Mr. Mafia & His Little Maid

Mr. Mafia & His Little Maid
Hampir Saja Melakukannya


__ADS_3

Mereka berdua sekarang duduk saling berhadapan di atas ranjang Jaden. Nara mau tidak mau harus menemani Jaden yang sudah terbangun dari tidurnya.


"Tuan, apa yang akan kita lakukan sekarang? Tuan bisa melakukan pekerjaan Tuan saja, dan biarkan aku tidur di kamarku."


"Pekerjaan aku sudah selesai, jadi aku tidak ada pekerjaan. Coba kalau kamu tidak membangunkan aku pasti aku masih tertidur dengan nyenyak."


"Sudah di bilang aku tidak bermaksud membangunkan kamu. Lalu, sekarang kita akan melakukan apa?"


"Apa kamu mau membacakan cerita untukku?"


Nara melotot mendengar permintaan Jaden. "Memangnya kamu anak kecil supaya bisa tidur harus dibacakan cerita?" Bibir Nara manyun.


"Daripada kita tidak berbuat apa-apa."


"Aku belum mengambil buku di ruang kerja kamiu, Tuan." Nara berpikir sejenak. "Bagaimana kalau kita main tebak-tebakan nama hewan dengan huruf awalan. Bagi yang tidak bisa menyebutkan akan mendapat hukuman."


Jaden berpikir sejenak. "Baiklah, aku ini orang yang cerdas, kamu salah mengajakku bermain tebak-tebakan."


"Okay, kita lihat saja, Tuan JL."


Mereka memulai permainan dan Nara memberitahu cara mainnya. Mereka berdua akan dengan spontan menunjukkan jumlah jari mereka dan Nara akan menghitung jari dengan huruf dimulai dari huruf A sampai sebanyak jari yang mereka buka.


Misal Nara membuka jarinya dua dan Jaden tiga, jadi totalnya lima jari A,B,C,D,E. Mereka harus menyebutkan hewan dengan awalan huruf E. Siapa yang tidak bisa menyebutkan dengan cepat harus mendapat hukuman.


"Hukumannya boleh mencoret wajah yang kalah dengan spidol ini." Nara menunjukkan spidol besar berwarna hitam yang dia ambil dari laci Jaden.


"Deal!"


Mereka bermain sangat seru. Jaden beberapa kali membuat Nara kalah dan wajah Nara sudah terdapat beberapa coreta dari Jaden.


"Kenapa aku selalu kalah cepat dari kamu."


"Dasar siput. Aku yakin nilai pelajaran di sekolah kamu pasti tidak ada yang bagus."


"Enak saja, aku ini salah satu murid yang rajin dan pandai di sekolah."


"Pandai, tapi seperti siput. Sama saja."


Mereka kembali bermain dan sekarang huruf yang keluar adalah huruf S.


"Singa, serigala, singa laut, sapi," Jaden menyebutkan semua dengan cepat.

__ADS_1


"Kenapa di sebutkan semua? Aku mau menjawabnya." Nara mukanya di tekuk kesal karena lagi-lagi kalah cepat dengan Jaden.


"Siput."


"Sudah habis! Aku kalah lagi!" seru Nara kesal. "Dasar licik," umpatnya.


Pria di depannya itu menatapnya dengan mengeluarkan kismarknya dan menunjukkan spidol yang siap mencoret wajah Nara. "Apa kamu tidak tau jika licik adalah nama tengahku?"


"Iya, lakukan saja." Nara pasrah memberikan wajahnya pada Jaden.


Jaden menangkup wajah Nara dan memberikan gambar tanduk pada dahi Nara. Nara yang merasa gambar Jaden ini aneh segera melihat wajahnya di depan cerimin yang ada di seberang ranjang Jaden.


"Ya ampun! Wajahku kenapa berubah seperti ini? Jelek sekali. Orang tuaku pasti menangis di surga melihat putrinya aneh begini."


.


Jaden tersenyum lebar mendengar apa yang dikatakan gadis polos seperti Nara.


"Tidak hanya menangis. Orang tua kamu pasti tidak mau mengakui jika kamu anaknya."


"Enak saja." Lagi-lagi Nara mengerucutkan bibirnya yang membuat Jaden gemas melihatnya.


"Flamingo!" seru Nara cepat.


"Hah? Flamingo?"


"Iya, kan nama binatang dengan awalan F, yaitu Flamingo."


"Memang ada binatang dengan nama itu?" Kedua alis Jaden mengkerut.


"Tentu saja ada. Katanya kamu pintar? Masak binatang dengan nama Flamingo saja tidak tau." Nara menaik turunkan alisnya secara bergantian seolah dia akan menjadi pemenangnya kali ini.


"Aku akan mencari tau." Jaden membuka layar ponselnya dan mencari tau tentang hewan itu, dan memang benar ada. "Oh ... jadi dia sejenis angsa, tapi berwarna pink. Cantik juga hewan ini."


Ke mana aja sih Tuan JL ini? Hewan cantik begitu tidak tau. Nara langsung menunjukkan senyum lebarnya.


"Mau mengaku kalah sekarang? Kamu tidak akan mendapatkan nama hewan dengan awalan F lagi."


"Tunggu sebentar, Nara. Aku ini sedang berpikir."


Jaden tampak memikirkan sesuatu dan lama Nara menunggu akhirnya bersiap-siap ingin mencoret wajah Jaden. Lebih tepatnya balas dendam karena dia dari tadi dikalahkan dengan licik oleh Tuannya.

__ADS_1


"Kelamaan Tuan JL."


"Ya sudah, aku mengaku kalah."


Nara tampak senang sekali, dia langsung berdiri di atas kedua lututnya untuk bersiap memberikan coretan pada wajah Jaden. Nara mendekat dan menyikap dahi pria itu. Tangannya mulai menggambar sesuatu di sana.


"Gambar ini pasti akan sangat cocok dengan kamu, Tuan JL.


"Awas saja kamu nanti Nara," ancam Jaden.


Setelah selesai menorehkan gambar balas dendamnya, Nara tiba-tiba terpaku sekali lagi melihat wajah tegas Jaden dari atas, dan ternyata pria itu juga sedang mendongak melihat wajah Nara.


Jaden tiba-tiba merasakan lagi perasaan yang dia tau hal itu tidak boleh muncul dalam hatinya, tapi dia tidak bisa menyegelnya agar tidak muncul. Apalagi posisi mereka saat ini berada di jarak yang sangat dekat.


Tangan Jaden reflek menarik pinggang Nara lebih dekat, dan mendaratkan kecupannya pelan pada leher Nara yang langsung membuat Nara meremang sampai memejamkan kedua matanya.


Jaden sekali mengecupi leher Nara dan dia malah menandai leher Nara dengan tanda merah kecil.


Nara yang entah kenapa malah seolah membiarkan Jaden melakukan apa yang dia mau. Nara tampak terhipnotis oleh pesona Jaden yang sekarang mendaratkan ciumannya pada bibir Nara.


Kedua bibir itupun beradu dengan lembut dan saling membalas. Nara bahkan duduk di atas pangkuan Jaden.


Jaden yang terbawa suasana sampai menelungsupkan kedua tangannya ke dalam kaos Nara. Mengusap lembut punggung Nara dengan sangat lembut. Nara benar-benar kehilangan kendali saat ini.


Nara yang tidak hati-hati menyenggol teko yang ada di sebelah Jaden dan menyebabkan teko itu jatuh ke bawah dan pecah. Kedua orang yang bukan sepasang kekasih itu kaget dan menghentikan kegiatan yang dari tadi mereka lakukan.


Terutama Nara tampak mengambil napasnya naik turun. Dia melihat posisi dirinya yang tidak seharusnya sangat kaget.


"Ma-maaf." Nara segera turun dari pangkuan Jaden. Dia hendak membersihkan pecahan kaca itu, tapi malah tangannya terluka.


"Nara, hati-hati!" Jaden segera menarik tangan Nara dan memasukkan jari Nara yang mengeluarkan darah ke dalam mulutnya.


Nara terdiam melihat apa yang dilakukan oleh Jaden padanya. "A-aku tidak apa-apa, Tuan."


"Tidak apa-apa bagaimana? Tangan kamu berdarah. Sebaiknya besok pagi saja kamu bereskan."


"Aku tidak apa-apa. Aku akan mencari sapu untuk membersihkannya."


"Besok pagi saja, Nara."


Saat mereka sedang berdebat, terdengar suara ketukan pintu dari luar kamar Jaden.

__ADS_1


__ADS_2