apa yang harus dia bicara saat nanti Nara tersadar.
Tepat jam dua belas malam. Nara yang dari tadi tertidur mulai mengerjakan kedua matanya perlahan. Dia tampak mengedarkan matanya melihat di mana dia berada.
Manik matanya menangkap sosok pria yang tadi hampir saja menjadi suaminya jika kejadian itu tidak terjadi.
"Tuan JL," panggil Nara lirih pada sosok pria yang berdiri dengan bersidekap di depan jendela kaca besar ruangan Nara dirawat.
Tangan pria itu tampak mengusap pada kedua matanya. Entah dia habis menangis atau matanya kemasukan sesuatu.
"Kamu sudah bangun? Apa kamu mau sesuatu?"
Jaden berjalan mendekat pada Nara dan tangannya mengusap pada wajah lembut Nara.
"Aku tidak mau sesuatu. Aku hanya mau bayiku kembali, Tuan JL." Nara kembali menangis. Jaden yang melihat hal itu tidak berkata apa-apa. Dia memeluk Nara erat dan berbaring di samping Nara. Nara tampak mengeraskan tangisannya pada dada bidang Jaden.
Malam itu di ruangan itu hanya terdengar tangisan Nara yang membuat suasana ruangan itu sangat menyayat hati.
Jaden membiarkan Nara menangis sepuasnya sampai hatinya benar-benar lebih tenang. Andai Nara tau apa yang juga sedang Jaden rasakan?
__ADS_1