Mr. Mafia & His Little Maid

Mr. Mafia & His Little Maid
Extra Part 2


__ADS_3

Tampak berdiri cantik sang pengantin wanita memandang dirinya di depan cermin.


Dimas yang baru saja keluar dari dalam kamar mandi tampak heran melihat wanita yang baru saja sah menjadi istrinya tersenyum sendirian.


"Kamu kenapa?" Dimas memeluk Denna dari belakang dan meletakkan dagunya pada bahu Denna.


"Aku hanya masih tidak percaya telah menjadi istri seseorang, dahal aku ingin lulus kuliah dulu, tapi karena lamaran kamu aku tidak dapat menolaknya."


"Kamu masih bisa terus kuliah, Sayang. Aku yang akan bertanggung jawab dengan kuliah kamu mulai sekarang." Dimas mengecup perlahan pipi Denna.


"Kamu memanggilku sayang lagi?"


Dimas membalikkan posisi Denna melihat ke arahnya. "Tidak suka aku panggil sayang? Atau kamu lebih suka aku memanggil kamu nona Denna?"


"Tidak, Dimas. Aku hanya agak geli saja dengan panggilan sayang kamu sama aku karena kamu biasanya terlihat kaku dan bukan orang yang sering tersenyum, tapi tiba-tiba romantis dengan memanggil sayang."


Dimas tidak menjawab, tapi dia malah menunjukkan smirknya pada Denna. Denna yang melihat hal itu tampak heran


"Kenapa mukanya seperti itu? Apa ada yang salah dengan ucapanku."


"Kamu mau tau bagaimana rasanya geli yang sebenarnya?"


Sekarang Denna mengerutkan kedua alisnya. "Dimas, apa maksud kamu, sih? Jangan mengajak main teka-teki, aku sudah lelah."


"Kalau begitu, kamu ganti baju pengantin kamu, lalu mandi dan aku tunjukkan bagaimana itu rasanya geli."


Denna seketika paham dengan maksud Dimas, apa lagi pria itu tangannya sedang membuka kancing kebaya Denna satu persatu.


"Dimas, aku malu." Tangan Denna memegang tangan Dimas yang masih membuka kancing kebaya Denna, dan hanya tiga kancing lagi.


"Kamu masih belum siap? Aku tidak akan memaksa kamu." Tangan Dimas menutup kembali kebaya Denna. Dia mengambilkan handuk untuk menutupi bagian depan Denna yang baru saja dia buka.


"Dimas, bukannya aku tidak siap, tapi sebenarnya aku hanya lelah dan mengantuk." Wajah Denna tampak melas.


Dimas mengangguk beberapa kali. Dia tidak lupa mengusap lembut pipi istrinya. "Aku tau, sekarang kamu mandi dan ganti saja dengan baju tidur kamu, kita akan tidur."


Denna mengangguk dan dia masuk ke dalam kamar mandi, sedangkan dimas berbaring di atas tempat tidurnya.


Tidak lama Denna keluar dari dalam kamar mandi dengan menggunakan handuk kimononya, dia mencari bajunya yang ada di dalam lemari.

__ADS_1


Setelah mendapatkannya dia masuk ke dalam walk in closetnya yang dibuat khusus tidak terlalu besar.


Denna melepas handuk kimononya dan sekarang Dimas secara tidak sengaja dapat melihat tubun polos Denna dari belakang.


Saliva di mulutnya dia coba telan walaupun susah. Denna tidak sengaja membuat tubuh polosnya terlihat oleh Dimas, itu karena Denna tidak sadar ada cermin yang memantulkan tubuhnya, apa lagi dia tidak menutupi pintu lemarinya dengan baik.


Dimas terlihat tenang meskipun hatinya agak kebat kebit di buat oleh Denna. Setelah selesai berganti baju. Dimas menyuruh Denna tidur di sebelahnya.


Denna bersandar pada dada Dimas dengan nyaman. "Dimas, apa kamu serius tidak marah saat ini?"


"Aku tidak marah sama sekali sama kamu, Sayang." Dimas mengecup kepala Denna yang bersandar padanya.


"Kalau begitu kita tidur saja." Denna memeluk perut kotak-kotak Dimas.


Sekali lagi Dimas memeluknya. Dan mereka berdua memejamkan kedua matanya.


Keesokan harinya. Semua keluarga sudah berkumpul di meja makan, tapi Denna dan Dimas belum tampak di sana.


"Kita makan saja dulu, biar Denna dan Dimas nanti saja. Mereka mungkin kecapekan saat ini."


"Mungkin mereka akan bangun agak siang," jawab Jaden.


Mereka makan pagi tanpa ada Denna dan Dimas. Di tengah mereka menikmati makan paginya. Denna dan Dimas turun, dan berjalan sendiri-sendiri.


Dimas pun menyapa mereka semua. Denna dan Dimas duduk saling berdampingan.


"Uncle kira kalian akan bangun siang. Bagaimana malam kalian?"


"Capek, Uncle. Aku dan Dimas selesai acara masuk ke dalam kamar dan tidur."


"Tidur? Langsung tidur begitu saja?" Leo seolah ingin meyakinkan sesuatu.


"Iya, tidur, Uncle," Denna menekankan kata-katanya.


Uncle Leo melihat ke arah Dimas, dan pria itu menunjukkan wajah datarnya tanpa ekspresi.


Kemudian Leo melihat pada Jaden dan Nara yang juga melihat ke arahnya


"Memang sebaiknya Denna dan Dimas mulai hidup mandiri tidak berkumpul di sini agar dia belajar lebih dewasa," ucap nenek bijak sambil tersenyum pada Nara.

__ADS_1


"Dimas, kamu bukannya memiliki sebuah rumah yang kamu sudah persiapkan untuk masa depan kamu kelak."


Dimas mengangguk. "Saya memang sudah memiliki rumah yang nanti akan saya tinggali dengan Denna, hanya saja tinggal beberapa perabotan yang belum tersedia di sana."


"Kalau masalah itu kamu jangan khawatir. Mama nanti akan mengurusnya."


"Mama mau mengusirku dari sini?"


"Bukan mengusir, Denna. Kamu sudah menikah dan kamu sudah waktunya belajar untuk menjadi seorang istri."


"Benar apa kata, Mama. Aku juga ingin mencoba masakan buatan kamu, Denna." Dimas melihat ke arah istrinya.


Denna terdiam sejenak. "Aku bisa memasak, tapi hanya masakan beberapa."


"Tidak apa-apa, nanti kita belajar bersama. Aku lebih baik kita tinggal di rumah kita sendiri." Tangan Dimas memegang kepala Denna.


"Tapi--."


Nara memegang tangan Jaden yang Nara tau pasti suaminya mau menghalangi Denna keluar dari rumah. Nara menggeleng-gelengkan kepalanya perlahan. Jaden akhirnya hanya terdiam. Dia tau istrinya pasti lebih mengerti masalah ini.


"Ya sudah, kalau begitu nanti malam aku akan pindah ke rumah Dimas. Setelah ini aku akan membereskan semua barang-barangku."


"Nenek akan membantu kamu, Sayang.


Denna menata baju-bajunya ke dalam koper, dia membawa barang-barang miliknya.


Hari itu Denna dan Dimas pindah ke rumah yang Dimas beli dengan hasil jeri payahnya sendiri yang memang dia siapkan untuk calon istrinya.


Rumah sederhana berukuran 4x15 m, tapi terlihat nyaman karena di depannya memiliki teras dengan ada bunga mawar tumbuh segar di sana. Dimas memang menyuruh seseorang merawat bunga mawar di taman kecil depan teras rumahnya agar dia bisa setiap hari memberikan bunga mawar untuk istrinya.


"Ini rumah kamu?"


"Iya, maaf, aku hanya bisa memberikan rumah sederhana ini untuk kamu."


Denna memeluk Dimas erat. "Tidak apa-apa, My Guardian Angelku. Aku sangat bahagia bisa hidup bahagia dengan kamu. Kamu pria yang sangat bertanggung jawab dan menjagaku."


"Rumah kamu cukup nyaman Dimas," puji Nara.


"Nanti akan nenek tambahkan beberapa perabotan di sini."

__ADS_1


"Nek, kalau boleh biar Dimas saja nanti yang membelinya. Bukannya Dimas tidak mau menerima pemberian nenek, tapi Dimas ingin membangun rumah secara sempurna dengan usaha Dimas sendiri."


Nenek Miranti tersenyum manis dan mengiyakan apa yang diinginkan oleh Dimas.


__ADS_2