Mr. Mafia & His Little Maid

Mr. Mafia & His Little Maid
Tubuh yang Indah


__ADS_3

Nala yang kaget sontak berteriak saat Jaden tiba-tiba menyelonong begitu saja. "Tuan? Kenapa tidak mengetuk pintu dulu?"


Nara sadar jika dia hanya menggunakan pakaian dalamnya yang baru dibelikan oleh Jaden langsung mengedarkan pandangannya mencari kain untuk menutupi tubuhnya. Mata Nara menangkap handuk mandi miliknya yang tadi di lempar sembarangan di atas ranjang tidurnya.


Nara berlari kecil untuk meraih handuk itu, tapi tangan Jaden lebih dulu mendapatkannya hingga tubuh Nara malah menabrak tubuh pria tinggi besar itu.


"Aduh, sakit!" Hidung Nara yang memang mancung menjadi merah setelah menabrak dada bidang Jaden.


"Kamu mau apa? Mau ini?" Jaden menunjukkan handuk milik Nara yang ada ditangannya.


"Tuan, berikan handukku." Nara menyilangkan tangannya untuk menutupi tubuhnya. "Kamu sangat tidak sopan masuk seenaknya di kamarku."


"Apa? Kamar kamu? Apa kamu lupa jika ini adalah rumahku?"

__ADS_1


"Iya, aku tau ini rumah kamu, tapi seharusnya kamu tidak masuk begitu saja apalagi di kamar yang ada orangnya. Tuan, berikan handuknya," rengek Nara sekali lagi. Dia benar-benar malu dilihat Jaden seperti saat ini.


Jaden melempar handuk Nara menjauh, Nara yang melihatnya mendelik tidak percaya. "Handuknya," ucapnya lirih seolah-olah kehilangan harga yang paling berharga dalam hidupnya.


Tangan Jaden pun bergerak cepat menarik tubuh Nara mendekat ke arahnya. Gadis itu kaget sekali lagi saat tangan besar Jaden memeluk pinggang Nara.


"Dengar ya, Gadis Bodoh! Semua yang ada di rumah ini adalah milikku, termasuk kamu dan semua yang ada pada diri kamu adalah milikku," ucap Jaden menekankan.


"Agar kamu tau, siapa kamu di rumah ini!" Bentak Jaden kasar, dan seketika membuat Nara terdiam kaku. Dia tidak menyangka jika Jaden akan berkata sekeras itu padanya.


"A-aku--." Nara sekarang menjadi takut melihat tatapan mata Jaden.


Tangan Jaden satunya mencengkeram erat dagu Nara dan mengangkat wajah Nara untuk melihat pada wajah Jaden. "Kamu hanya seorang gadis yang dijual padaku, dan kamu akan menjadi pelayanku untuk selamanya, jadi kamu jangan berbuat sesuatu tanpa seizin dariku apalagi membuatku marah."

__ADS_1


Nara merasakan cengkeraman Jaden yang sangat kasar dan kuat. Dagu Nara seolah mau remuk saja. "Sa-kit, Tuan." Rintih kesakitan Nara dan Nara tau arah bicara Jaden, dan ini pasti soal telepon itu.


"Ini belum seberapa gadis tidak tau diri. Kalau kamu berani berbuat tanpa seizinku lagi. Aku akan mencambuk tubuh kamu sampai kamu akan mengingat tentang semua perintahku. Kamu adalah pelayanku dan semua yang kamu lakukan dibawah perintahku. Camkan itu!" Jaden mendorong tubuh Nara sampai gadis itu jatuh ke lantai. Jaden berjalan dengan tegas keluar dari kamar Nara.


Nara yang mendapat perlakuan itu lagi-lagi ingin menangis, tapi air matanya tetap tidak bisa keluar.


"Tidak... aku tidak boleh menangis. Aw... tanganku sakit sekali." Nara memegang sikutnya yang ternyata memar terbentur lantai.


Jaden langsung menuju kamarnya dan dia segera menuju kamar mandinya untuk mengguyur tubuhnya dengan air dingin dari shower.


"****! Kenapa tubuhku menjadi menegang begini saat berdekatan dengan tubuh gadis itu?" Jaden ternyata dari tadi menahan sesuatu yang ingin meledak pada dirinya.


Sebuah bayangan seorang wanita dengan baju seksinya duduk di pangkuan Jaden dan mereka saling beradu bibir. Tampak tangan Jaden mengusap punggung wanita dengan pakaian berwarna merahnya.

__ADS_1


__ADS_2