
Denna yang masih kesal dengan Dimas berjalan masuk ke dalam rumah sambil melihati lukanya sampai menabrak seseorang.
"Maaf, kamu tidak apa-apa?" tanya lembut suara seorang wanita.
"Tidak apa-apa, aku yang seharusnya minta maaf karena berjalan tanpa melihat ke depan.
"Aku juga salah tadi berjalan terburu-buru." Wanita itu melihat Denna dari atas sampai bawah. "Kamu Denna anak dari Nara?" tanyanya seketika.
"Iya, tante siapa?"
"Perkenalkan, namaku Citra, aku tunangan paman tampan kamu." Wanita imut dengan lesung pipit itu tersenyum manis pada Denna.
"Jadi tante adalah tunangan paman Tampan? Tante cantik sekali. Paman tampan itu akan menyesal jika menolak dijodohkan dengan Tante Citra."
"Memangnya paman kamu pernah bercerita apa saja soal perjodohan denganku? Dia tidak suka dijodohkan ya?" Denna mengangguk. "Aku sebenarnya juga tidak suka dijodohkan tapi--." Manik mata indah milik wanita itu melihat pada Denna.
"Tapi apa, Tante?"
"Tapi saat dikenalkan pada Jo, aku menerima Jo karena ternyata Jo adalah pria yang pernah menolongku waktu aku diganggu oleh beberapa orang jahat yang ingin merampokku."
"Oh ... Jadi paman tampanku adalah pahlawan Tante?"
"Iya." Mereka semua tersenyum. "Kamu nanti malam harus ikut acara di sini. Jo mengundang teman-temannya dan acara nanti malam memang dikhususkan hanya untuk keluarga dan kerabat dekat."
"Tante bahagia kelihatannya bisa bertunangan dengan paman tampan."
"Tentu saja, Denna, aku sangat senang bisa dengan pria yang menolongku, walaupun nanti pasti akan sulit menjalani ini karena Jo masih belum bisa mencintaiku."
"Tante tenang saja. Aku yakin suatu hari nanti Tante Citra akan bisa membuat hati paman tampan jatuh cinta pada Tante. Tante sendiri apa jatuh cinta pada pamanku atau hanya mengagumi saja karena pamanku sudah menolong Tante?"
Wanita bernama Citra itu tampak terdiam. "Aku juga tidak tau, aku baru pertama kali ini merasakan sesuatu yang berbeda dengan seseorang karena aku tidak pernah dekat dengan siapapun."
"Biarlah waktu nanti yang menyatukan kalian." Denna tertawa kecil.
"Kamu sendiri sudah punya kekasih? ke sini sama siapa? Kekasih kamu?"
"Aku tidak memiliki kekasih, Tante, aku masih fokus buat lulus sekolah dan masuk ke kuliah favoriteku."
"Pemikiran yang pintar. Ya sudah, nanti malam jangan lupa hadir, ya?"
__ADS_1
"Tante, aku lupa jika aku tidak membawa gaun ke sini. Aku kira acaranya sudah selesai kemarin, tidak taunya sekarang masih ada acara lagi."
Citra tidak menjawab, dia menggandeng tangan Denna dan membawanya ke lantai atas kamarnya. Citra membuka lemari bajunya dan di sana tampak beberapa gaun.
"Kamu pilih saja mana yang mau kamu pakai?"
"Wah! Indah sekali gaun-gaun ini. Tante Citra suka mengoleksi gaun?"
"Aku bukan mengoleksi, tapi membuat sendiri." Denna alisnya mengkerut bingung dengan maksud Citra. "Aku seorang perancang busana, Denna, dan gaun-gaun ini aku buat sendiri dan kadang aku menjadi model untuk rancanganku sendiri."
"Serius, Tante?" Kedua mata Denna mendelik tidak percaya.
"Serius. Aku memang terkesan pendiam dan sedikit introvert jadi mungkin kamu tidak percaya."
"Aku percaya kalau Tante pilihkan mana gaun yang cocok untukku?"
"Baiklah."
Citra mulai mencobakan satu persatu gaun pada Denna, tapi ada yang tidak cocok karena kekecilan dan ada yang kebesaran pada Denna karena itu baju ada yang koleksi lama Citra.
"Cantik sekali," puji Citra pada Denna saat menggunakan gaun model sepan selutut ada belahan kecil di paha kanan, berwarna hitam dengan bentuk leher simetris.
"Senang bisa berkenalan dengan Tante."
"Aku juga senang berkenalan dengan kamu."
Acara pesta di sana sudah dimulai. Semu kerabat dekat dan keluarga sudah berkumpul di taman yang dihias sangat indah dengan nuansa coklat muda yang terkesan hangat.
"Anak Mama cantik sekali. Ini gaun Citra yang kamu ceritakan tadi?" Denna mengangguk.
Tidak lama Citra datang ke dalam kamar Denna dengan Paijo. "Keponakan paman ini, kenapa baru ke sini sekarang?"
"Maaf, Paman Tampan, aku kemarin menghadiri acara ulang tahun temanku, tapi sekarang yang terpenting aku sudah berada di sini."
"Awas saja kalau sampai tidak datang sama sekali. Paman coret nama Denna di hati Paman sebagai salah satu wanita yang paman sayangi."
"Tidak apa-apa, asal jangan mencoret nama Tante Citra di hati Paman." Denna melirik pada Citra yang wajahnya merona malu.
"Nama Citra nanti akan tertulis di buku nikah denganku." Jo mukanya terlihat aneh.
__ADS_1
Nara mengajak Paijo keluar karena Citra mau memberi make up pada Denna seperti apa yang dia katakan tadi.
"Ya sudah, aku tidak mau mengganggu kalian. Ayo, Nara, kita keluar saja." Paijo menggandeng tangan Nara.
Citra melihat hal itu. Denna memegang tangan Citra. "Tante Citra, jangan cemburu melihat kedekatan antara mamaku dan paman tampan. Mereka itu dua sahabat dan persahabatan mereka sangat unik."
"Iya, mama kamu pernah bercerita tentang hal itu. Persahabatan mereka benar-benar murni sahabat tanpa ada perasaan cinta. Kadang kalau dipikir hal itu pasti tidak mungkin karena tidak ada dua orang beda jenis menjalin persahabatan lama tanpa ada rasa cinta di hati mereka."
"Tapi buktinya ada. Persahabatan antara mamaku dan paman tampan."
"Ya sudah, kita mulai sekarang." Citra mulai membuka kotak make upnya dan mulai memoles wajah Denna. "Menyenangkan sekali jika memiliki adik atau putri seumuran kamu, kita jadi bisa berbagi."
"Memangnya Tante Citra tidak memiliki saudara?"
"Aku memiliki Kakak laki-laki yang tinggal di luar negeri, dia anak dari ayah tiriku."
"Saudara laki-laki, mana bisa kita ajak berbagi." Citra mengangguk.
Denna turun dengan Citra menuju area acara dilangsungkan. "Apa ini putri ayah?" goda Jaden melihat penampilan putrinya yang berbeda.
"Ayah! Apa aku terlihat aneh?"
"Aneh bagaimana? Kamu terlihat sangat cantik, mirip sekali dengan mama kamu." Jaden mengecup pipi Nara.
"Kenapa mencium seenaknya." Nara menepuk dada suaminya.
Tidak lama Leo ikut bergabung bersama dengan mereka karena acara akan dimulai. "Mas Leo, Dimas mana? Kenapa tidak ikut di sini?"
"Dia lebih senang sendirian. Biarkan saja."
Acara dimulai dengan meriah. Semua tampak bahagia di sana, dan Paijo terlihat dekat dengan Citra, tampak keduanya saling berbisik dengan melempar senyuman.
"Ma, aku ke toilet sebentar ya?"
Denna segera berlari menuju ke dalam toilet, setelah selesai dia berjalan melihat Dimas yang berdiri dengan membawa segelas minuman sedang bicara dengan seorang gadis di sana.
"Siapa dia? Apa mereka kenal?"
Denna memutuskan untuk pergi saja tidak peduli dengan Dimas dan gadis itu.
__ADS_1