
Pria yang ada di seberang telepon bingung kenapa ini temannya malah diam saja dan telepon tidak di matikan?
"Jade, kamu masih di sana, Kan?"
"Iya tentu saja! Will, kalau demamnya belum turun, aku tidak mau tau, kamu harus pulang dan rawat dia sampai sembuh."
"Jangan mengancamku seperti itu. Apa mau aku bilang sama nenek kamu kalau kamu sudah menculik seorang gadis dan menyiksanya di rumah pribadi kamu?"
"Kamu--." Jaden menahan kesal.
"Lagipula kamu benar-benar mafia yang kejam. Anak orang di culik dan malah kamu suruh menjadi pelayan di rumah kamu. Kenapa tidak kamu nikahi saja dia?"
"Aku tidak suka dengan gadis itu, dia gadis pembangkang dan aku tidak cocok dengannya."
__ADS_1
"Gadis pembangkang yang cantik. Waktu aku memeriksanya tempo hari, aku lihat dia lumayan cantik juga dan dari postur tubuhnya, dia juga memiliki tubuh yang bagus."
Jaden mengakui itu, jika tubuh Nara memang sangat bagus, bahkan Jaden beberapa kali hampir saja tidak dapat menahan hasratnya untuk mencicipi tubuh itu.
"Jangan banyak bicara!"
"Nenek selalu menghubungiku untuk bercerita tentang kamu, bahkan bertanya apa kamu diam-diam sudah memiliki kekasih, tapi aku bilang jika kamu tidak akan pernah bisa mempunyai seorang kekasih jika sikap kamu seperti itu."
"Aku membenci cinta. Cinta membuat kita bodoh, dan aku tidak mau lagi merasakan menjadi orang yang bodoh," ucap Jaden tegas.
Tidak lama terdengar suara seorang wanita memanggil temannya Jaden itu. Teman Jaden ini memang sedang berada di sebuah kamar hotel dengan kekasihnya.
"Jade, aku permisi dulu, kekasihku ingin mengajakku makan malam. Selamat menikmati menjadi perawat gadis itu." Teman Jaden yang bernama Will langsung menutup panggilan teleponnya.
__ADS_1
"Brengsek!" Jaden melempar ponselnya dengan marah.
Jaden tampak berpikir sejenak. Dia bingung apa yang harus dia lakukan sekarang? Kalau di bawa ke rumah sakit itu sebenarnya dapat menyebabkan dia mendapat masalah. Bisa saja Nara membuka mulut dan mengatakan tentang Jaden yang sudah mengurungnya di rumah selama beberapa hari, tapi jika tidak di bawa ke dokter, Jaden malah tidak rela Nara mati begitu saja?
"Aku minta maaf, Tuan. Paijo, nanti kita ke acara perpisahan sekolah bersama-sama. Paman aku membenci kamu karena kamu sudah menjualku. Apa salahku pada paman? Aku hanya ingin terus sekolah agar dapat bekerja dengan baik dan tidak menyusahkan orang lain," Nara yang demam malah berceloteh tidak karuan.
Jaden menempelkan tangannya pada dahi Nara dan dia merasakan tubuh Nara semakin panas. Jaden segera mencari apa yang dikatakan oleh Will. Dia mengambil obat penurun panas dan kompres untuk Nara.
"Gadis bodoh! Ayo minum obatnya." Jaden mengangkat tubuh Nara untuk membuat Nara meminum obatnya.
"Aku tidak mau minum obat, biarkan saja aku mati," ucap Nara dengan mata tertutup dan mencoba menolak obat yang diberikan oleh Jaden.
"Apa kamu bilang? Kamu ingin mati? Enak saja, aku tidak akan membiarkan kamu mati secepat itu. Ayo minum!" Jaden agak memaksa memasukkan obat pada mulut Nara, tapi lagi-lagi Nara seolah kekeh tidak mau membuka mulutnya.
__ADS_1
"Tidak ada cara lain." Jaden memasukkan obat pada mulutnya dan mencoba menekan pipi Nara sampai mulut Nara manyun terbuka. Jaden mencium Nara untuk memasukkan obatnya dan kemudian dia juga memasukkan air minum pada mulutnya kemudian menyalurkan pada mulut Nara.
Obat berhasil diminumkan, tapi Jaden malah tidak melepaskan ciumannya pada Nara. Bibir Nara seolah dapat membuatnya kecanduan.