Mr. Mafia & His Little Maid

Mr. Mafia & His Little Maid
Cinta Adikku


__ADS_3

Dimas melepas jaket kulit yang dipakainya dan memberikan pada Denna.


"Kenapa diberikan padaku? Kamu pakai saja."


"Aku tidak ingin Nona Denna nanti masuk angin dan sakit." Denna mengangguk beberapa kali.


Dimas menguncir rambut Denna dari arah depan. Gadis yang rambutnya sedang di utak-atik sama Dimas itu diam saja memandang dari dekat tampang pria yang dia cintai.


"Sekarang pakai helmnya." Dimas juga memakaikan helmnya dan Denna sekarang sudah siap naik motor.


"Ribet sekali ternyata kalau mau naik motor."


Dimas tersenyum dan mencubit kecil hidung Denna. "Nanti berpegangan yang erat padaku, Ya?"


Denna mengangguk sekali lagi. Sekarang mereka sudah di atas motornya dan gadis itu memegang kedua tepi baju Dimas.


"Peluk aku, Denna."


"Apa? Memeluk kamu?" Denna yang takut salah pendengaran mendekatkan tubuhnya pada Dimas.


"Iya, Sayang. Kamu tidak mau sampai terjatuh, kan?"


Denna tersenyum sendiri saat mendengar Dimas memanggilnya sayang. "Panggil aku sayang sekali lagi, nanti aku peluk kamu."


Dimas tidak menjawab, tapi kedua tangannya ke belakang menarik tangan Denna dan melingkarkan pada pinggangnya.


"Kita berangkat sekarang. Jangan lepaskan."


Dimas segera menjalankan motornya. Denna yang ingin melepaskan pelukannya tidak jadi karena dia takut jatuh.


"Kamu tidak takut, kan?"


"Tidak, Dimas. Ternyata menyenangkan sekali naik motor itu, apa lagi dengan orang yang kita cintai." Denna mengeratkan pelukannya.


Tidak lama mereka sampai di rumah sakit. Denna segera turun dari motor Dimas.


"Masih mau lagi?"


"Tentu saja. Mulai sekarang jika ke rumah pakai motor saja."


"Senang naik motornya, apa senang karena bisa memelukku?" Dimas melepaskan helm Denna dan merapikan rambut gadis itu.


"Memangnya kamu tidak suka aku peluk? Kalau tidak mau ya sudah." Denna yang mau pergi tangannya dengan cepat digenggam oleh Dimas.


"Nanti aku jemput kamu dan kita akan makan siang di luar," ucap Denna lembut.


"Aku akan menunggu kamu."


Dimas menunggu Denna sampai menghilang dari pandangannya. Dimas naik ke atas motornya dan pergi dari sana.


Denna naik ke lantai atas dan dia sekali lagi melihat ada V di depan ruangan Denna biasa berkumpul dengan dokter muda lainnya.

__ADS_1


"V, kamu ada apa ke sini?"


"Buat kamu." V memberikan sesuatu pada Denna.


Denna tampak bingung melihat buku besar berwarna biru. "Ini apa?"


"Bukalah."


Denna membuka buku itu, dan kedua matanya membulat melihat apa yang ada di dalamnya. "Ini lukisan wajahku? Kamu yang membuatnya?" Denna membuka satu persatu gambar wajahnya yang dilukis oleh V.


"Apa jelek ya lukisanku?"


"Ini luar biasa! Kamu ternyata selain bisa memasak, kamu juga seorang pelukis yang hebat."


"Itu untuk kamu."


"Kamu berikan semua ini untukku? Apa kamu yakin?"


"Tentu saja. Aku tidak perlu menyimpannya karena aku sudah mengingat dengan baik wajah kamu."


Denna memandang V dengan wajah terkejut. "Gambar ini sangat bagus dan kamu seolah tau setiap garis wajahku. Kamu diam-diam memperhatikan aku, Ya? Terlihat dari gambar yang kamu buat."


"Tentu saja. Aku suka memperhatikan seseorang yang menurutku pantas untuk diperhatikan. Seperti kamu."


Ada wajah seseorang tampak tertegun berdiri di balik dinding kamar rawat inap anak-anak. Dia tampak memejamkan kedua matanya menahan sesuatu yang menghantam hatinya dengan sangat keras.


"Kenapa harus Denna, V." Telapak tangannya mengepal erat.


Dimas berjalan turun ke lantai bawah dengan berlari dan hati yang tidak karuan.


"Nona Diaz, ini gelang Nona Denna, tolong kamu berikan padanya." Dimas memberikan sebuah gelang berwarna putih ke tangan Diaz.


"Kenapa tidak kamu berikan sendiri? Ruangan Denna ada di lantai dua."


"Saya masih ada urusan mendadak. Tolong berikan padanya." Dimas segera pergi dari sana.


Diaz tampak bingung melihat pada Dimas. Diaz kemudian melangkah ke lantai atas untuk menemui Denna.


"Hai, Denna," sapa V dengan wajah bahagianya.


"Hai, V, kamu mau kembali ke ruangan kamu?"


"Iya, aku baru saja di hubungi oleh dokter pembimbingku untuk segera ke ruangannya."


"Okay!" Diaz kembali berjalan dan masuk ke dalam ruangan para dokter muda, dan ternyata di sana hanya ada beberapa orang saja.


Diaz melihat Denna yang fokus melihat pada gambar dirinya yang tadi diberikan oleh V.


"Itu gambar siapa? Tidak mungkin kamu yang menggambar, kan?"


"Dari V, dia yang membuatnya untukku."

__ADS_1


"Serius?" Diaz mengambil buku gambar itu dan melihat gambar wajah Denna yang terlihat luar biasa.


"Bagus, kan?"


"Dia keren sekali bisa menggambar wajah kamu sangat detail. Kamu seharusnya bisa jatuh cinta dengan pria sweet seperti V ini."


"Diaz, aku itu sudah jatuh cinta sama orang lain. Jadi, aku tidak mungkin jatuh cinta pada V."


"Siapa? Dimas maksud kamu?"


Denna dengan ragu-ragu menganggukkan kepalanya. "Aku mencintai Dimas," ucapnya pelan.


"Hah? Kamu tidak salah? Dimas itu sudah punya kekasih. Kamu mau menjadi gadis perebut pacar orang? Aku tidak akan mau berteman sama kamu kalau kamu lakukan. Aku pernah merasakan kekasihku direbut orang lain, dan itu rasanya sakit sekali, Denna."


"Kamu jangan langsung berpikiran tentang aku seburuk itu, Diaz! Kamu itu kan mengenalku. Apa aku akan mau merebut pacar orang?"


"Lalu, foto yang aku tunjukkan kemarin?"


"Dimas dan aku sudah saling menyatakan perasaan cinta masing-masing dan Dimas sudah menjelaskan jika dia dengan Mitha hanya masa lalu."


"Kamu percaya?"


"Tentu saja. Dimas pria yang jujur, Diaz dan aku tau itu."


"Lalu, bagaimana dengan V?"


Denna mengerutkan dahinya bingung tentang pertanyaan Diaz.


"Aku dan V hanya berteman baik."


"Tapi dia menyukai kamu dan aku bisa melihat dari tatapannya sama kamu."


"Kamu jangan bercanda, Diaz. V tidak pernah mengatakan apa pun."


"Apa cinta perlu dikatakan? Kamu bisa melihat dari matanya Denna."


Denna tampak terdiam sejenak. "Aku tidak bisa menerima cintanya V, Diaz karena aku mencintai Dimas.


"Apa kamu dan Dimas sudah berpacaran?"


"Kita tidak ada kata pacaran. Dimas hanya bilang jika dia mencintaiku, dia tidak bilang apa mau menjadi kekasihku."


"Apa dia beneran serius sama kamu kalau seperti itu?"


Denna lagi-lagi tidak bisa menjawab langsung pertanyaan Diaz. "Aku percaya dia serius dan biarkan hubungan kita berjalan mengalir seperti air."


Denna menepuk jidatnya. "Sama saja. Coba kamu sama V, dia pasti tidak akan membuat kamu seolah di gantung."


"Kenapa kamu jadi membela V terus?"


"Bukan membela. Aku mencoba membantu kamu dalam hal cinta karena kamu baru kali ini jatuh cinta agar tidak disakiti, Denna."

__ADS_1


"Kamu tenang saja, aku bisa menjaga hati aku."


Tidak lama ponsel Diaz berdering dan Diaz menerima telepon dari temannya. "Apa? Kamu serius? Bagaimana bisa?" Diaz tampak terkejut wajahnya. Denna yang melihat hal itu bingung.


__ADS_2