
Setelah menutup panggilannya Denna langsung bertanya pada Diaz karena melihat wajah Diaz yang tampak shock.
"Diaz, ada apa sih? Kenapa dari tadi kamu ditanya diam saja?"
"Denna, ada berita mengejutkan."
"Berita apa?"
"Evans sekarang menjadi lumpuh."
"Hah? Maksud kamu?"
"Tadi aku diberitahu oleh salah satu temanku yang dekat dengan Mandy saudara sepupu Evans. Dia bilang kaki Evans mendadak sakit setelah pulang dari club malam dan setelah diperiksa dia mengalami kelumpuhan permanen."
"Apa? Kenapa bisa begitu?"
Diaz mengangkat bahunya tidak tau. "Temanku belum tau pasti. Mungkin dia bisa jadi mengkonsumsi obat-obatan yang berefek pada kakinya."
Denna tampak berpikir sejenak. "Kasihan juga kalau dia tidak bisa berjalan untuk selamanya, Diaz."
"Kamu kenapa kasihan sama dia? Kamu lupa sama apa yang sudah dia lakukan sama kamu?"
"Aku masih ingat dan kejadian itu tidak akan pernah lupa dari ingatan aku."
"Makannya itu, kamu tau kelakuan Evans seperti apa, jadi itu mungkin hukuman untuk dia supaya tidak jahat sama orang lagi terutama para gadis."
"Diaz, kita tidak boleh malah bahagia di atas penderitaan orang lain. Bagaimanapun dia itu masih muda dan masa depannya masih panjang."
"Terserah kamu. Oh ya, ini dari pujaan hati kamu, tadi dia berpapasan denganku dan menyuruhku memberikan ini ke kamu." Diaz memberikan gelang yang tadi diberikan oleh Dimas. padanya.
"Ini gelang milikku, kenapa Dimas yang membawanya? Apa terlepas? Tapi kenapa tidak memberikannya sendiri?"
"Aku tidak tahu, tadi aku bertemu dan aku bilang kalau ruanganBB kamu ada di atas, tapi dia bilang supaya memberikan ini saja padamu lalu dia pergi."
"Terima kasih?" Denna memakaikai kembali gelang pemberian neneknya.
Hari itu kegiatan Denna seperti biasanya dan pada saat jam istirahat, dia dengan Diaz pergi ke kantin rumah sakit.
Di sana dia melihat V sedang duduk sendirian membaca bukunya. "V boleh duduk di sini?" tanya Diaz.
"Kalian? Tentu saja boleh."
"Maaf ya V kalau kami mengganggu belajar kamu. Diaz ini yang tiba-tiba minta duduk di sini, padahal masih banyak bangku yang kosong," terang Denna.
"Tidak apa-apa, Denna. Aku sama sekali tidak keberatan."
__ADS_1
"V gambar kamu bagus sekali, kamu pandai sekali menggambarkan wajah Denna."
"Tentu saja aku bisa karena aku sudah memperhatikan dengan detail wajah Denna."
"Ehem! Kamu menyukai Denna ya?" celetuk Diaz.
"Diaz!" Denna mendelik pada Diaz yang asal saja ngomongnya
"Aku mengagumi Denna yang cantik dan baik ini. Aku senang bisa mengenal sosok Denna."
V mengambil bukunya dan dengan cepat dia mulai menggerakkan pensilnya dengan sesekali melihat Denna. Denna dan Diaz saling melihat satu sama lain.
"Ini adalah wujud lain kamu bagiku, Denna."
Dua gadis di sana yang diperlihatkan hasil karya V tampak melotot. "Bagus sekali!" seru Diaz.
"Aku tidak seperti yang kamu gambarkan V, aku bukan malaikat. Aku hanya gadis biasanya yang banyak kekurangannya."
"Terserah orang berpikiran apa tentang kamu, tapi bagiku kamu seperti ini."
"Terima kasih kamu sudah sangat baik menganggapku."
Sore itu Denna tampak sudah bersiap-siap akan pulang, dia hari ini sangat bahagia karena akan pergi dengan Dimas setelah tadi meminta izin kepada neneknya.
"Kamu senang sekali, Denna. Kamu jadi keluar sama Dimas?"
"Jujur ya, Denna, kenapa aku lebih suka melihat kamu sama V. Bukannya aku tidak suka pada Dimas, tapi kamu dan V lebih banyak kesamaannya."
"Cinta itu tidak bisa kita atur Diaz. Diaz kita turun saja. Dimas pasti sudah menunggu di bawah."
Mereka berdua turun ke bawah. Saat menunggu lift Diaz yang dari tadi sibuk dengan ponselnya kaget melihat apa yang ada pada layar ponselnya. "Denna, lihat ini."
Denna melihat dari sosmed Saramitha dia memposting dirinya yang duduk di atas tempat tidur rumah sakit dan Dimas memeluknya. itu seperti foto candid, dan dia menuliskan terima kasih pada adik sepupunya yang sudah mengabadikan momen indah ini.
"Dimas. Kenapa sekali lagi dia tidak mengatakan hal ini?" Denna tampak kecewa sekali lagi melihat hal itu.
"Kamu serius mau meneruskan hubungan dengan Dimas?"
"Dia nanti akan menjelaskannya padaku."
Mereka sampai ke lantai bawah dan di sana belum tampak sosok Dimas. Diaz yang sudah dijemput akhirnya pulang duluan karena Denna yang menyuruhnya.
"Denna, kamu belum pulang? Supir kamu belum menjemput?" Denna menggeleng. "Mau pulang denganku?"
"Tidak, V terima kasih. Aku menunggu saja, kamu kalau mau pulang, kamu bisa pulang saja."
__ADS_1
"Tidak apa-apa, aku akan menunggu kamu."
"Jangan, V, kamu pulang saja."
"Aku akan menunggu sampai kamu dijemput, Denna. Aku tidak akan meninggalkan kamu sendirian karena suasana juga sepertinya akan turun hujan."
Tidak lama sebuah mobil hitam masuk ke area rumah sakit dan seorang supir yang Denna kenali menghampiri Denna.
"Nona Denna, maaf saya datang terlambat, mari saya antar pulang sekarang."
Denna tampak mengkerutkan kedua alisnya. "Kenapa bapak yang menjemput?"
"Mas Dimas masih ada urusan penting dan saya diminta menjemput Nona. Mari kita pulang sekarang karena hari mau hujan."
Denna tampak terdiam sejenak. "V, aku pulang dulu. Kamu juga sebaiknya segera pulang." V mengangguk.
Kemudian Denna masuk ke dalam mobil dengan perasaan yang kecewa dan kesal.
Di rumah Denna langsung naik ke atas kamarnya dan mencoba menghubungi Dimas, tapi tidak diangkat.
"Apa dia masih di rumah sakit bersama Mitha?"
Tidak lama pintu kamar Denna diketuk oleh seseorang dan itu ternyata nenek.
"Denna, Dimas tadi menghubungi nenek dan mengatakan tidak bisa menjemput kamu karena ada urusan mendadak. Kamu kenapa mukanya cemberut begitu?"
"Kesal saja sama Dimas. Dia lagi-lagi membatalkan rencana kita."
"Mungkin dia memang ada urusan yang penting. Nanti dia pasti akan menjelaskannya sama kamu."
"Dia memang harus menjelaskan, Nek."
Tangan wanita tua itu mengusap lembut pucuk kepala cicitnya. "Kamu sudah dewasa, dan nenek harap kamu bisa menyikapi semuanya dengan dewasa dan bijak."
"Aku terlalu kekanakan ya, Nek?"
"Tidak juga, hanya saja kurang dewasa sedikit." Nenek Miranti menunjukkan dengan tangannya. Denna memeluk neneknya.
Sampai malam hari di kamarnya, Denna menunggu telepon dari Dimas, tapi pria yang dia cintai itu belum memberikan kabarnya.
"Lebih baik aku tidur saja. Mungkin besok pagi dia akan menghubungiku." Denna meletakkan ponselnya, tapi tidak lama ponselnya berdering. Denna dengan cepat mengambilnya.
"Dimas. Halo, Dimas."
"Nona Denna, aku minta maaf tadi harus membatalkan acara kita karena aku harus ke rumah sakit untuk menemui Mitha."
__ADS_1
"Dimas, kamu sedang bicara sama siapa?" Terdengar suara seorang gadis dari tempat Dimas berada.