
Denna terpaku di tempatnya berdiri, dia hanya diam sambil menatap pria di depannya.
"Saya minta maaf jika apa yang baru saja saya ucapkan terlalu lancang."
"Ka-kamu jangan mencoba mempermainkan perasaan seseorang Dimas karena hal itu sungguh tidak baik."
"Saya jatuh cinta pada Nona Denna dan entah kapan perasaan itu muncul. Saya ingin memendam dalam perasaan ini, hanya saja saya akan menjadi seorang pengecut jika melakukannya."
"Apa kamu serius, Dimas? Lalu, bagaimana dengan Mitha? Bukannya kalian dulu putus karena hubungan kalian ditentang kedua orang tua Mitha? Dan sekarang kedua orang tua Mitha sudah tidak ada. Kalian bisa bersama."
Dimas menarik senyumnya. "Kisah saya dengan Mitha sudah berakhir lama. Ada restu maupun tidak. Apa yang saya rasakan pada Mitha sangat jauh berbeda dengan cinta yang saya rasakan pada Nona Denna. Bahkan saya sendiri seolah merasa kalah karena tidak bisa melawan perasaan ini."
"Aku sendiri tidak tau dengan apa yang aku rasakan ini? Hanya rasa kesal dan kecewa saat kamu bertemu dengan Mitha waku itu," ucap Mitha polos.
Dimas tertawa kecil mendengar apa yang disampaikan oleh Denna barusan.
Jangan menertawaiku, Dimas! Aku tidak pernah memiliki suatu hubungan sebelumnya dengan pria manapun, jadi hal ini aku sendiri tidak tau. Apa aku cemburu dengan kedekatan kamu dengan Mitha karena aku jatuh cinta sama kamu atau bukan."
"Nona cemburu karena Nona Denna mencintai saya."
"Aku merasa bodoh sekali. Kenapa aku harus memiliki perasaan seperti ini?"
Dimas menarik tangan Denna dan dengan lembut mendekap tubuh Denna. "Itu bukan hal bodoh bagiku. Terima kasih Nona Denna sudah mencintaiku."
Denna terdiam dalam dekapan Dimas. "Jangan mempermainkan aku Dimas. Aku takut sebenarnya mengakui perasaan ini, aku takut jika perasaanku tidak berbalas, atau justru hanya kamu permainkan," ucap Denna dengan bibir bergetar.
"Tidak ada yang akan mempermainkan Nona Denna. Saya mencintai Nona Denna." Dimas tampak memeluk erat Denna.
Denna tidak tau jika sebenarnya Dimaslah yang takut jika cintanya pada Denna tidak berbalas. Dimas tau siapa dirinya dan siapa Denna. Seharusnya dia dapat mengendalikan perasaannya itu, tapi nyatanya dia kalah dan mengakui jika dia mencintai Denna.
Denna menarik pelukannya dan menatap wajah pria yang dia akui dia mencintainya.
"Saya takut ingin mengatakan hal ini pada Nona Denna, takut Nona akan marah dan menganggap saya kurang ajar, tapi saat mendapat sikap Nona yang seolah ingin menjauhi, saya tidak bisa berdiam terus. Apa Nona Denna mencintai saya?" Dimas bertanya hal itu guna memastikan saja jika Denna membalas cintanya.
"Apa harus aku perjelas, Dimas?"
Dimas menggeleng pelan. "Saya sudah tau dari tatapan Nona Denna."
Denna tampak tersenyum. Dimas menundukkan wajahnya dan mengecup pelan bibir Denna dengan singkat.
__ADS_1
Denna meletakkan kedua tangannya menangkup pipi Dimas dan gantian dia mengecup lembut bibir Dimas.
Ciuman dua orang yang saling mencintai itupun terjadi dengan disaksikan matahari yang sedang tenggelam.
Dimas membawa Denna pulang. Di perjalanan Denna mendengar suatu bunyi yang sangat lucu dari perut Dimas.
"Kamu belum makan ya?" Dimas menggeleng. "Kenapa tidak makan? Bukannya tadi Mitha mengajak kamu pergi makan?"
"Saya tidak menerima ajakan Mitha untuk makan pagi atau siang karena saya ingin mengajak pergi Nona Denna."
"Jadi kamu belum makan dari tadi pagi?" tanya Denna kaget. Dimas sekali lagi menganggukkan kepalanya. "Dimas! Kenapa ceroboh sekali sampai membiarkan perut kosong sampai sore begini?" Muka Denna ditekuk kesal.
"Setelah mengantarkan Nona Denna pulang, saya akan segera makan. Nona juga "
"Tidak, kita makan saja sekarang. Di ujung jalan sana ada rumah makan yang belum banyak orang tau, jadi tidak terlalu ramai. Kita makan di sana saja. Menu Nusantaranya enak sekali."
Denna ini tau Dimas tidak terlalu suka tempat yang sangat ramai. Dimas mengangguk dan mereka menuju rumah makan yang dimaksud oleh Denna.
Beberapa menu makanan sudah tersedia di atas meja. "Nona, kenapa banyak sekali yang Nona pesan?"
"Seorang pria itu makannya sangat banyak. Seperti ayahku. Jadi, kamu harus habiskan semuanya."
"Iya my guardian angelku. Salah sendiri kenapa dari pagi tidak makan?"
"Karena kamu juga menolak makan pagi waktu itu," jawab Dimas.
Denna tampak terdiam. "Apa kamu begitu mencintaiku, Dimas?"
Dimas tidak menjawab, tapi dia malah mengambil mangkuk sup dan mengambil satu sendok kemudian meniupnya.
"Nona Denna sangat berarti dalam hidup saya saat ini. Makanlah dulu kemudian saya akan makan."
Denna menerima suapan sup hangat dari Dimas. Dimas tampak tersenyum dan mereka makan bersama.
Mereka bicara banyak hal di sana. "Dimas, aku ke kamar mandi sebentar ya?" Denna beranjak dari tempat duduknya.
Dimas beranjak dari tempat duduknya dan menuju tempat kasir. Dimas membayar semua makanan yang di pesan oleh Denna. Dimas tidak mau dikira jika dia memanfaatkan Denna.
"V? Dia dengan siapa?"
__ADS_1
Dari kejauhan, Dimas melihat melalui kaca jendela besar rumah makan itu adiknya baru saja keluar dari restoran yang ada di seberang rumah makan di mana dia dan Denna berada.
Dimas segera keluar untuk mengejar V, tapi Dimas terlambat karena V sudah pergi dengan motornya. Dia hanya bisa memperhatikan dua orang yang keluar bersama V.
"Siapa mereka?" tanya Dimas dalam hati.
"Dimas, kamu kenapa berada di luar?" Tiba-tiba Dimas dikagetkan oleh suara panggilan Denna.
"Nona Denna, maaf, tadi saya melihat ada adik saya di sini."
"Adik kamu? Mana dia?"
"Dia sudah pergi. Apa Nona sudah selesai? Kalau sudah, kita pulang sekarang."
"Aku sudah selesai dan terima kasih sudah mentraktir aku."
"Sama-sama."
Mereka berdua pulang menuju ke rumah Denna. Sesampai di rumah nenek ternyata ada di halaman untuk menyapa bunga-bunga yang beliau tanam. Itu adalah salah satu kegiatan rutin nenek menjelang malam.
"Selamat malam Nyonya Besar."
"Nenek Dimas. Panggil aku nenek Miranti saja."
"Iya, maaf, Nenek."
"Kalian kenapa baru pulang? Apa kalian sudah makan malam? Kalau belum kalian makanlah dulu."
"Terima kasih, Nek. Saya dan Nona Denna baru saja makan malam di luar."
"Makan malam di luar?" Nenek langsung melihat pada Denna dengan tatapan penasaran.
"Dimas hanya mentraktirku makan di luar, Nek karena tadi dia mendengar suara genderang di perutku."
"Salah sendiri, kenapa berangkat tidak mau sarapan. Padahal kamu tidak pernah seperti itu. Lagi ada masalah dengan pacar kamu ya?" celetuk Nenek yang membuat Denna kaget.
"Siapa yang ada masalah dengan pacar? Aku saja tidak punya pacar."
"Karena tumben kamu tidak sarapan pagi. Biasanya, remaja seusia kamu kalau ada masalah asmara selalu larinya tidak napsu makan. Nenek juga pernah muda, Denna."
__ADS_1
Denna langsung melihat pada Dimas yang seolah tersenyum seolah menertawakan Denna.