Mr. Mafia & His Little Maid

Mr. Mafia & His Little Maid
Tidak Ingin Seperti Ini


__ADS_3

Nara mengantar dokter Will ke pintu depan karena Dokter Will harus kembali ke rumah sakit, tadi sebenarnya dia sedang berada di rumah sakit.


"Dokter hati-hati di jalan."


"Iya, Nara. Nara kamu jaga baik-baik Jaden. Ingatkan dia untuk minum obat agar lukanya cepat sembuh. Besok aku akan ke sini lagi untuk memeriksa keadaan Jaden."


"Iya, Dok, aku akan menjaga Mba Sandra juga."


Dokter Will yang akan masuk ke dalam mobil kembali menoleh pada Nara. "Nara, apa kamu mencintai Jaden?"


Seketika kedua bola mata Nara mendelik mendengar apa yang Dokter Will tanyakan. "A-apa maksud Dokter Will?" Nara tampak bingung.


"Kamu menyukai Jaden, Kan? Kamu jangan malu untuk mengakui hal itu dan satu lagi, jangan merasa minder dengan status kamu sebagai pelayan yang mencintai majikannya. Jaden itu bukan pria yang suka memandang status seseorang. Jaden itu, jika mencintai seseorang dia akan sangat setia bahkan akan sangat melindunginya."


"Tuan Jaden sudah sangat baik tidak menjualku waktu itu, dia juga beberapa kali menolongku. Aku sangat menghormati dia, Dok."


"Mencintai juga tidak apa-apa, tidak akan ada yang melarang. Lagipula sepertinya si pria dingin itu juga memiliki perasaan sama kamu. Hati-hati kalau kamu dicintai pria dingin itu, jangan sampai kamu terlihat dengan pria lain. Bisa-bisa dihabisi itu pria yang mendekatimu."


Nara hanya tersenyum yang dipaksakan. Dokter Will pergi dari sana. Nara berdiri di tempatnya.


Nara melihat salah satu penjaga di sana. Lalu dia berjalan menghampiri salah satu penjaga di sana.


"Pak, apa boleh aku tanya sesuatu?"


"Nara? Kamu ingin bertanya tentang apa?"


"Pak, bagaimana dengan Mas Roy? Maksudku apa dia meninggal?"


Penjaga itu menganggukkan kepalanya. Nara dengan cepat menutup mulutnya dengan kedua tangannya.


"Lalu, kalian bawa ke mana jasadnya?"


"Kami sudah mengurus seperti biasanya Nara. Nara aku aku berbicara seperti ini sama kamu sebenarnya juga tidak boleh, tapi karena selama ini kamu adalah orang yang baik, jadi aku mau menjawab pertanyaan kamu."


"Iya, Pak. Aku juga tidak akan bercerita pada Tuan JL, dan aku sendiri tau seperti apa Tuan JL."

__ADS_1


"Sebaiknya kamu masuk saja dan kami akan membereskan semuanya. Nara, jangan pernah ikut campur apa yang dilakukan Tuan Jaden karena nanti akan tidak baik untuk kamu."


"Iya, Pak. Pak, kalau begitu aku masuk dulu."


Nara berjalan masuk ke dalam rumah. Dia menuju dapur untuk mengambil air minum. Nara agak shock juga mengetahui Mas Roy meninggal di tangan Jaden.


"Aku tidak ingin semua ini terjadi. Kenapa semua ini harus terjadi dalam hidupku?" Nara menundukkan kepalanya di atas meja. Nara tertidur sebentar di atas meja makan.


Sebuah kejadian beberapa tahun yang lalu hadir dalam mimpi Nara. Kejadian di mana dia sedang berada di dalam mobil dengan kedua orang tuanya. Nara kecil terlihat sangat bahagia, tapi tidak lama kebahagiaan itu semua menjadi mimipi buruk.


"Mama, Papa! Nara berteriak histeris di luar mobil di mana ada seseorang yang menolong Nara keluar dari dalam mobil.


Nara menangis dan sebuah tangan memeluknya agar tidak melihat kejadian di depannya.


"Kamu jangan menangis. Kedua orang tua kamu sudah berada di surga. Kamu harus kuat mulai sekarang."


Nara mendongak melihat siapa yang sedang berbicara dengannya. Nara tidak dapat melihat dengan jelas wajah bocah laki-laki yang mengajaknya bicara, yang Nara tau dialah yang sudah menolong Nara dia berusaha mengeluarkan Nara sebelum mobilnya terbakar.


"Ya ampun! Sudah jam berapa ini?" Nara melihat ke arah jam dinding dan ternyata sudah pukul 9 pagi.


"Aku akan melihat keadaan Tuan JL. Apa dia masih tidur?"


Nara berjalan menuju kamar Jaden. Nara melihat pintu kamar Tuan Jaden terbuka. Nara yang takut jika tuan Jaden kenapa-napa segera berlari dan tanpa permisi Nara menerobos masuk ke dalam kamar Jaden.


"Tuan JL!" seru Nara dan akhirnya langkahnya berhenti saat matanya menangkap dua orang yang sedang berpelukan di atas tempat tidur.


"Nara? Apa kamu tidak bisa mengetuk pintu dulu?" suara Sandra meninggi.


"Ma-maaf, Mba Sandra, aku tidak tau jika di dalam kamar Tuan ada Mba, aku kira ada seseorang yang menyelinap di dalam kamar Tuan JL dan ingin melukai Tuan JL."


"Tidak apa-apa Nara, aku baik-baik saja dan tadi Sandra saat sadar juga khawatir denganku, makannya di langsung datang ke sini."


"Iya. Tuan, makan pagi sudah aku siapkan dan apa mau aku bawakan ke sini?"


"Aku akan makan di meja saja. Sandra kamu juga harus sarapan pagi."

__ADS_1


"Pak Dokter menitipkan obat untuk Mba Sandra juga, nanti akan aku ambilkan."


"Tuan!" Sandra tiba-tiba memeluk Jaden sekali lagi dengan erat. Nara tampak terdiam melihat hal itu.


"Ada apa, Sandra?" Jaden mencoba menjauhkan tangan Sandra yang memeluknya, tapi tangan Sandra malah semakin erat memeluk.


"Aku masih takut dengan kejadian kemarin, Tuan Jaden. Kenapa Roy tiba-tiba menjadi seperti itu. Aku takut dia akan menyakitiku."


"Kamu tenang saja, Roy tidak akan menyakiti kamu karena aku sudah mengurusnya."


Sandra menarik wajahnya melihat pada Jaden. "Maksud Tuan?"


"Aku sudah menghabisi Roy, dan dia tidak akan bisa menyakiti siapapun." Jaden melihat pada Nara.


"Jadi Roy sudah meninggal?" Sandra agak terkejut.


"Iya, dia sudah meninggal. Itulah akibatnya jika dia mencari masalah di tempatku. Aku tidak akan melepaskannya begitu saja."


Sandra kembali memeluk Jaden. Nara memilih pergi dari sana. Jaden hanya dapat menatap Nara di tempatnya.


Nara mengantarkan makanan ke pintu luar untuk para penjaga di sana. Mereka sangat senang dengan masakan Nara.


"Nara, kamu kenapa? Kenapa terlihat sedih begitu? Apa Tuan Jaden baik-baik saja?"


"Iya, Tuan JL baik-baik saja."


"Lalu, apa yang membuat kamu terlihat sedih? Apa karena kamu memikirkan tentang Roy?"


Nara mengangguk saja walaupun sebenarnya dia lebih memikirkan tentang kedekatan Tuan Jaden sama mba Sandra tadi.


"Kamu jangan terlalu memikirkan hal itu. Roy pantas menerima akibatnya, dia pasti sudah mencari masalah dengan Tuan Jaden, tapi apa yang sebenarnya terjadi, Nara? Kenapa sampai tubun Roy penuh tembakan seperti itu?"


Nara menceritakan dari awal dia bisa berkenalan dengan Roy dan apa yang terjadi kemarin malam. Penjaga itu agak terkejut mendengar cerita Nara.


"Aku sebenarnya tidak menginginkan hal ini terjadi pada Mas Roy, Pak, tapi aku juga tidak bisa mencegahnya. Mas Roy tiba-tiba berubah sifatnya, dia ternyata seorang yang sakit jiwa."

__ADS_1


"Keterlaluan sekali dia sampai tega ingin menodai kamu bahkan sangat kasar sama kamu."


__ADS_2