
Nara Mendorong tubuh Mas Roy sampai pria itu akhirnya bisa menjauh dari Nara. "Sudah cukup kamu menghinaku. Aku memang pelayan di sini, aku tau posisiku itu. Pamanku memang menjualku pada Tuan Jaden, tapi Kamu tidak berhak menghinaku seperti ini." Nara menghapus air matanya dan berjalan menuju kamar tidurnya.
"Nara, aku belum selesai bicara sama kamu." Mas Roy pun ikut berjalan mengikuti Nara dari belakang.
Nara yang tau diikuti berlari kecil dan saat dia hendak menutup pintunya. Tiba-tiba tangan Roy mendorong pintu kamar Nara dengan keras. Nara sampai terbentur pintu hingga dahinya memar. Nara terjatuh dan dengan cepat Roy berjongkok mendekat pada Nara.
"Mas Roy keluar dari kamarku," usir Nara ketus.
"Nara, aku minta maaf. Aku hanya ingin bicara sama kamu, kamu tidak apa-apa, Kan?" Tangan Roy lagi-lagi kurang ajar mengusap lembut pipi Nara.
Tubuh Nara sangat lelah sebenarnya, tapi dia berusaha untuk melawan pria yang dia kira lembut itu, tapi ternyata seorang yang sakit jiwa.
"Pergi Mas Roy, atau aku akan berteriak."
"Kamu mau berteriak memanggil kekasih kamu yang lumpuh itu? Bahkan para penjaga sudah aku beri obat tidur, jadi tidak akan ada yang mengganggu kita malam ini. Aku akan membuat kamu menjadi milikku, Nara."
"Apa? Kenapa Mas Roy sangat jahat seperti ini?" Nara seketika ketakutan melihat pria di depannya.
Tangan Roy dengan cepat menarik tubuh Nara dan menggendongnya ke atas tempat tidur Nara. Gadis itu mencoba meronta ketakutan, tapi tenaganya masih kalah dengan tenaga pria gila itu.
"Mas Roy, aku mohon jangan lakukan itu. Aku minta maaf jika sudah menyakiti kamu," Nara mencoba memohon agar bisa dilepaskan oleh Roy.
"Aku ingin kamu menjadi milikku, Nara. Itu saja, tapi kamu sangat keras kepala, dan benar-benar membuatku kehilangan kesabaran."
"Tolong ...!" Nara mencoba berteriak, tapi mulutnya langsung dibungkam oleh tangan pria yang sudah di atasnya.
Roy mengambil kain penutup yang ternyata sudah dia sediakan di saku celananya. Nara masih tidak menyerah, dia tetap meronta agar tubuhnya dapat terlepas dari kungkungan Roy.
Roy dengan kasar menampar Nara dan berhasil membungkam mulut Nara. Kedua tangan Nara ditahan dengan kuat oleh satu tangan Roy.
"Malam ini akan menjadi malam indah buat kita berdua, Nara, dan kamu jangan khawatir karena aku akan bertanggung jawab denganmu."
__ADS_1
Nara mencoba berbicara dengan mulut tertutupnya. Nara bahkan sampai menangis melihat pria di atasnya sudah melepas baju atasannya.
Dalam hatinya, Nara memanggil Jaden untuk menolongnya. Nara sendiri tidak tau kenapa dia malah teringat dengan pria itu.
"Dasar Brengsek!" Tiba-tiba tangan besar seseorang menarik tubuh Roy dan melemparkan dengan keras sampai Roy terjungkal ke bawah. Pandangan mata tajam itu seolah ingin membunuh mangsanya.
"Tuan Jaden, kenapa Tuan bisa berdiri?"
Jaden melihat pada gadis yang terlihat ketakutan meringkuk memeluk lututnya dengan wajah dan penampilan berantakan.
"Beraninya kamu ingin merusak sesuatu yang sudah menjadi milikku."
"Tuan saya bisa jelaskan, ini semua--."
Belum selesai Roy bicara sebuah tangan menarik tubuh Roy dan tonjokan melayang tepat di wajah pria itu. Pria itu kembali tersungkur di bawah dengan wajah mengeluarkan darah. Jaden yang terlihat sangat marah menghajar beberapa kali tubuh Roy. Roy yang ingin membalasnya, tapi seolah dia tidak punya kesempatan. Pria itu tergeletak di lantai dengan bersimbah darah.
"Aku habisi kamu!" Wajah Jaden berubah terlihat menakutkan. Nara yang melihat hal itu segera berlari dan memeluk Jaden dari belakang.
"Tuan, jangan membunuhnya, sudah cukup. Aku tidak mau Tuan Jaden menjadi pembunuh lagi. Dia sudah tidak berdaya." Nara memeluk Jaden erat sambil menangis.
"Pria brengsek itu akan menerima hukuman yang berat dariku karena sudah berani melukai kamu, Nara." Jaden mengusap perlahan luka pada dahi Nara.
"Sakit," ucap Nara lirih.
Jaden tiba-tiba menggendong Nara ala bridal style. Nara yang terkejut reflek mengalungkan tangannya pada leher Jaden. "Tuan, apa Tuan baik-baik saja? Aku bisa berjalan sendiri, Tuan tidak perlu menggendongku."
Jaden tidak menjawab, dia malah mengecup lembut bibir Nara dan membawa gadis dalam gendongannya itu ke dalam kamarnya. Jaden membaringkan Nara di atas tempat tidurnya.
Nara melihat wajah Jaden seolah menahan sakit. "Tuan, apa Tuan tidak apa-apa?"
"Aku tidak apa-apa, hanya saja malam ini aku lupa minum obatku."
__ADS_1
Nara beranjak dari tempat tidur dan menyuruh Jaden duduk. "Apa mba Sandra lupa memberikan obat untuk Tuan?"
"Iya, dia mungkin kelelahan jadi dia lupa. Aku tidak apa-apa."
"Tuan, biar aku yang mengambilkan obat untuk Tuan." Nara yang hendak pergi dari sana ditahan tangannya oleh Jaden. "Ada apa, Tuan?"
"Kamu duduk saja, biar aku yang mengambil obatku sendiri dan mengambilkan kotak obat untuk kamu." Jaden kembali berdiri dan berjalan menuju nakas yang ada di samping pintu kamar. Jaden duduk dan membuka kotak P3K untuk mengobati luka pada dahi Nara. Mereka duduk di atas ranjang dan saling berhadapan.
"Pria itu memang sakit jiwa. Apa yang sudah dia lakukan dengan kamu?" Jaden melihat pipi Nara yang tampak merah akibat tamparan Roy yang keras.
"Aku tidak apa-apa. Terima kasih sudah menolongku."
"Kalau sampai terjadi apa-apa denganmu, aku akan habisi dia bahkan sampai dengan keluarganya." Jaden memeluk Nara.
Nara terdiam dalam pelukan Jaden. Dia bisa mendengarkan detak jantung Jaden yang berbunyi agak keras. Nara bingung dengan ucapan Jaden yang begitu marah pada Roy. Padahal dia hanya pelayan di mata Jaden. "Tuan, Tuan sebaiknya minum obat dulu biar tidak tambah sakit." Nara menarik kepalanya dari dada bidang Jaden.
"Iya, aku akan minum, sampai kapan rasa sakit ini benar-benar hilang?"
"Bersabarlah, nanti juga akan hilang. Mba Sandra sudah berusaha dengan sebaik mungkin agar Tuan JL sembuh." Nara menyerahkan obat pada Jaden.
"Aku lupa mengambil pisangnya."
"Tapi di dapur tidak ada pisang. Semua kebutuhan dapur juga sudah menipis. Tuan coba saja minum biasa saja, pahitnya tidak akan lama. Percayalah."
"Tidak mau!"
"Kalau tidak mau minum, bagaimana bisa sembuh sakitnya. Kenapa Tuan takut sekali dengan rasa pahit obat itu? An--." Nara dengan cepat membungkam mulutnya. Dia hampir saja mengatakan lagi jika Jaden aneh.
Jaden memicingkan matanya melihat Nara. "Jangan membuatku marah, Nara. Aku tidak mau minum obat. Besok saja Sandra atau pengawalku akan mencarikan buah pisang.
"Pakai gula saja. Nanti setelah obat di telan aku suapi gula pada Tuan JL."
__ADS_1
"Masukkan obat itu ke dalam mulut kamu, Nara."
"Hah?" Nara kaget bin bingung dengan perintah Jaden.