Mr. Mafia & His Little Maid

Mr. Mafia & His Little Maid
Apa Nara Istriku?


__ADS_3

Pria itu tergoyah hatinya mendengar apa yang dikatakan oleh Jaden. Dia seolah percaya mendengar kesempatan yang diberikan oleh Jaden.


"Tuan Carlos yang menyuruhku."


"Apa?" Jaden agak terkejut mendengar jika ayahnya sendiri yang melakukan hal ini. Kenapa ayahnya begitu tega padanya? Apa salahnya? Jaden bertanya dalam hati.


"Kamu jangan bohong?" bentak Jaden.


"Aku tidak berbohong padamu. Tuan Carlos yang menyuruhku melakukannya. Membuat seolah-olah akulah musuh kamu."


"Untuk apa ayahku melakukan hal itu? Dia selama ini sangat percaya dan mendukungku?"


"Dia dendam sama kamu, tapi aku tidak tau dendam apa sama kamu."


"Kalau begitu sekarang kamu hubungi dia dan katakan jika kamu berhasil mendapatkan apa yang dia mau."


"Apa maksud kamu?"


"Akan aku berikan tempat itu ayahku jika dia menginginkannya. Sekarang hubungi dia."


"Apa kamu serius?"


"Jangan banyak bicara. Cepat hubungi dia."


Pria itu mengambil ponselnya dan menghubungi ayah angkat Jaden. "Halo, ada apa?"


"Tuan, tempatnya itu sudah aku dapatkan."


"Bagus kalau begitu."


"Tuan, apa aku boleh bertanya sesuatu?"


"Ada apa?"


"Kenapa Tuan ingin mengambil tempat itu? Bukankan itu milik putramu?"


"Dia bukan putraku, dia anak angkatku, dan aku tidak peduli dengannya."


"Memangnya apa salah dia pada Tuan?"


"Kamu tidak perlu tau. Lakukan saja tugas kamu sampai benar-benar selesai." Carlos menutup teleponnya.


Jaden tampak terdiam mendengar pembicaraan antara pria itu dengan ayahnya. Jaden agak bingung kenapa ayahnya bersikap seperti itu?


"Sekarang kamu boleh pergi dan pengawalku akan mengantar kamu dengan aman sesuai janjiku."


Jaden kembali ke dalam kamarnya dan dia melihat Nara sedang tidur di tempat tidurnya. Dia sekali lagi terpukau melihat wajah Nara yang tampak begitu murni dan polos.

__ADS_1


"Apa benar dia istriku? Kenapa aku bisa menikahinya? Apa istimewanya dia?" Jaden berdialog sendiri.


Jaden membiarkan Nara tertidur dan dia masuk ke dalam kamar mandi untuk mandi membersihkan dirinya.


Beberapa menit kemudian, Jaden keluar dari kamar mandi hanya dengan menggunakan handuk yang melilit pada pinggangnya. Dia membawa handuk untuk mengeringkan rambutnya yang basah.


"Aduh!" Nara yang tadi mengerjapkan kedua matanya kaget saat wajahnya terkena lemparan handuk oleh Jaden.


"Sudah bangun? Apa nyenyak tidur kamu?"


"Kamu baru saja mandi? Aku akan menyiapkan baju untuk kamu." Nara beranjak dari tempatnya dan meletakkan handuk pada cantolan yang ada di dekat kamar mandi. Jaden berdiri terdiam melihat apa yang dilakukan oleh Nara.


Nara membuka walk in closetnya dan mencari baju untuk Jaden. "Kamu libur kerja, kan, hari ini?"


"Hem!" Jaden menjawab hanya dengan deheman.


Nara mencari baju santai Jaden di lemari yang sudah Nara ketahui tempatnya. Pria yang dari tadi memperhatikan Nara tampak mengerutkan alisnya heran melihat Nara yang tau di mana letak baju milik Jaden yang digunakan untuk di rumah.


"Pakai ini saja, kamu pasti terlihat tampan." Nara tersenyum.


"Pakaikan baju itu padaku."


"Apa?" Nara agak kaget.


"Kenapa kamu terkejut begitu?"


"Bukankah kamu bilang jika kamu adalah istriku? Kalau kamu memang istriku, kamu pasti sering melakukan hal itu."


Nara terdiam sejenak di tempatnya. Dia memang sering melakukannya, tapi sekarang Jaden sedang hilang ingatan atau dia hanya membohongi Nara?


"Apa kamu ingat denganku? Ingat tentang hubungan kita?"


"Ck! Sudah kuduga kamu hanya seorang pembohong." Jaden berjalan mendekat pada Nara dan mengambil baju dari tangan Nara. "Dasar pembohong dan wanita penggoda. Kamu kira bisa membohongiku dengan mengatakan jika kamu istriku. Aku sama sekali belum pernah menikah dan dekat dengan seorang wanita di manapun."


Nara sadar jika Jaden memang masih hilang ingatan. Dia mengejar Jaden yang masuk ke dalam walk in closet untuk berganti baju.


"Aku memang istri kamu dan akan aku buktikan." Nara mengambil baju Jaden memegang handuk yang menutup bagian bawah Jaden.


"Kamu mau apa?" Tangan Jaden menahan tangan Nara yang hendak membuka handuk yang dipakainya.


"Katamu, kalau aku memang benar istri kamu, aku pasti tidak ragu menggantikan baju kamu karena aku sudah sering melakukannya dan tidak akan malu melihatnya."


"Hanya wanita penggoda yang memang tidak sungkan melakukan hal itu dan kamu salah satunya. Tadinya aku berpikir kamu memang wanita baik-baik yang menjaga kehormatannya, tapi ternyata kamu seorang penggoda yang lihai."


Nara menarik napasnya panjang dan mengembuskannya pelan. "Kenapa kamu selalu menggangap aku wanita penggoda? Aku bukan seperti itu."


"Karena aku lihat memang seperti itu. Apa yang sebenarnya kamu inginkan dariku? Apa karena aku tampan, Kaya? Apa bos kamu itu tidak cukup kaya dan tampan? Wanita memang tidak pernah ada puasnya." Jaden masih terbayang sakit hatinya pada Mauren.

__ADS_1


"Aku tidak menginginkan apa-apa darimu. Aku hanya ingin kamu kembali mengingatku. Mengingat segalanya!" Nara tampak mengatakan dengan emosi.


"Kalau kamu istriku, kenapa tidak ada di sampingku pada saat aku sadar?"


"Aku terpaksa pergi agar kamu tidak mendapat hukuman berat di penjara karena kasus tuduhan pembunuhan berencana."


"Penjara? Kamu lucu sekali. Tidak ada penjara yang bisa menahanku. Aku Jaden Luther, dan semua yang aku lakukan berjalan rapi."


"Aku tau, tapi waktu tuduhan itu keluar, kamu tidak bisa lari karena bukti dan saksi mengarah padamu. Dengan mengikuti ancaman pelaku bisa membuat kamu bebas, dan aku melakukannya."


"Kamu jangan coba mengarang cerita, Nara?"


"Aku tidak mengarang. Bahkan aku diancam akan mengahabisi suamiku di depan mataku jika aku dekat dengan kamu."


"Kenapa sekarang kamu mendekati aku? Apa kamu tidak takut aku di bunuh."


"Karena mereka tau kalau kamu hilang ingatan. Aku juga sudah mengasingkan diri di sini."


Jaden tampak terdiam sejenak. "Aku akan menggubungi nenek dan bertanya soal ini."


"Tentu saja. Aku tidak takut karena aku melakukan hal yang benar."


Jaden mengubungi neneknya yang sedang berada di kamar.


"Nek."


"Sayang, apa urusan kamu sudah selesai? Tumben kamu menghubungi Nenek?"


"Nek, ada yang ingin aku tanyakam sama nenek."


"Tanyakan? Tanyakan apa? Kenapa terdengar sangat serius?"


"Nek, apa benar aku sudah menikah dengan wanita bernama Nara?


Deg


Nenek tampak kaget mendengar pertanyaan Jaden. "Sayang, kenapa kamu menanyakan hal itu?"


"Nenek jawab saja pertanyaanku?"


Miranti di seberang telepon tampak bingung. Dari mana Jaden tau tentang Nara? Apa Jaden bertemu dengan Nara? Sekarang Miranti cemas akan keadaan Jaden.


"Apa kamu bertemu dengan seorang wanita bernama Nara? Apa saja yang dia katakan? Jaden, kamu baik-baik saja?"


"Aku bertemu dengan seseorang yang bertanya tentang istriku Nara padaku. Tentu saja aku bingung. Siapa Nara?" Jaden terpaksa berbohong pada neneknya agar neneknya tidak mengetahui jika dia sedang bersama dengan wanita yang mengaku istrinya.


"Jaden, sebaiknya kamu pulang saja dan jangan mendengarkan perkataan orang lain."

__ADS_1


__ADS_2