
Nara berdiri serius di depan Jaden. Dia sekarang malah terdiam di tempatnya dengan memejamkan kedua matanya. Jaden heran melihat gadis di depannya ini.
"Kamu lebih baik menembakku daripada aku harus melakukan hal yang sama sekali tidak hatiku inginkan."
Jaden terkejut dengan apa yang baru saja Nara ucapkan. "Jadi kamu tidak takut dengan kematian yang sudah ada di depan kamu?"
Nara menggelengkan kepala beberapa kali sambil tetap menutup matanya. "Kalau mau menembak, kamu lakukan saja, tapi aku tidak mau melakukan apa yang kamu suruh. Aku bukan wanita murahan walaupun pamanku sudah menjualku."
"Kematian itu menyakitkan, apa kamu tidak takut?"
"Tidak, hidupku pun sudah menyakitkan, apa salahnya jika aku menyusul kedua orang tuaku ke surga? Mungkin hal itu lebih baik."
__ADS_1
"Kalau kamu memang dari awal ingin mati, kenapa juga kamu masih hidup di dunia ini?"
Nara terdiam sejenak. Dia kembali teringat masa lalu saat terjadinya kecelakaan yang menewaskan kedua orang tuanya, dan jika waktu itu tidak ada tangan yang menolongnya, dia pasti tidak akan hidup sampai saat ini.
"Aku harusnya mati saat terjadi kecelakaan waktu itu jika tidak ada orang bodoh yang menyelamatkan aku saat itu. Seperti kamu waktu menyelamatkan aku di kolam renang. Kenapa tidak membiarkan aku mati saja kalau akhirnya kamu akan membunuhku juga? Aku tidak akan mau melakukan hal yang membuatku terlihat seperti wanita murahan."
Beberapa detik kemudian Nara tidak mendengar suara apapun, dia berpikir kenapa Jaden tidak menembaknya padahal Nara tidak mau melakukan apa yang diperintahkan.
Nara sangat terkejut saat merasakan sesuatu yang lembut menempel pada bibir miliknya yang masih suci. Nara pun seketika membuka kedua matanya dan kedua manik matanya menangkap wajah pria yang tengah melihatnya dengan bibir masih menempel pada bibir Nara.
Tangan pria itu tidak diam begitu saja. Dia menarik pinggang Nara mendekat pada tubuhnya dan semakin dalam ciuman yang Jaden sematkan pada bibir Nara. Nara seolah terhipnotis diam tanpa perlawanan.
__ADS_1
Beberapa detik kemudian Jaden melepaskan ciumannya pada Nara. Kedua mata gadis itu mengerjap beberapa kali seolah masih mengumpulkan jiwa-jiwanya yang tersebar entah ke mana saat Jaden menciumnya tiba-tiba.
"Aku suka sekali dengan sikap keras kepalamu. Sekarang ganti baju kamu di kamar mandiku, dan setelah itu kembali ke hadapanku. Cepat!"
Jaden berjalan menuju mini bar yang ada dikamarnya dan menuangkan segelas whiskey ke dalam gelasnya.
Nara berjalan perlahan-lahan masuk ke dalam kamar mandi dengan membawa baju seragamnya.
Nara yang jantungnya berdetak tidak karuan langsung menutup pintu kamar mandi bahkan menguncinya. Jaden yang mengetahui hal itu malah tersenyum miring.
"Memangnya ada gunanya dia mengunci pintu kamar mandi itu, sedangkan aku adalah pemiliki setiap ruangan di sini. Dasar, gadis bodoh!" Jaden berdialog sendiri.
__ADS_1
Di kamar mandi Nara melihat dirinya di cermin. Dia memandang bibirnya yang baru saja di cium oleh pria dingin yang bahkan sama sekali tidak ada dalam impiannya. Jaden memang sangat tampan dan bisa dikatakan hampir sempurna, tapi dia bukan tipe Nara. Nara ingin sekali memiliki seseorang yang bersikap lembut dan sopan terhadap seorang wanita. Jaden sangat kasar dan seenak jidatnya sendiri, walaupun dia memang berhak melakukan hal itu karena kembali lagi, Jaden sudah membelinya dan dia berkuasa.