
Jaden melihat ada bercak darah dan mengikuti jejaknya. Saat sudah sampai ruang depan jejak darah itu menghilang. "Brengsek! Sepertinya ada orang lain yang membantu Roy bisa keluar dari rumahku, atau dia malah masih di dalam rumah." Mata Jaden mengedar ke segala tempat.
"Tuan coba lihat di kamera CCTV yang Tuan JL pasang. Nanti kita akan mengetahui mas Roy masih di rumah ini atau sudah pergi.
" Aku bodoh sekali, kenapa aku lupa akan hal itu." Jaden menggandeng Nara ke arah ruang makan karena dia biasa meletakkannya di sana.
Jaden membuka sandi pada layar tabletnya, tapi apa yang dia dapat, ternyata kamera CCTV yang Jaden pasang sudah di rusak oleh seseorang, dan Jaden tidak dapat melihat rekaman di setiap ruangan.
"Apa Mas Roy yang melakukan semua ini?"
"Dia tidak sendirian. Aku ingin tau dengan siapa dia bekerja sama. Berani sekali dia mencari masalah di tempatku." Kedua rahang Jaden mengeras. Dia akan menemukan di manapun Roy dan komplotannya berada karena sepertinya dia sudah merencanakan semua ini.
"Tuan, sebaiknya kita hubungi saja pihak berwajib, biar mereka yang mengurus masalah ini. Kita sembunyi saja di dalam kamar sampai pihak berwajib ke sini."
"Aku bukan seorang pengecut yang harus sembunyi dari si brengsek itu. Bahkan sepuluh orang seperti Roy pun aku tidak akan takut. Kalau kamu takut, masuk ke kamarku dan kunci pintunya."
Nara menggeleng. "Aku mau bersama kamu saja karena bagiku di dekat Tuan lebih aman."
Jaden memeluk Nara, dan Nara membalas pelukan Jaden. "Aku tidak akan membiarkan kamu terluka lagi." yo yo??
Mereka berdua menyusuri setiap ruangan sampai akhirnya terdengar suara sesuatu jatuh di dalam kamar Sandra.
Jaden dan Nara segera berlari ke sana dan saat pintunya akan dibuka ternyata di kunci dari dalam.
"Kamu minggir Nara." Jaden menembakkan pistolnya, pada handel pintu dan dengan tendangan satu kakinya pintu itu dapar terbuka.
"Mba Sandra." Nara tampak terkejut sampai menutup mulutnya melihat pemandangan yang ada di depannya.
Terdengar Jaden mengokang pistolnya dan menodongkan tepat di depan wajah Sandra yang sedang di sandera oleh Roy.
Roy ternyata masih bisa berdiri walaupun wajahnya penuh darah. Roy menodongkan senjata pada kepala Sandra.
"Lepaskan dia," perintah Jaden datar.
"Aku tidak akan melepaskan dia, kamu kira aku bodoh, Jaden."
__ADS_1
"Mas Roy aku mohon jangan menyakiti Mba Sandra. Mba Sandra tidak ada hubungannya dengan masalah kita."
"Tuan Jaden tolong aku, aku tidak tau dia tiba-tiba masuk ke dalam kamarku dan menyanderaku seperti ini, sebenarnya apa yang terjadi?" Wajah Sandra tampak panik.
"Mas Roy, tolong jangan sakiti orang lain. Aku tidak akan mempermasalahkan tentang apa yang sudah terjadi, tapi lepaskan Mba Sandra."
"Kamu mau aku melepaskan Sandra? Baik, akan aku lepaskan, tapi sebagai gantinya kamu harus ikut denganku, Nara."
"A-aku?" Nara menjadi bingung. Dia tidak mau gara-gara dirinya orang lain yang akan mendapat bahaya, tapi dia juga tidak mau pergi dengan Roy.
"Nara tidak akan pernah ikut denganmu, Brengsek!" Jaden masih menodongkan pistolnya ke arah muka Roy.
"Kalau begitu Sandra akan ikut denganku untuk keluar dari tempat ini."
"Apa? Tuan, Nara, tolong aku, aku tidak mau pergi dengan pria sakit jiwa ini. Aku tidak ada hubungan dengan semua ini, kenapa aku mesti diikutsertakan?"
Nara benar-benar bingung saat ini. "Baik, Mas Roy, aku akan ikut dengan Mas Roy, tapi lepaskan Mba Sandra sekarang."
"Akan aku lepaskan, kamu berjalanlah perlahan ke arahku."
Nara melangkah perlahan, dan saat langkah keduanya dia diberhentikan oleh tangan yang menahan lengan. "Sampai matipun, Nara tidak akan aku biarkan pergi dariku. Apalagi dengan pria sakit jiwa seperti kamu." Jaden berbicara dengan tidak melihat ke arah Nara, dia masih tetep fokus ke arah depan.
Hati Nara seolah ada kembang apinya, meletup-letup bahagia mendengar apa yang baru saja pria di sampingnya ucapkan.
"Tuan, aku juga tidak mau pergi dengan pria sakit jiwa ini, lagipula semua ini karena si pelayan ini membuat Roy seperti ini, coba Nara menerima cinta Roy, dia tidak akan seperti ini, bahkan tidak akan membahayakan orang lain."
"Aku minta maaf," ucap Nara sedih.
"Jaden, kenapa kamu tidak mau melepaskan Nara. Nara itu hanya seorang pelayan, dia tidak akan pantas untuk kamu. Berikan saja dia padaku karena aku yang mencintainya ini akan menjaganya."
Jaden malah menyeringai devil. "Mimpi saja kamu, dan kamu jangan banyak bicara karena kamu tidak tau apa-apa tentang perasaanku dengan Nara." Jaden mengeratkan pegangan tangannya.
"Tuan, aku tidak apa-apa, biar aku ikut Mas Roy saja. Mba Sandra. tidak harus terluka karena aku."
Dorr!
__ADS_1
Tidak lama terdengar suara tembakan yang membuat semua yang di sana terkejut kecuali Jaden.
"Mba Sandra?" Nara melihat tubuh wanita bernama Sandra terbaring di atas lantai dan tidak lama terdengar suara tembakan beberapa kali. Nara yang ketakutan berjongkok ke bawah dengan menutup kedua telinganya.
Bruk!
Sekarang Nara melihat tubuh Mas Roy tergeletak lantai dengan darah banyak sekali keluar dari tubuhnya.
"Mas Roy? Tuan apa yang terjadi? Kenapa Tuan menem--." Nara mendongak melihat ke atas di mana Jaden berdiri dengan pistol di tangannya, tapi tangan satunya mengeluarkan darah terlihat dari lengan baju Jaden yang berubah menjadi merah.
"Tuan kenapa?" Nara yang ingin memeriksa tangan Jaden ditahan oleh Jaden.
"Aku tidak apa-apa, kamu panggil Will sekarang untuk memeriksa keadaan Sandra."
"Ta-tapi, Tuan JL."
"Panggil Will sekarang Nara!" bentaknya.
Nara segera mencari ponsel milik Jaden yang ada di saku celananya. Jaden terduduk di sebelah nakas merasakan sakit dobel.
"Halo, Pak Dokter. Apa Pak Dokter bisa datang ke rumah Tuan Jaden sekarang?"
"Memangnya ada apa, Nara? Kenapa suara kamu terdengar panik seperti itu?"
"Pak Dokter tolong ke sini sekarang, Tuan Jaden dan mba Sandra membutuhkan bantuan Pak Dokter." Nara terdengar menangis.
"Iya, aku akan ke sana sekarang." Dokter Will langsung menutup panggilannya. Nara segera memeriksa mba Sandra yang sepertinya pingsan.
"Dia tidak apa-apa Nara. Sandra hanya pingsan, dia terluka pada daun telinganya," terang Jaden dari tempatnya duduk bersandar.
Nara berganti posisi mendekati Jaden yang tampak tangannya mengeluarkan darah. "Tuan baik-baik saja?" Nara malah menangis.
"Kamu ini kenapa? Kenapa jadi cengeng begini?" Jaden menyandarkan kepalanya pada dinding merasakan rasa sakit.
"Aku sendiri tidak tau. Lebih baik aku mendapat hinaan dari Tuan Jaden, daripada harus melihat Tuan seperti ini," cerocos Nara yang Nara sendiri tidak sadari bisa mengatakan hal itu.
__ADS_1