
Nara tampak senang dengan bros pemberian dokter Will dia memandanginya sambil berjalan menuju dapur. Nara baru sekarang dapat sesuatu yang pastinya mahal. Ponsel saja dia tidak punya. Waktu ponselnya rusak, pamannya tidak mau membelikannya.
"Loh?" Nara kaget tiba-tiba ada yang merampas bros itu dari tangannya. Saat dia melihat ternyata mas Roy yang sudah merampas bros miliknya.
"Bros ini tidak pantas buat kamu, aku akan membuangnya."
"Mas Roy! Mas Roy kenapa? Itu bros milikku dan kenapa Mas Roy merampasnya begitu saja?" Nara tampak mengkerut kesal. "Kembalikan milikku!"
"Bros ini terlalu mahal buat kamu. kamu tidak pantas menerimanya."
"Apa?" Nara benar-benar terkejut mendengar apa yang baru saja pria yang Nara anggap baik itu.
"Apa maksud Mas Roy bicara seperti itu? Memangnya salah kalau aku menerima hadiah dari orang baik seperti dokter Will?
"Kamu itu kan seorang pelayan, jadi tidak pantas menerima barang mewah seperti itu." Apa yang dikatakan Roy membuat Nara benar-benar kaget. Hatinya sakit, dia ingat dengan apa yang sering Jaden katakan padanya, tapi dia sudah biasa dengan sikap Tuannya itu, tapi ini? Mas Roy hanya seorang pengawal dan Nara mengira dia baik, tapi ternyata dia memiliki mulut yang sangat jahat juga.
"Sekarang aku tau siapa kamu sebenarnya, Nara. Kamu tidak mau menerimaku menjadi kekasih kamu karena kamu lebih memilih pria kaya yang ingin kamu dekati. Dasar murahan!"
Jleb ...
Rasanya ada pisau menanjap dalam tepat pada jantung Nara. Kenapa Mas Roy tega sekali menghina Nara seperti itu?
"Mas Roy, aku bukan wanita yang seperti kamu tuduhkan." Nara merampas bros dari tangan Roy dengan cepat. "Aku menerima bros ini karena memang dokter Will memberiku dengan ikhlas, dan kenapa aku tidak menerima Mas Roy mungkin adalah keputusan yang sangat tepat. Aku sekarang tau bagaimana sifat asli Mas Roy." Nara mengambil baki yang berisi kue dan membawanya keluar.
"Nara!" Roy memanggil Nara, tapi gadis itu tidak memperdulikannya.
Nara membawa kue-kue ke ruang depan. Nara mencoba tersenyum dan kelihatan bahagia di depan semua orang, padahal hatinya ingin sekali menangis. Kenapa pria-pria ini menyakiti hati Nara. Salah apa dia sebenarnya? Nara teringat dengan sahabat baiknya Paijo yang bahkan tidak pernah menghina atau bicara buruk tentang Nara.
Jaden memperhatikan wajah gadis yang menjadi pelayannya saat memberikan kue pada para pengawal di sana. Nara tampak tidak seperti biasanya.
"Nara, boleh aku minta saus sambal?"
__ADS_1
"Sebentar Pak Dokter akan aku ambilkan." Nara kembali berjalan menuju dapur dan Jaden melihat Roy mengikuti Nara. Jaden merasa ada yang tidak benar.
"Nara, aku ingin bicara sama kamu."
"Mas Roy, aku anggap kita sudah tidak ada urusan lagi. Permisi, aku mau memberikan ini pada dokter Will."
"Kamu menyukai dokter itu, Nara? Cih! Dia itu tidak akan serius sama kamu. Sadarlah, Nara. Kamu akan menjadi mainannya saja. Aku yang tulus mencintai kamu." Sekali lagi Roy memegang tangan Nara dan kali ini sangat erat.
"Lepaskan tanganku, Mas Roy. Aku tidak suka berteman pada orang yang suka berpikiran buruk pada hal yang tidak dia ketahui." Nara menatap Roy tajam.
"Aku mencintai kamu, Nara. Aku akan bicara dengan Tuan Jaden jika kamu menerimanku. Bahkan aku akan menikahi kamu dan membawa kamu pergi dari sini."
"Aku lebih baik di sini dan menjadi pelayan Tuan Jaden selamanya, daripada aku harus bersama dengan pria kasar dan mulutnya sangat tajam seperti kamu." Nara mencoba melepaskan tangannya, tapi Roy malah memegang erat tangan Nara.
"Lepaskan tangan gadis itu," suara bariton terdengar marah tepat di belakang Roy. Mereka berdua melihat siapa yang mengatakan hal itu.
"Tuan Jaden." Roy segera melepaskan tangan Nara.
Nara melihat tangannya yang memerah akibat cengkraman Roy yang sangat kuat. "Berani sekali kamu menyakiti Nara. Apa Nara membuat masalah dengan kamu?"
"Urusan apa, sampai kamu menyakiti tangan Nara seperti itu?"
"Maaf. Tuan, tapi ini urusan aku dan Mas Roy, dan itu sudah selesai. Mas Roy, kita tidak ada urusan lagi sebaiknya Mas Roy kembali ke ruang depan.
"I-iya, Tuan saya permisi dulu." Roy berjalan pergi dari sana, tinggal Nara dan Jaden yang masih di sana.
"Tuan JL apa ada yang dibutuhkan? Biar aku ambilkan?" tanya Nara dengan menatap dingin pria itu.
"Perlihatkan tanganmu?"
"Untuk apa?"
__ADS_1
"Aku ingin melihatnya, Nara."
"Tanganku baik-baik saja. Kalau Tuan tidak ada yang dibutuhkan aku akan memberikan ini pada Pak Dokter." Nara berjalan pergi dari sana.
Jaden yang duduk di atas kursi rodanya hanya dapat memukul pegangan kursi rodanya dengan keras. "****! Pengawal bodoh itu, tunggu saja jika aku menemukan kesalahan kamu, aku buat kamu pergi jauh dari sini." Jaden tidak mengusirnya karena Nara pernah melarangnya dan tadi Nara pun seolah menutupi kesalahan Roy.
Di ruang depan Sandra tampak mencari di mana Jaden. "Tuan, Tuan dari mana saja?"
"Aku tadi mencari tabletku di meja makan, tapi sudahlah."
Acara kembali berjalan. Nara tampak menyuguhkan makanan pada para pengawal dan mereka tampak senang karena Nara sangat peduli dengan mereka.
Tidak lama salah seorang pengawal yang baru datang dari luar masuk dan memberikan sebuah paper bag pada Jaden.
"Sandra, ini hadiah buat kamu." Jaden memberikan paper bag berwarna coklat pada Sandra. Sandra tampak terkejut bahagia, dia membuka apa yang ada di dalamnya.
"Tuan Jaden, ini beneran untuk saya?" Kedua mata Sandra berbinar melihat hadiah apa yang Jaden baru saja belikan.
"Iya, hadiah itu pantas buat kamu karena kamu selama ini sudah sangat sabar menghadapi aku."
"Tapi ini indah sekali, dan pasti harganya mahal, Tuan." Sandra mengusap perlahan kalung berlian yang diberikan oleh Jaden.
"Kamu berhak menerimanya, Sandra. Pakailah, kamu pasti sangat pantas menggunakannya."
Sandra berjalan menuju Jaden dan meminta tolong untuk Jaden memakaikan kalung itu pada leher Sandra. Sandra duduk di sofa kotak dan Jaden memakaikan kalung itu. Semua yang di sana melihat hal itu. Nara pun tak luput menyaksikan kejadian itu.
Dalam benak Nara jika memang tuan Jaden dan Mba Sandra adalah pasangan yang sangat serasi.
"Wow! Jaden Luther ternyata bisa juga bersikap romantis dengan seorang wanita. Aku kira kamu akan memberi Sandra kado boneka arwah." celetuk si Dokter dengan seenaknya.
Jaden tidak menjawab, tapi menghadiahi Will dengan lemparan cup cake yang ada di depan Jaden, dan tepat mengenai wajah tengil Will.
__ADS_1
"Rasakan itu!" ucap Jaden dengan menyeringai.
Semua yang ada di sana tertawa melihat wajah belepotan dokter Will. Nara sampai mendelik melihatnya.