
Nara menjelaskan jika dia menyukai sosok Dimas yang sekarang tumbuh menjadi pemuda yang tampan dan baik.
"Kamu mau menjodohkan Denna sama Dimas? Kamu serius?" tanya Nenek meyakinkan.
"Bukan menjodohkan, Nek, tapi aku berharap kalau mereka saling menyukai kelak, aku tidak akan keberatan.
"Kamu tau siapa putri kamu. Dia anak yang tidak mudah menyukai seseorang. Apa lagi Denna itu anak yang tidak suka dijodoh-jodohkan."
"Nara tau kok, Nek. Nara juga hanya mengutarakan apa yang ada di hati Nara."
"Nenek juga senang sebenarnya dengan Dimas, tapi semua tetap tergantung oleh Denna."
"Iya, Nek." Nara memeluk wanita tua itu dengan erat.
Malam itu mereka makan malam bersama di ruang makan yang cukup besar.
"Denna, soal keinginan kamu untuk tidak ingin diikuti oleh seorang bodyguard sudah ayah pertimbangkan. Dimas akan tetap menjadi bodyguard kamu, tapi dia hanya akan mengawasi kamu dari jauh. Ayah ingin kamu merasa aman saja, tidak ada hal yang lain."
"Denna itu keberatan karena Dimas itu masih muda, dia pasti memiliki kekasih dan Denna tidak enak kalau harus terus menerus bersama Dimas."
"Kamu tenang saja, Denna, Dimas tidak mempunyai kekasih. Sejak dia memutuskan menjadi seorang bodyguard, Dimas sudah mendedikasikan hidupnya menjadi seorang bodyguard yang profesional. Dia tau tugas menjadi bodyguard akan menyita waktunya sangat banyak, jadi dia tidak mau memikirkan masalah dengan memiliki kekasih," terang uncle Leo.
Denna tampak tersenyum mendengar hal yang sebenarnya dari tadi mengganggu pikirannya.
Setelah selesai makan malam Denna keluar dari dalam rumah untuk mencari sosok Dimas.
"Dia di mana? Apa dia sudah pulang?" Dimas tidak ada di sana. "Aku juga lupa tidak meminta nomor teleponnya."
Denna memutuskan untuk kembali ke dalam rumah.
***
Keesokan harinya. Denna yang sudah siap berangkat ke sekolah berjalan keluar dengan ayah dan uncle Leonya.
Di depan sudah ada Dimas yang berdiri dengan penampilan rapi seperti biasanya.
"Kamu berangkat dengan ayah saja dan Dimas akan mengikuti kamu dari belakang. Seperti yang ayah katakan, jika Dimas hanya akan mengawasi kamu dari jauh, atau jika kamu ingin pergi ke suatu tempat saja."
"Tidak perlu, Yah. Aku diantar Dimas saja." Denna mengecup pipi ayahnya dan mengecup punggung tangan uncle Leo kemudian dia menuju mobil di mana Dimas sudah berdiri dari tadi di sana.
__ADS_1
"Silakan Nona." Dimas membuka pintu belakang.
"Aku mau duduk di depan. Kamu tidak keberatan bukan?" Dimas hanya mengangguk dan Denna membuka pintu depan.
Sepanjang perjalanan Denna hanya duduk terdiam begitupun dengan Dimas yang juga duduk terdiam fokus menyetir.
Sampai di depan parkiran sekolah Dimas yang ingin turun ditahan oleh Denna. "Ada apa, Nona?"
"Tidak perlu membukakan pintunya karena aku bisa sendiri. Dimas, kamu menunggu di sini atau pergi?"
"Saya akan menunggu di sini karena ini sudah tugas saya."
Denna melihat wajah Dimas dengan seksama. "Kamu sakit ya, Dimas?"
"Saya tidak apa-apa." Disertai gelengan kepala.
"Ya sudah, kalau begitu aku mau masuk ke kelas dulu." Denna mengambil tasnya dan berjalan menuju bangunan kelasnya.
Tampak dari kejauhan, Denna melihat Diaz dengan mas Rio-- Pria yang dikenalnya di acara ulang tahun Kirana waktu itu.
Diaz yang melihat Denna melambaikan tangan dan dia berlari kecil menghampiri Denna.
"Hai, Denna!" Wajah Diaz tampak sumringah.
Gadis tambun itu tampak malu-malu menganggukkan kepalanya. "Aku baru saja jadian dengan Mas Rio."
"Serius? Kenapa cepat sekali? Kalian baru kenal, kenapa langsung jadian? Tidak takut kalau kamu dibohongi lagi?"
"Kali ini aku percaya sama Mas Rio karena dia bukan cowok yang hanya memanfaatkan aku saja. Dia juga anak orang kaya dan dia kuliah juga dari hasil keringatnya sendiri memiliki usaha di bidang travel."
"Tapi itu juga tidak bisa dibuat jaminan, Diaz."
"Kamu takut apa? Denna, kamu tau apa yang kemarin malam Mas Rio katakan saat kita makan malam berdua?"
"Kalian makan malam berdua?"
"Iya, dan dia bilang jika dia akan menikahiku setelah aku lulus sekolah." Diaz mengatakan diiringi air mata.
Denna yang mendengarnya sampai mulutnya terbuka dan wajahnya tampak tidak percaya.
__ADS_1
"Diaz, kamu serius dengan apa yang kamu katakan?"
Gadis tambun itu menyeka air matanya perlahan. "Nanti saja aku ceritakan sama kamu, sekarang kita masuk sekolah dulu." Denna masih tidak percaya, dia seperti orang yang kesadarannya hilang saat di gandeng Diaz masuk kelas.
Hari ini sekolah Denna tidak ada pelajaran seperti biasanya, hanya pemberitahuan dan ada psikolog yang diundang datang ke sana untuk saling sharing dan berbagi tentang masalah yang mungkin sedang teman-teman Denna hadapi.
Bel istirahat berbunyi. Denna ke kantin dengan Diaz. Mereka duduk berdua dan memesan minuman dingin di sana.
"Denna, kamu belum cerita tentang apa yang kemarin ingin kamu katakan padaku."
Denna tampak terdiam sejenak, bingung memikirkan, dia sebaiknya cerita apa tidak pada Diaz?
"Kamu saja ceritakan dulu tentang mas Rio dan rencana dia ingin menikahi kamu."
"Setelah aku cerita, kamu harus ceritakan apa yang terjadi sama kamu?"
"Iya, aku ceritakan."
"Mas Rio sudah tau semua ceritaku dan keluargaku. Awalnya aku ragu saat dia mengatakan ingin menikahi aku setelah lulus sekolah karena keadaan keluargaku, tapi dia meyakinkan jika dia serius denganku dan mau membuat aku bahagia."
"Apa kamu siap menikah di usia muda? Menikah, Diaz," tekan Denna. "Menikah hal yang sangat sakral dan tidak bisa main-main."
"Aku sudah siap, Denna. Kamu tau kehidupanku selama ini. Aku sendiri tidak betah di rumah dan mungkin inilah jalan yang Tuhan tunjukkan padaku dengan memiliki keluarga kecilku sendiri."
"Mungkin kamu benar. Siapa tau ini adalah kebahagian yang pantas kamu dapatkan." Denna memeluk Diaz haru.
"Aku berharap kedua orang tua Mas Rio mau menerimaku."
"Memangnya Mas Rio belum mengenalkan kamu walaupun lewat via telepon?"
"Belum, tapi kata Mas Rio dia sudah mengatakan tentang diriku pada kedua orang tuanya dan orang tuanya menyerahkan semua keputusan pada Mas Rio."
"Jujur saja aku belum siap melihat kamu menikah dan kita nanti tidak jadi kuliah bersama. Aku akan kehilangan sosok sahabat sejati seperti kamu."
Sekarang gantian Diaz yang memeluk sahabatnya. "Denna, kamu tidak akan kehilangan sosok sahabat sepertiku. Aku juga akan menemani kamu kuliah."
"Kamu tetap mau kuliah?"
"Tentu saja. Kita sudah pernah berjanji akan menjadi dokter spesialis anak bersama-sama. Aku juga ingin bisa menjadi wanita yang berhasil meskipun aku sudah menikah."
__ADS_1
"Setuju!" seru Denna senang.
"Sekarang ceritakan apa yang terjadi dengan kamu." Tatap Diaz curiga.