
Nara mengatakan jika dia tidak melarang Denna mendapat banyak mainan dari Paijo.
"Mama tidak melarangnya Paman Tampan, tapi aku capek membereskan mainanku sendiri jika selesai bermain. Apa lagi mainanku sangat banyak."
"Kamu kejam sekali, Nara. Kenapa tidak membantu keponakan cantikku ini membereskan mainannya?"
"Bukannya tidak mau, tapi dia sudah mengatakan akan bertanggung jawab dengan apa yang dia lakukan."
"Iya, aku mau membereskannya sendiri."
"Kalau begitu paman yang akan membantu kamu. Kamu mau?" Denna melihat pada mamanya. "Kamu kenapa melihat pada mama kamu? Nara, kamu sering memarahi Denna?"
"Aku tidak pernah memarahinya. Kamu jangan terlalu memanjakan Denna. Dia harus dilatih mandiri, Jo."
"Aku tidak memanjakan, tapi aku terlalu sayang sama keponakan aku ini."
"Aku juga sayang sama Paman Ganteng."
"Kalau mama kamu suka cerewet sama kamu. Kamu ikut paman ganteng saja. Bagaimana?"
"Ehem!" Jaden berdehem dengan agak keras melihat pada Paijo. "Enak saja main bawa. Dia itu putriku dan tidak ada yang boleh membawanya kecuali aku," Jaden menekankan kata-katanya.
"Iya-iya." Wajah Paijo tampak kesal.
"Jo, makannya kamu segera menikah dan setujui saja perjodohan yang mama kamu lakukan. Apa tidak ingin memiliki putri secantik Denna?" tanya Nenek.
"Mau, Nek, tapi aku masih belum bisa menerima rencana pernikahan secepat ini."
"Kamu itu jangan banyak memilih. Wanita itu cantik, baik, anak orang kaya. Apa yang kamu cari lagi, Paijo alias Panjul!" Nara menggeram kesal.
"Hem! Kamu jangan menunjukkan wajah menyeramkan kamu begitu. Aku tidak mau bukan karena banyak memilih, tapi ini hatiku yang belum menerima."
"Paijo, kamu kalau secepatnya menikah dan memiliki anak laki-laki, nanti kita bisa menjadi besan."
"Apa? Aku punya besan seperti Jo? Tidak mau, kasihan putriku nanti. Lihat saja ayahnya." Jaden melihat Paijo lalu menggelengkan kepalanya beberapa kali.
"Dasar kamu saja yang takut Nara dekat denganku."
Jaden memberikan seringai pada Paijo. "Setampan apapun dan sekaya apapun pria dihadapan Nara. Nara tetap akan memilihku."
"Nek, masakan Nenek enak sekali. Aku sudah kenyang."
Mereka semua di sana terkekeh mendengar Paijo yang mengalihkan pembicaraan.
Malam itu, Nara yang sudah berada di dalam kamar dengan Jaden tampak bingung ingin mengatakan sesuatu pada suaminya.
__ADS_1
"Jaden, apa boleh aku meminta sesuatu sama kamu?"
"Kamu mau minta apa?"
Jaden menggandeng tangan Nara dan membuat Nara duduk dengan membuka kakinya pada pangkuan Jaden.
Jaden mengecup bibir Nara sambil kedua tangannya masuk ke dalam baju tidur Nara. Telapak tangan Jaden mengusap perlahan punggung polos Nara.
"Apa kamu ingin kita memberi adik untuk Denna?"
"Jangan bicara sembarangan! Aku masih ingin menikmati peranku menjadi ibu yang baik dan benar untuk Denna."
"Lantas apa yang kamu minta?"
"Nenek ingin bertemu cicitnya."
Kedua alis Jaden tampak mengkerut mendengar apa yang dikatakan oleh Nara. "Bukannya tiap hari nenek sudah bertemu cicitnya?"
"Bukan Denna, tapi anak Renata dan Jacob. Kamu tau, kan? Renata kabur dari sini dalam keadaan hamil besar dan pasti saat ini dia sudah melahirkan anaknya."
"Apa? Nenek mau bertemu dengan Renata dan anaknya?"
"Iya, Nenek berharap bisa menebus rasa bersalah dengan bertemu atau menjaga anak Jacob."
"Ck! Apa nenek sudah memikirkan semuanya? Kita tau bagaimana sifat Renata sebenarnya."
Jaden teringat masa lalunya saat dia masih hidup dan berkumpul dengan masih ada mendiang kakeknya. Saat itu Jaden tidak tau jika di balik senyuman ayah dan mama angkat serta Jacob menyimpan dendam pada dirinya.
"Sayang, aku kasihan melihat nenek. Coba kamu suruh orang-orang kamu mencari keberadaan Renata dan anaknya."
Jaden tampak terdiam sejenak. "Baiklah, aku akan berusaha mencari di mana Renata dan anaknya, tapi aku tidak berjanji jika Renata mau untuk ikut. Huft! Kenapa aku harus bertemu dengan wanita jahat lagi? Jika setiap melihat dia, darahku seolah mendidih."
Nara kembali mendekat pada Jaden dan memijit kepala Jaden lembut. "Apa sudah lebih baik?" tanya Nara dengan lembut.
"Sudah." Jaden menikmati pijatan lembut dari Nara.
"Apa masih mau lainnya?" tanya Nara mulai menggoda Jaden.
"Tentu saja aku mau dan tidak akan menolak lainnya." Jaden membuka kedua matanya dan melihat dengan tatapan menginginkan pada Nara.
Nara mulai menarik tepi bajunya ingin membuka baju tidur miliknya.
Tok ... Tok ... Tok
"Mama, ayah, apa aku boleh masuk?" suara kecil dari arah luar membuat Nara kembali merapikan bajunya.
__ADS_1
"Huft! Tidak jadi." Jaden menundukkan kepalanya ke bawah.
Nara tersenyum melihat sikap suaminya yang lucu. Nara berjalan mendekat dan membukakan pintu untuk putri kecilnya.
"Mama!" Denna langsung digendong oleh Nara dan membawanya masuk ke dalam.
"Ada apa Denna malam-malam ke sini?"
"Aku mau tidur dengan Mama dan Ayah. Apa boleh?"
"Em ... bagaimana ya?" Nara tampak menggoda putri kecilnya lebih dulu. Nara kemudian melihat ke arah Jaden.
"Tentu saja boleh, anak ayah." Jaden memeluk Denna dan membawanya naik ke atas ranjang mereka.
Jaden menggelitik putrinya dengan tangannya sampai gadis kecil itu kegelian.
"Sayang, Denna biar tidur karena ini sudah malam. Denna besok harus masuk pagi karena ada kegiatan membersihkan lingkungan sekolah."
"Jadi anak ayah akan melakukan bersih-bersih." Denna mengangguk dan mereka mengajak Denna tidur.
Keesokan harinya. Nara seperti biasa diantar ke sekolah oleh Nara dan biasanya nanti Leo yang menjemputnya.
"Mama, itu temanku yang bernama Mandy." Telunjuk kecil Denna menunjuk ke arah gadis kecil dengan rambut di kuncir kudanya.
"Dia cantik juga ya, Denna?"
"Mamanya juga sangat cantik dan tinggi."
"Oh ya? Jadi mama kamu tidak cantik?" Nara melirik pada putri kecilnya.
"Mamaku paling cantik di dunia ini." Tangan kecil Denna memeluk leher Nara dan mengecup pipi Nara.
"Kalau begitu kamu masuk ke kelas dulu. Mari mama antar, Sayang."
Mereka berdua masuk ke dalam kelas dan Denna duduk dibangkunya, sedangkan Mandy duduk dua bangku lagi di belakang bangku Denna.
"Halo, Nara, tidak menyangka kita bertemu di sini." Nara mendongak dan agak kaget melihat siapa yang sedang menyapanya.
"Mauren? Kenapa kamu bisa ada di sini?"
"Aku di sini karena putriku Mandy sekolah di sini."
"Mandy? Jadi dia putri kamu?"
"Iya, dia anakku dengan suamiku." Mauren berjalan mendekat pada Nara dan berbisik pada telinga Nara.
__ADS_1
"Aku masih sangat berharap bisa mengandung benih dari Jaden, Nara."
Wajah Nara seketika tampak dingin. "Jaga mulut kamu, Mauren. Apa kamu tidak malu? Kamu sudah menikah dan mengatakan hal tidak baik seperti tadi?"