Mr. Mafia & His Little Maid

Mr. Mafia & His Little Maid
Kecurigaan Sandra


__ADS_3

Nara sangat terkejut melihat siapa yang dia tabrak barusan. "Mba Sandra, aku minta maaf." Nara seketika menaruh makanan yang dia bawa dan mencoba membantu membersihkan baju Sandra.


"Ih! Sana!" usir Sandra ketus.


Nara agak terkejut dengan apa yang dilakukan oleh si terapis itu. Kenapa Sandra yang dikira Nara baik ternyata sikapnya begitu kasar?


"Aku minta maaf, Mba Sandra, aku benar-benar tidak sengaja."


"Kamu tau? Seragam ini besok masih harus aku gunakan, dan kalau kamu mengotorinya, aku harus membersihkannya dengan sangat hati-hati. Aku harus membawanya ke tempat pencucian khusus."


"Kalau Mba Sandra tidak keberatan, aku akan membersihkannya. Mba Sandra jangan khawatir karena aku tidak akan merusakkan baju ini."


"Tidak perlu! Aku tidak percaya dengan kamu, apalagi karena sikap ceroboh kamu ini."


"Tapi, Mba, aku benar-benar bisa mencuci dengan sangat baik dan tidak akan rusak."


"Aku tetap tidak percaya, Nara. Sudah! Aku mau kembali ke dalam kamar Jaden." Sandra berjalan masuk dengan wajah kesalnya. Nara di sana membereskan semua makanan yang berserakan di lantai.


Jaden merasa ada yang tidak beres saat melihat wajah Sandra dan melihat pada baju Sandra yang tiba-tiba kotor.


"Sandra, baju kamu kenapa?"


"Pelayan kamu benar-benar sangat ceroboh Tuan Jaden. Dia tadi menabrakku dan makanan yang dia bawa jatuh mengenaiku. Dia ceroboh sekali."


"Mana dia?"


"Tidak tau, mungkin dia sedang membereskan kekacauan yang dia sebabkan."


Tidak lama gadis yang mereka bicarakan datang dengan membawa makanan di tangannya masuk dan melihat dua orang yang juga sedang melihatnya.


"Tuan, ini makan siang Tuan. Setelah makan Tuan minum obatnya." Nara berjalan dan meletakkan makanannya di atas meja ruang tamu kecil.


"Nara, kenapa kamu ceroboh sekali? Apa yang sudah kamu lakukan?"


"Soal baju mba Sandra aku benar-benar tidak sengaja. Tadi juga aku sudah menawarkan untuk membersihkan baju itu, tapi--."


"Tidak apa-apa Nara, aku tau kamu tidak sengaja. Tuan Jaden, apa saya boleh meminjam baju Tuan? Baju ini sangat kotor dan jadi tidak nyaman saya memakainya."


"Saya ada baju kalau Mba Sandra mau. Sebentar saya ambilkan." Nara dengan cepat keluar dari kamar Jaden.

__ADS_1


Sandra yang menahan sesuatu tampak kesal melihat pada Nara. Nara tidak lama kembali dan membawa dress berwarna putih.


"Baju ini bagus sekali, dan bahannya juga sangat lembut. Selera kamu bagus juga, Nara.


"Baju ini dibelikan Tuan JL karena bajuku sudah tidak muat." Bohongnya Nara. Mata Nara melirik pada Jaden yang duduk dengan melihatnya datar.


"Oh, jadi Tuan Jaden yang membelikan? Pantas saja baju ini sangat bagus. Baiklah kalau begitu aku akan mencobanya. Siapa tau baju ini akan muat untukku."


"Mba Sandra boleh mencobanya di kamarku. Mari aku tunjukkan."


Sandra berjalan ke kamar Nara. Saat membuka pintu kamar Nara, Sandra tampak agak terkejut melihat isi kamar Nara yang tidak mungkin ini kamar seorang pelayan.


"Ini kamar kamu?" Tatap Sandra heran.


"Iya, ini kamar yang Tuan JL berikan untuk aku. Mba Sandra silakan ganti baju dulu, aku akan ke kamar Tuan JL untuk menyiapkan makan siang Tuan."


"Nara tunggu!"


"Ada apa, Mbak?"


"Apa benar kalau kamu pelayan di sini? Maksud aku bukannya aku tidak percaya kalau kamu seorang pelayan, tapi yang aku lihat dari kamar tidur kamu dan pakaiana yang kamu gunakan, sepertinya kamu bukan pelayan di sini."


Nara bingung harus bilang apa? Memang dia dibeli oleh Jaden untuk dijadikan pelayan, tapi Jaden beberapa hari ini malah memperlakukannya dengan baik. Baju yang dibelikan buat Nara juga sangat bagus-bagus, dan soal kamar memang hanya ada empat kamar di rumah ini dan semuanya sama kecuali kamar Jaden yang lebih besar.


"Benarkah?" Tatapan Sandra seolah tidak percaya.


"Iya." Nara nyengir lucu.


"Eh, tunggu!"


Nara yang mau melangkah jadi terhenti lagi saat Sandra memanggilnya lagi. "Ada apa, Mba?"


"Aku lihat kamu masih sangat muda sekali, apa kamu baru lulus sekolah atau putus sekolah?"


"Aku baru saja lulus sekolah, Mba. Memangnya kenapa?"


"Kamu kenapa malah mau bekerja menjadi pelayan? Kamu cantik dan aku yakin kamu pintar, kenapa tidak mencari pekerjaan yang lebih baik?"


"Andai aku punya pilihan," ucap Nara lirih.

__ADS_1


"Apa? Kamu bilang apa?"


"Aku senang bekerja di sini, Mba. Lagipula mencari pekerjaan sangat sulit, aku jalani dulu saja bekerja sebagai pelayan. Siapa tau aku bisa menabung sedikit demi sedikit dan nanti aku bisa kuliah dengan hasil keringatku sendiri."


"Jadi kamu mempunyai keinginan bisa kuliah?" Nara mengangguk. "Memangnya cita-cita kamu apa, Nara, kalau aku boleh tau?"


"Aku sebenarnya ingin menjadi seorang dokter dan chef untuk restoran milikku sendiri. Ketinggian ya, Mba?" Nara terkekeh.


"Tidak juga, siapa yang tau nasib kita besok. Ya sudah, kalau begitu aku mau ganti baju dulu, semoga bajunya muat."


Nara keluar dari dalam kamarnya dan berjalan menuju kamar Jaden. Di sana Nara melihat Jaden sedang berbicara dengan seseorang di telepon.


"Nanti kalau sudah pulang dari Belanda, aku akan segera menemui nenek, untuk saat ini aku tidak bisa, Nek."


"Padahal nenek sudah bilang akan memperkenalkan kamu dengan cucu dari teman nenek, Jaden."


"Aku tidak tertarik dengan acara perkenalan seperti itu, Nek. Aku sudah bilang, kalau aku tidak mau memikirkan tentang pernikahan."


"Apa kamu mau jadi perjaka tua nantinya? Lalu, siapa yang mengurus kamu nanti kalau kamu sudah tua?"


Jaden melihat pada Nara. "Nenek tenang saja, nanti akan ada yang mengurusku, atau aku bisa mengurus diriku sendiri."


"Susah sekali bicara dengan kamu. Pokoknya sebelum nenek meninggal, nenek mau melihat cucu nenek dari kamu."


"Nenek tidak akan meninggal secepat itu."


Mereka berdua mengakhiri panggilannya. Nara berjalan perlahan duduk di depan Jaden.


"Tuan ini makannya."


"Apa Sandra sudah selesai berganti baju?"


"Mba Sandra masih berada di dalam kamarku. Tuan, Maaf. Tadi Tuan sedang berbicara dengan nenek Tuan, Ya?"


"Iya, itu nenekku. Kenapa?"


"Kenapa nada bicara Tuan tidak sopan begitu? Apalagi Tuan membohongi nenek Tuan?"


"Aku harus berbohong dengan mengatakan kalau aku sedang berada di Belanda karena aku tidak mau disuruh ke rumahnya dan dikenalkan dengan cucu dari sahabatnya."

__ADS_1


"Kenapa tidak mau? Mungkin nenek Tuan JL ingin Tuan JL segera menikah karena mengingat usia Tuan yang sudah seharusnya menikah dan memiliki keluarga."


"Apa kamu tau siapa aku, Nara?" tanya Jaden dengan pandangan datarnya.


__ADS_2