Mr. Mafia & His Little Maid

Mr. Mafia & His Little Maid
Berdua Lagi


__ADS_3

Nara menyipitkan kedua matanya melihat ke arah Jaden. Pria yang sedang duduk itu tampak tenang. Nara seketika mengundurkan tubuhnya ke belakang.


"Kenapa malah melihatku seperti itu?" tanya Jaden.


"Tuan JL untuk apa kamu menyuruhku memasukkan obat ini ke mulutku? Aku, kan sedang tidak sakit."


"Sudah masukkan saja kenapa kamu jadi banyak bertanya?"


"Aku tidak mau!" seru Nara.


"Kalau kamu tidak mau aku tidak akan minum obatnya."


"Kalau tidak mau minum obat nanti sakit lagi "


"Aku ingin minum obat itu dari bibirmu."


"Apa? Tuan JL jangan bicara yang tidak-tidak kenapa harus pakai bibirku?" Nara bingung dengan pria ini.


"Kamu mau atau tidak? Kalau tidak mau aku tidak akan minum obat itu, dan biar saja aku akan terus sakit."


Dalam hati Nara dia benar-benar bingung apa yang sebenarnya diinginkan oleh pria di depannya ini?


"Tuaan ini menyusahkan saja. Dahal Tuan ini tidak takut untuk membunuh orang atau berkelahi dengan orang, tapi kenapa hanya karena obat kecil seperti ini takut?"


Pria dengan nama Jaden Luther ini tidak menjawab, dia malah bersikap seolah-olah sedang menunggu Nara menuruti apa perintahnya.


"Iya baiklah karena Tuan tadi sudah menolongku dan aku tidak mau disalahkan kalau Tuan sakitnya tambah parah nanti." Nara perlahan-lahan memasukkan obat ke dalam mulutnya, tapi Nara tidak memasukkan semua dia menyusahkan sedikit di luar."


Seringai Jaden pun keluar. Kedua tangan Jaden menarik baju Nara sampai gadis itu sangat dekat dengan Nara dan dia bukannya hanya mengambil obat itu, tapi malah meneruskan mencium bibir Nara. Jaden menikmati bibir Nara.

__ADS_1


"Jaden, Lepaskan!" Nara mendorong tubuh Jaden sampai ciuman mereka terlepas.


"Bibir kamu sangat manis, aku bahkan tidak merasakan pahitnya obat itu."


"Manis apanya?" Tangan Nara mengusap-usap bibirnya seolah ingin menghilangkan bekas ciuman Jaden.


"Kenapa dihilangkan?" Tangan Jaden menahan tangan Nara yang terus mengusap bibirnya. "Jangan dihilangkan!" Jaden masih berusaha menahan tangan Nara.


"Tidak mau, ciuman kamu bisa terus mengingat aku sama kamu nantinya. Hidupku akan penuh mimpi buruk."


"Kalau begitu aku akan memberikan kamu banyak mimpi buruk," setelah berkata seperti itu Jaden dengan sekuat tenaga dan mengesampingkan rasa sakitnya dia mendorong tubuh Nara sampai gadis itu terbaring di atas ranjangnya, dan dengan cepat Jaden mengecupi bibir Nara dengan agak sedikit liar.


"Hentikan, Tuan Jaden. Aku tidak mau di tuduh merebut kekasih orang!" seru Nara dan berhasil membuat Jaden menghentikan apa yang dia lakukan pada Nara.


Jaden menatap bingung dengan maksud ucapan Nara. "Kekasih? Apa maksud kamu mengatakan itu?" Jaden menarik tubuhnya dari atas tubuh Nara."


"Bukannya Tuan dan mba Sandra sudah menjadi sepasang kekasih? Dan aku tidak mau dianggap nanti merebut Tuan darinya. Lagipula aku juga tidak mau dipermainkan terus oleh Tuan Jaden. Bagaimanapun aku ini manusia, bukan boneka." Nara menghapus air matanya.


"Tapi tidak benar jika Tuan sering menciumku seperti itu karena yang aku tau ciuman itu di berikan oleh seseorang yang saling mencintai, dan Tuan tidak mencintaiku, Tuan adalah kekasih orang lain."


Jaden terdiam sejenak di tempatnya. Sekali lagi dia menatap Nara lekat. "Aku tidak mencintai siapapun, Nara, bahkan Sandra. Hal ini memang sulit di jelaskan, tapi aku harap kamu mengerti jika ciuman yang kita lakukan tidak ada artinya."


Nara mencoba mencerna semuanya. Walaupun sakit rasanya, dia paham jika mungkin Jaden hanya ingin bersenang-senang saja, tapi kenapa harus Nara? Kenapa?


Jaden mengalihkan perhatian dengan mencoba menghubungi salah satu pengawalnya. "Di mana mereka? Kenapa tidak menjawab panggilanku?"


"Tuan menghubungi siapa?"


"Para pengawalku lainnya. Kenapa mereka tidak mengangkat panggilanku?"

__ADS_1


"Mereka tidak mungkin mengangkat, Tuan, mereka sudah diberi obat tidur sebelumnya oleh mas Roy."


"Apa? Kamu tau dari mana?"


"Mas Roy yang mengatakan jika semua yang ada di rumah ini kecuali Tuan yang dikira tidak dapat berjalan dan aku yang ingin dia lecehkan. Dia melakukan itu agar rencananya berhasil."


Seketika Jaden merasa ada yang tidak beres. Dia beranjak dari tempatnya dan berjalan menuju walk in closetnya. Nara yang melihat tampak ikut cemas.


Jaden membuka lemari kecil dengan kode sidik jarinya dan saat lemari itu terbuka terlihat ada beberapa senjata api di tangannya. Jaden mengambil sebuah pistol dan mengisinya dengan peluru sampai penuh. Kedua mata Nara mendelik melihat hal itu.


"Nara, kamu di sini saja dan kunci semua pintu kamar ini. Aku akan keluar untuk memeriksa tubuh Roy di kamar kamu."


"Tapi aku tidak mau di tinggal sendirian di sini, Tuan. Aku ikut saja dengan Tuan Jaden."


"Kamu lebih aman di sini Nara. Kaca jendelaku anti peluru, dan ada ponselku di sana jika memang kamu benar-benar dalam bahaya nantinya."


"Tidak mau! Aku mau menemani Tuan JL. Di rumah ini hanya ada kita berdua saja yang masih sadar. Tolong bawa aku." Sebenarnya Nara takut, takut jika Jaden nanti kenapa-napa. Dia tidak mau pria yang sudah menempati hatinya secara tidak dia sadari sepenuhnya sampai terluka.


Jaden menatap Nara di depannya. "Baiklah Ayo ikut aku!" Tangan Jaden menjulur dan menunggu balasan uluran tangan Nara.


Gadis itu tersenyum kecil dan membalas uluran tangan Jaden. Jari jemari mereka salig bertaut, dan seketika ada sentilan keterkejutan yang mereka berdua rasakan.


"Nara, kamu berjalan di belakangku." Nara mengangguk, dan dengan tidak melepaskan tanganya Jaden menggandeng Nara dan berjalan menuju kamar Nara.


Saat pintu di buka, dua orang itu sangat kaget melihat tidak ada tubuh Roy di atas lantai. Seharusnya dia masih tergeletak di sana karena Jaden tadi menghadiahkan tubuh Roy dengan banyak pukulan. Roy pingsan dan bahkan hampir mati jika Nara tidak menghentikan Jaden.


"Mas Roy ke mana?" tanya Nara heran. "Apa dia sudah bangun dan kabur dari sini?" tanya Nara sekali lagi.


"Aku tidak tau, tapi dia tidak akan bisa kabur dan berjalan dengan luka yang sudah aku berikan padanya." Jaden melihat ada darah Roy yang masih bercecer menuju arah keluar

__ADS_1


kamar Nara. Jaden mengikuti jejak darah itu dengan terus menggenggam tangan Nara. Nara pun dengan perasaan cemas mengikuti ke mana pria di depannya itu membawa dirinya.


"Hati-hati, Tuan." Nara takut jika Roy masih di dalam rumah dan mencoba melukai mereka.


__ADS_2