Mr. Mafia & His Little Maid

Mr. Mafia & His Little Maid
Nara Hamil?


__ADS_3

Paijo mengedarkan pandangannya mencari di mana Nara berada. Dia baru sadar jika dari tadi di sana tidak ada Nara.


"Nara di mana, Tami?"


"Pagi tadi Mba Nara sudah datang untuk membuat menu baru di sini, tapi setelah itu tidak lama dia izin pulang katanya dia tidak enak badan."


"Tidak enak badan? Dia kenapa?" Paijo segera mengambil kunci mobilnya dan menuju rumah kontrakan Nara.


Paijo tadi pagi-pagi ada urusan di suatu tempat, jadi dia tidak ke rumah Nara. Siang hari dia langsung ke restoran miliknya untuk bertemu Nara, tapi ternyata Nara tidak ada di sana.


Di restoran, Jaden yang sedang menikmati makanan siangnya tampak berhenti sebentar merasakan sup ayam yang ada di meja makannya. "Ada apa, Jaden? Apa tidak enak makanannya?"


Jaden tidak menjawab, dia mengedarkan pandangannya mencari seseorang. "Aku mau bertemu orang yang membuat sup ini?" Jaden melihat pada Tami yang memang dari tadi mencuri pandang pada Jaden.


"Ada apa, Tuan. Apa ada yang bisa saya bantu?" tanya Tami yang di panggil oleh Jaden lewat lambaian isyarat tangan.


"Apa saya ada. boleh tau siapa yang membuat sup ini?"


"Memangnya, supnya kenapa, Tuan? Tidak enak ya?" Wajah Tami langsung takut.


"Supnya sangat enak dan saya ingin bertemu dengan pembuatnya karena saya ingin memberinya tips atas supnya yang enak."


"Tips? Tidak perlu, Tuan. Saya sudah sangat senang jika Tuan menyukai sup buatan saya." Tami tampak tersenyum, padahal dia berbohong.


"Jadi, kamu yang membuat sup ini?"


"Iya, saya yang membuat sup ini. Terima kasih sudah memuji sup buatan saya. Semoga Tuan bisa sering datang ke sini."


Wajah Jaden seketika berubah kecewa. Dia mengira sup itu buatan Nara karena rasanya sama seperti yang pernah buatkan untuknya.


"Kalau begitu terima kasih atas sup buatan kamu, dan ini untuk kamu." Jaden mengeluarkan beberapa lembar uang berwarna merah.


"Tapi Tuan, tidak perlu memberiku tips sebanyak ini."


"Ambil saja, tidak apa-apa, dan mungkin besok aku akan ke sini lagi untuk menikmati sup buatan kamu. Ambilah." Paksa Jaden. Tami pun akhirnya mengambil karena dia juga sedang membutuhkan biaya untuk kuliah di tempat itu karena kedua orang tuanya belum mengirimi dia uang.


"Terima kasih sekali lagi, Tuan." Tami berdiri dengan terus memandang pada Jaden.


"Hei! Kenapa tidak segera pergi dari sini?" tegur Jaden dan sontak Tami langsung berjalan pergi dari sana.

__ADS_1


"Sepertinya gadis kecil itu menyukai kamu, Jaden. Apa mau malam ini aku atur kamu bisa bersenang-senang dengannya?" tanya rekan kerja Jaden dengan senyum liciknya.


"Aku tidak tertarik padanya, Juan. Lagi pula aku hanya menyukai sup buatannya dan ini mirip sup buatan orang yang aku cintai"


"Oh! Jadi kamu sudah memiliki kekasih? Pantas saja kamu tidak tertarik dengan gadis lain, tapi gadis tadi cantik juga, dan apa salahnya hanya bersenang-senang sebentar di sini dengannya."


"Kalau kamu tertarik silakan saja, tapi aku tidak ingin." Jaden menunjukan gelas minumannya dan kemudian meneguknya sampai tandas.


"Ahaahah! Aku sedang tidak mencari gadis muda di sini, tapi aku mencari seseorang yang lebih matang dan saat aku melihatnya aku menginginkannya," tutur Juan.


Juan ini baru saja berpisah dari istrinya setelah dia kepergok selingkuh, dia memang pria yang suka berselingkuh.


"Paijo, kamu datang ke sini?" tanya Nara dengan suara lemas di depan pintu kontrakannya


"Nara, kata Tami tadi kamu izin pulang karena tidak enak badan."


"Iya. Entah kenapa tadi tiba-tiba perutku mual dan kepalaku pusing." Nara duduk sambil memegangi kepalanya.


"Kalau begitu aku akan mengantar kamu ke klinik dekat sini."


"Tidak perlu, Jo. Aku mungkin hanya masuk angin dan nanti pasti akan baik-baik saja. Aku sudah buat minuman hangat dan aku mau istirahat sebentar."


"Aku tidak mau merepotkan kamu, Jo. Aku juga minta maaf jika aku sudah izin bekerja sama kamu."


"Huft! Kenapa bicara seperti itu, Nara? Kamu seperti menganggap aku orang lain saja. Sekarang ambil sweater kamu dan kita pergi ke dokter."


"Tapi, Jo."


"Aku gendong nich kalau tidak mau."


"Iya-iya;" Nara akhirnya mau pergi dengan Paijo ke klinik untuk memeriksakan keadaan Nara.


Nara berjalan keluar dari rumahnya menuju mobil Paijo yang di parkir beberapa langkah dari rumah kontrakan Nara.


"Mau aku gendong?"


"Tidak perlu, aku bisa jalan sendiri."


Beberapa langkah Nara berjalan, tiba-tiba perutnya tidak enak dan dia malah balik badan dan muntah-muntah di dekat selokan kecil.

__ADS_1


"Kamu beneran sakit ini, Nara." Tubuh tinggi tegap Paijo menutupi tubuh Nara. Paijo tidak jijik sama sekali memijit belakang leher Nara. Saat itu mobil Jaden melintas, tapi pria itu tidak dapat melihat jika ada Nara di depannya karena terhalang tubuh Paijo.


"Nara, kenapa aku merasa kamu sangat dekat, tapi di mana kamu? Sup buatan koki restoran tadi benar-benar membuatku merasa kamu yang membuatnya. Nara aku sangat merindukan kamu," Jaden berdialog sendiri.


Setelah selesai Nara dan Paijo melanjutkan perjalanan menuju klinik untuk memeriksakan Nara.


"Nara sudah sampai."


"Badanku benar-benar tidak enak, Jo," ucap Nara lirih sambil bersandar pada sandaran kursi mobil.


Paijo meletakkan telapak tangannya pada dahi Nara. "Tidak panas badan kamu, Nara."


"Memang tidak panas, tapi aku benar-benar tidak enak rasanya, Jo."


"Apa kamu merindukan Jaden? Mau aku hubungi dia untuk kamu?"


"Jangan!" Nara seketika memegang tangan Paijo.


"Kenapa kamu terlalu takut dengan ancaman orang itu?"


"Bukan untukku, Jo. Aku hanya ingin melindungi suamiku."


Paijo tidak menjawab dan dia keluar dari dalam mobil, berjalan memutar dan membuka pintu Nara. "Aku akan mengikuti apa mau kamu, tapi sekarang kita periksakan dulu keadaan kamu, Nara."


Paijo menggendong Nara dan membawanya masuk ke dalam klinik. Di dalam sedang sepi, jadi Nara langsung di tangani oleh dokter yang sedang bertugas di sana.


"Dok, bagaimana keadaan, Nara!"


"Sepertinya istri kamu hamil, tapi untuk lebih pastinya saya akan melakukan pemeriksaan darah dan tes urine."


"Apa? Hamil?" Paijo tampak terkejut.


"Saya hamil, Dok?" Nara tampak terkejut dan wajahnya antara senang dan sedih.


"Iya, tapi saya akan melakukan pemeriksaan lagi dengan mengambil darah dan silakan tes urine di sana."


Nara akhirnya melakukan tes darah dan tes urine. Paijo menunggu Nara di ruang pemeriksaan Nara masih terbaring lemas sedangkan Paijo menunggu duduk di samping Nara Hampir tiga jam Paijo menunggu, dan akhirnya hasil tes Nara keluar.


Nara benar-benar cemas dengan hasil tesnya.

__ADS_1


__ADS_2