
"Denna, kamu itu harus ingat. Dimas sepertinya masih mencintai mantan kekasihnya dulu. Apa lagi mereka putus bukan karena keinginan mereka." Denna menutup kepalanya dengan bantal.
Dimas di tempatnya masih terduduk dan melihat pada layar ponselnya. Tampak wajahnya datar tanpa ekspresi melihat apa yang ada di layar ponsel miliknya.
"Apa kisahnya akan sama nantinya?" Dia bertanya pada diri sendiri. Dimas meletakkan ponselnya dan membaringkan tubuhnya dengan lengan sebagai penyangga kepalanya.
Keesokan harinya. Keluarga Luther sedang sarapan pagi bersama. Denna tampak sibuk membaca pesan WA pada ponselnya.
"Denna, kamu makan dulu. Nanti saja memegang ponselnya," ucap Nara yang melihat putrinya tidak menyentuh makanan di atas piringnya.
"Sebentar, Ma. Aku masih membaca ada informasi apa di grup kelasku."
"Iya, tapi sambil makan, Denna. Nanti kamu keburu masuk kuliah jadi tidak sarapan pagi."
"Hari ini aku ada praktik di rumah sakit, Ma, dan dalam dua minggu ini aku akan sering berada di rumah sakit daripada di kampus." Denna tampak senang sekali."
"Kamu pasti senang bisa bertemu dengan anak-anak kecil di sana."
"Iya, Ma. Aku senang sekali bisa melihat dan bermain nanti dengan anak-anak kecil yang lucu-lucu itu."
"Ayah senang kamu benar-benar serius dengan jurusan pendidikan yang kamu cita-citakan. Semoga kamu mencapai apa yang kamu inginkan menjadi dokter spesialis anak dan bisa membantu anak-anak itu kembali sehat."
Denna memegang tangan ayahnya. "Aku juga berharap bisa membangun rumah sakit gratis khusus anak kecil yang orang tuanya tidak mampu."
"Semoga keinginan kamu itu juga tercapai, dan agar bisa belajar dengan baik, sekarang makan dulu sarapan kamu," ucap ayahnya tegas.
Denna malah tersenyum menanggapi wajah serius ayahnya. Setelah makan, Denna keluar dari dalam rumah menuju halaman depan di mana, ternyata Dimas sudah menunggu di sana.
"Hai, Dimas," sapa Denna.
"Pagi, Nona Denna," balas ramah Dimas. Dimas juga memberi salam pada Nara dan Jaden.
"Dimas, kamu sudah makan pagi?" tanya Nara.
"Saya tidak terbiasa makan pagi, Nyonya Nara."
"Oh ... begitu! Kalau begitu aku tidak jadi menawari kamu sarapan pagi."
"Terima kasih, Nyonya Nara."
"Denna kamu tidak mau diantar ayah?"
"Kan sudah ada Dimas. Lagi pula. kampus dan kantor ayah jalannya tidak searah. Aku pergi saja ke kampus dengan Dimas."
__ADS_1
Tangan wanita paruh baya yang masih terlihat cantik itu mengusap lembut lengan tangan suaminya. "Sayang, biarkan saja Denna dengan Dimas seperti biasanya."
"Aku hanya ingin tau saja di rumah sakit mana Denna akan praktik. Apa tidak boleh?"
"Nanti aku bisa cerita sama malamnya."
Jaden menghela napasnya pelan. Jaden sekarang beralih melihat pada Dimas, seolah-olah dia melihat saingannya.
"Dimas, kenapa kamu memakai baju seperti itu? Kenapa tidak memakai jas hitam yang biasa kamu pakai saat bertugas?"
Dimas melihat pada Denna. "Aku yang menyuruhnya untuk memakai baju yang tidak terlalu formal, Yah. Aku tidak suka selalu melihat Dimas dalam balutan serba hitam terus."
"Tapi dia itu sedang bertugas, Denna."
"Dimas tetap melakukan tugasnya walaupun dia tidak memakai baju tugasnya."
"Kalau Tuan mau saya bisa berganti baju sebentar."
"Tidak perlu, Dimas! Aku tidak suka melihat kamu serba hitam-hitam dan nanti kalau menunggu kamu berganti baju lagi bisa terlambat aku."
"Tidak apa-apa, Dimas. Kamu tidak perlu berganti baju."
"Yah, Mama, aku berangkat kuliah dulu, ya!" Denna mengecup punggung tangan kedua orang tuanya dan pergi dari sana."
"Sepertinya aku memang harus mempersiapkan diri untuk melihat putriku dekat dan lebih perbyhatian dengan pria lainnya."
"Kamu, kan, ada aku, jadi kenapa kamu khawatir? Atau kita buat adiknya Denna saja," ucap Nara manja sambil bergelayut pada leher suaminya.
"Kamu serius ingin kita memiliki anak lagi?"
"Tentu saja. Kalau memang aku masih diberi kesempatan memiliki anak lagi, aku mau saja."
Jaden tersenyum miring. "Aku akan mengabulkan permintaan kamu ratuku." Jaden tiba-tiba menggendong Nara kembali ke dalam rumah. Nenek yang melihatnya tampak bingung.
"Jaden, kamu tidak ke kantor?"
"Nenek?" Nara agak kaget. "Jaden turunkan aku." Nara berbisik dan mencoba turun dari gendongan Jaden, tapi pria itu seolah tidak ingin menurunkan istrinya.
"Nanti saja, Nek. Aku masih ada keperluan penting dengan Nara."
"Keperluan penting?"
"Nenek istirahat saja yang banyak karena nanti pasti capek jika diajak main oleh cicit kecil Nenek." Jaden berjalan menuju atas kamarnya.
__ADS_1
"Apa sih maksud dia?" Nenek yang tidak mengerti sampai menggelengkan kepalanya.
Di dalam kamar Nara berdiri dengan menggelayutkan kedua tangannya pada leher Jaden. Pria di depannya itu menatap dengan tatapan menggoda ciri khasnya.
"Aku sangat bersyukur, kehidupan pernikahan kita berjalan dengan sangat bahagia. Cinta kamu tidak pernah pudar meskipun sudah berjalan lama, Jaden." Nara menyematkan kecupannya pada bibir Jaden.
"Bagaimana bisa pudar, jika kamu yang terus memberinya pupuk agar tumbuh subur. Jaden tanpa Nara, artinya tidak akan ada kehidupan. Kamu itu hidupku, Nara. Aku akan selalu mencintai kamu sampai kapanpun."
"Terima kasih untuk semua cinta kamu."
"Aku yang seharusnya berterima kasih sama kamu, Nara karena kamu sudah merubah pria dingin ini menjadi memiliki apa itu cinta, dan terima kasih sudah memberikan seorang putri cantik yang sekarang sudah menjadi seorang gadis remaja."
Nara tersenyum dan Jaden memberinya sebuah kecupan kecil, perlahan semakin dalam dan sangat lekat.
Tidak lama terdengar suara bunyi ponsel Jaden. Jaden sangat kesal pada dirinya sendiri, kenapa dia tidak mematikan saja ponselnya.
Nara menyuruh suaminya untuk melihat siapa yang menghubunginya.
"Mauren? Ada apa Mauren menghubungiku?" Kedua alis Jaden mengkerut.
Nara yang mendengar nama Mauren disebut langsung mengerucutkan bibirnya kesal. Jaden menjawab panggilan Mauren. Nara tetap berdiri di samping Jaden sampai suaminya selesai bicara dengan mantan kekasihnya dulu.
"Nara, maaf, aku harus pergi ke kantor saat ini juga."
"Memangnya ada apa? Apa karena Mauren yang memintanya?"
"Sayang, ada klien dari luar negeri yang hari ini ingin melihat proyek yang sedang aku dan Mauren tangani. Hal ini sangat penting."
"Ya sudah berangkat saja."
"Kamu tidak apa-apa, kan?" Tangan Jaden mengusap pipi Nara dengan lembut.
"Aku tidak apa-apa. Aku mencintaimu, Sayang."
Jaden mengecupnya dan segera pergi ke kantornya. Nara sebenarnya masih ada rasa khawatir di hatinya saat dia mendengar nama Mauren.
Namun, Nara mencoba memahami jika semua ini adalah urusan bisnis yang sangat penting juga untuk kehidupan keluarga Jaden.
"Nara, kenapa Jaden tiba-tiba berangkat bekerja? Apa ada hal penting?" tanya Nenek di mana Nara sedang menuruni anak tangga dari kamarnya.
"Mauren menghubunginya. Mereka akan kedatangan klien yang sangat penting."
"Mauren?" Nara mengangguk.
__ADS_1