Mr. Mafia & His Little Maid

Mr. Mafia & His Little Maid
Kegalauan Nara


__ADS_3

Nara tidak bisa memejamkan kedua matanya, dia dari tadi berbaring di ranjangnya, tapi tidak tenang karena terbayang-bayang terus wajah si pria dinginnya.


"Dia ke mana malam-malam begini?" Nara beranjak dari tempatnya dan kembali melihat pada luar jendela berharap dia melihat mobil Jaden datang.


"Kenapa juga aku memikirkan dia lagi. Dia itu yang membuat kedua orang tuaku meninggal. Dia benar-benar dari kecil sudah suka berbuat kejam."


Nara kembali berbaring di tempat tidurnya menutup kepalanya dengan selimut, tapi dia membukanya kembali. Nara mengambil ponsel dan melihat nama kontak Tuan JLnya.


"Aku tidak mau menghubunginya. Dia pasti tidak apa-apa. Hatiku, tapi kenapa kepikiran dia terus?"


"Jaden! Hentikan, sudah cukup!" teriak gadis bernama Cathy melihat pertengkaran di depan matanya. Dia berusaha melerai dua orang yang saling baku hantam itu.


"Aku habisi kamu!" Pukulan keras tepat di wajah pria yang akhirnya tersungkur di lantai.


"Oh Tuhan!" Gadis itu memegangi kepalanya. "Kalian kenapa diam saja? Bantu aku memisahkan mereka!" Cathy bicara dengan salah satu pengawal Jaden.


"Tapi Tuan masih bisa menanganinya, kami tidak boleh ikut campur, kecuali kalau Tuan sudah tidak bisa menanganinya."


"Kalian ini mengesalkan sekali." Gadis itu benar-benar bingung. Jaden masih memukul pria yang sudah tidak berdaya itu.


Gadis itu menarik baju Jaden walaupun sangat berat dia dengan tubuh besar Jaden. "Lepaskan aku, Cathy! Akan aku habisi dia karena sudah berani membuat ulah di sini."


"Kamu bisa menghabisinya, tapi tidak ditempatku." Gadis itu menarik baju, Jaden dan menyuruh orang-orang membawa pria yang terluka itu pergi.


Jaden duduk dan mengambil segelas minumannya, menghabiskan dengan cepat.


"Kamu ini kenapa, Jaden? Dia tadi bisa mati jika kamu tidak aku hentikan. Lagian kamu tidak perlu turun tangan sendiri menghadapi dia. Aku masih bisa "


"Menyenangkan sekali bisa menghajarnya seperti itu." Jaden beranjak dari tempatnya. "Aku mau tidur dulu, jangan menggangguku." Jaden masuk ke dalam mini bar itu dan ternyata sudah ada kamar di dalamnya.


Nara tetap saja tidak dapat memejamkan kedua matanya. Perasaannya tidak enak memikirkan Jaden, dan ternyata perasaan Nara benar. Jaden sedang bertengkar dengan seseorang bahkan terluka, tapi Jaden tidak merasakan sakit sama sekali dengan lukanya. Dia malah tidur.


***


Pagi itu Nara yang sudah bangun dia turun ke bawah dan ternyata di bawah sudah mama Miranda sedang bicara dengan beberapa maid di sana.


"Nara, kamu sudah bangun." Wanita itu berjalan menghampiri Nara.

__ADS_1


"Iya, Nyonya. Eh maksud aku Mama Miranda."


"Kamu itu lucu sekali. Kamu harus membiasakan memanggilku Mama karena kamu bukan pelayan di sini. Kamu juga anak mama Miranda di sini."


Nara mengangguk. "Ma, apa Jacob masih tidur?"


"Jacob sejak bangun dari komanya, dia sekarang rutin bangun lebih pagi dan dia berjalan-jalan dengan kursi rodanya pergi ke taman dekat rumah."


"Taman dekat rumah?"


"Iya, tidak jauh dari sini. Kenapa? Apa kamu mau berjalan-jalan pagi juga?"


"Aku mau menyusul Jacob. Apa boleh?"


Wanita itu tersenyum manis. "Tentu saja kamu boleh. Apa mau diantar oleh salah satu maid di sini?"


Nara menggeleng. "Tidak perlu, Ma. Aku akan ke sana sendiri, aku akan mencarinya sendirian."


"Ya sudah, hati-hati kalau begitu. Mama mau menyiapkan makan pagi untuk kalian."


"Nara, kamu sedang apa di sini?"


Nara menoleh ke arah belakangnya. "Jacob, tadi aku mencari di mana kamu? Kamu sendirian?"


"Iya, aku sendirian. Memangnya kamu kira aku ke sini dengan siapa? Jaden? Dia tidak suka bangun pagi apalagi mengajakku berjalan-jalan pagi."


"Kalian tidak akrab ya?"


"Kami memang tidak terlalu akrab, Nara. Jaden lebih suka sibuk sendiri dengan urusan bisnisnya, aku juga tidak terlalu suka dengan sikap introvert Jaden."


"Semalam aku melihat Tuan Jaden pergi dari rumah, dan tadi tidak terlihat mobilnya juga.Tuan di rumah tidak pernah keluar malam."


"Benarkah? Dia kalau di sini jarang tidur di rumah. Dia lebih suka tidur di tempat kekasihnya yang bernama Cathy."


Seketika mata Nara membulat lebar mendengar apa yang Jacob katakan. "Kekasih?"


"Iya, dia di sini memiliki seorang kekasih yang bernama Cathy, tapi bahkan aku dan kedua orang tuaku belum pernah melihat kekasihnya itu."

__ADS_1


Deg!


Apa benar Tuan JLnya di sini sudah memiliki kekasih? Waktu itu Mauren dan sekarang ada wanita lain dengan nama Cathy? Nara seolah merasa dibodohi oleh pria yang sangat dia percaya mencintainya.


"Apa dia seorang playboy?" tanya Nara.


"Aku tidak tau pasti, Nara karena yang aku masih tau dia hanya sering menyebutkan nama Cathy. Apa dia waktu di rumah tidak pernah membawa seorang wanita?"


Nara menggeleng. "Tuan tidak pernah membawa seorang wanita, bahkan dia pernah sakit dan harus dirawat terapis sampai terapis itu menyukainya, tapi Tuan JL tidak menyukainya."


"Oh! Jadi dia pria yang setia. Aku tidak menyangka." Jacob tersenyum miring.


Nara terdiam kembali memikirkan apa ucapan Jaden padanya waktu itu hanya bohong? Dan dia dengan bodohnya sudah berkorban menyerahkan dirinya.


"Nara, kamu kenapa?"


"Tidak, aku hanya tidak percaya jika Tuan ternyata pria yang normal karena memiliki kekasih," ceplos Nara.


"Ahaahah! Kamu bisa saja. Bagaimana jika kita tangkap basah dia dengan kekasihnya? Jujur saja aku juga penasaran dengan wajah kekasihnya itu. Kekasih yang tidak pernah dia bawa ke rumah."


"Maksud kamu? Kamu mau ke tempat di mana Tuan JL dan kekasihnya berada?"


"Iya. Sebentar, aku hubungi supirku dulu untuk mengantar kita."


Jacob mengambil ponselnya dan Nara berdiri terpaku di tempatnya. Dia berusaha membuat hatinya tenang yang dari tadi rasanya tidak karuan sejak mendengar Jaden punya kekasih.


Apa dia akan bisa menahan dirinya saat ternyata Tuan JLnya itu benar sudah memiliki kekasih. Padahal semalam dia berusaha memantapkan hatinya, jika dia akan memaafkan perbuatan Jaden yang memang tidak sengaja menabrak kedua orang tuanya. Semua itu juga adalah takdir yang tidak bisa dirubah.


"Nara, kita berangkat sekarang. Kita ke pintu taman dan mobilku akan menunggu kita di sana." Jacob tidak mendapat respon dari Nara karena gadis itu seperti sedang melamun.


"Nara!" Panggil Jacob sekali lagi sambil menggoyangkan tangan Nara.


Sontak Nara yang kembali menginjakkan kakinya di bumi langsung melihat pada Jacob. "Iya, Jacob, ada apa?" tanya Nara yang tampak bingung.


"Ayo, kita ke pintu depan taman. Kamu kenapa? Kenapa seperti bingung begitu?"


"Aku hanya takut nanti Tuan JL marah saja."

__ADS_1


__ADS_2