
Wanita paruh baya itu menatap Nara dan tau jika Nara sedang sedih hatinya. Apalagi cucunya pergi entah ke mana, malahan Jaden meminta tolong nenek untuk menjaga Nara.
"Nara, kalau kamu mau menangis, kamu menangis saja."
Nara memeluk Nenek dan menangis di pelukan Nenek Miranti. "Aku membutuhkan Tuan JL, Nek. Kenapa dia malah meninggalkan aku sendirian di sini. Aku tidak mau membalas perbuatan Mona karena aku tidak ingin Tuan JL mendapat masalah."
"Aku tau, tapi kamu tau sendiri sifat kekasihmu itu, Nara. Jaden tidak akan melepaskan orang yang sudah menyakiti orang yang dia sayangi."
"Jujur, Nek. Aku ingin Tuan JL bisa berubah dengan menjauhi semua yang dia lakukan. Aku ingin suatu hari nanti hidup damai tanpa rasa was-was dengan anak-anak kami."
Wanita paruh baya itu tersenyum. "Kamu mirip sekali dengan nenek waktu itu, tapi Nenek ingatkan jika tidak semudah itu membuat Jaden seperti apa yang kamu mau. Nenek juga dulu berharap memiliki keluarga bahagia dengan rasa aman, tapi kakek Jaden benar-benar pria yang bisa membuat ketakutan nenek hilang, tapi tetap saja dia tidak bisa lepas begitu saja dari dunia yang sudah membuat dia besar."
"Dan banyak musuhnya," jawab Nara cepat.
"Benar. Kamu jangan bersedih terus." Tangan nenek mengusap lembut pipi Nara untuk menghapus air mata Nara. "Nanti kalau kamu dan Jaden sudah menikah, kalian bisa memiliki anak lagi yang sangat banyak. Nenek sebenarnya sangat bersedih dan masih tidak percaya jika nenek tidak jadi memiliki cicit, tapi nenek kembali berpikir bahwa mungkin ini sudah takdirnya."
Nara memegang perutnya. "Nek, aku sudah tidak mau memaksa atau terlalu berharap lagi Tuan JL menikahi. Apa lagi setelah pertengkaran kita ini. Dia pasti sangat kesal sama aku."
"Jaden sangat mencintai kamu dan dia tidak akan meninggalkan kamu. Dia bahkan tidak akan bisa hidup jika jauh dari kamu Naranya." Nenek mencubit kecil hidung Nara.
"Nenek." Nara tampak malu.
Tidak lama pintu kamar Nara dibuka oleh seseorang dan ternyata itu dokter Will.
"Hai, Nara."
"Dokter Will?"
"Maaf, aku baru tau kejadian yang menimpa kamu. Aku yang baru pulang dari New York langsung ke sini ingin bertemu dengan kamu. Bagaimana keadaan kamu sekarang?"
"Aku sudah lebih baik, Dok."
"Nenek, aku kangen sekali sama nenek." Will memeluk nenek Miranti.
"Sebenarnya nenek sangat marah sama kamu karena kamu tidak bisa hadir di acara pernikahan Jaden, walaupun pernikahan mereka tidak jadi."
__ADS_1
"Sekarang aku bisa hadir di acara pernikahan mereka, Nek. Bahkan aku akan menjadi saksi untuk mereka." Will mengedipkan salah satu matanya pada Nenek Miranti.
Tidak lama masuk seorang pria yang sangat Nara kenal. Pria itu tampak sangat tampan dengan setelah kemeja hitamnya tanpa dasi.
"Tuan JL?" Nara tampak agak kaget ada Jaden di sana dan ternyata dia datang dengan paman Benu dan beberapa orang.
"Tuan JL, ada apa ini?"
Pria itu berjalan mendekat pada Nara dan mengusap lembut wajah yang sangat dia cintai itu. "Kamu jangan berpikir jika aku tidak memiliki alasan lagi untuk menikah dengan kamu. Justru aku memiliki banyak alasan kenapa aku harus menikahi kamu. Alasanku karena aku tidak bisa hidup tanpa kamu, Nara."
Nara seketika menangis dan memeluk erat kekasihnya itu.
"Pak, segera kita laksanakan pernikahan mereka, jangan lama-lama," pinta Will.
"Nara, paman minta maaf karena sikap Mona yang sudah membuat kacau di pernikahan kamu dan Jaden. Bahkan sampai menyebabkan kamu kehilangan bayimu," ucap Paman Benu.
"Tidak perlu dibahas lagi. Sekarang kita laksanakan pernikahanku dengan Nara dan segera akan aku bawa Nara pergi dari negara ini."
"Apa? Kita menikah tengah malam begini?" Nara agak kaget.
"Tapi kenapa tidak menunggu aku pulang dari rumah sakit dulu dan kita bisa mempersiapkan semuanya."
"Kamu masih menginginkan pernikahan yang mewah dan dihadiri banyak orang?" tanya Jaden lirih.
Nara menggeleng. "Tidak sebenarnya. Aku lebih ingin dapat menikah dengan kamu saja dan hidup bahagia bersama kamu." Nara menatap Jaden Nanar.
"Kalau begitu kita langsungkan pernikahan kita sekarang."
Nara yang memakai baju rumah sakit duduk dan disebelahnya Jaden memeluk Nara. Semua yang di butuhkan pernikahan itu sudah Jaden penuhi.
Jaden juga meminta bantuan penghulu tengah malam begini. Penghulu itupun mau karena memang Jaden berniat baik menikahi Nara walau waktunya membuat penghulu itu menggelengkan kepalanya.
Dia takut sama Jaden. Wkakaakak.
Paman Benu di sana menjadi wali untuk mempelai wanita. Acara berlangsung dengan khidmat dan sakral karena hanya di hadiri oleh beberapa orang saja.
__ADS_1
Beberapa jam kemudian, Nara berserta nenek menirukan air mata saat kata mereka sah menjadi suami istri terucap dari mulut penghulu pernikahan itu.
Jaden dan Nara sudah dinyatakan sah menjadi suami istri saat Jaden dengan satu tarikan napas berhasil mengucapkan ijab qobul.
Semua di sana tampak bahagia. Jaden mengecup kening Nara dan memeluknya dengan erat.
"Akhirnya, Tuan Jaden dan Nara menjadi suami istri sekarang. Aku sempat takut jika mereka tidak jadi menikah," ucap Leo dan dia sebelahnya ada dokter Stella yang menyaksikan juga acara itu karena dia ada tugas jaga malam.
"Nara, paman ucapkan selamat atas pernikahan kalian. Paman turut senang dengan pernikahan kalian."
"Kamu bisa pergi dari sini karena tugas kamu sudah selesai. Aku juga sudah mentransfer sejumlah uang untuk kamu dan keluargamu."
"Iya, aku permisi dulu." Benu segera pergi dari sana.
"Nara, selamat atas pernikahan kalian."
"Terima kasih, Mas Leo." Nara memeluk Leo.
"Ehem! Kenapa pakai acara pelukan segala?" Tangan Jaden menarik tubuh Leo menjauh dari Nara.
"Kamu kenapa sih, Tuan JL? Aku hanya berpelukan biasa dengan Mas Leo. Lagi pula Mas Leo dan aku tidak ada hubungan apa-apa."
"Tidak boleh! Kamu sekarang sudah menjadi istriku dan aku melarangnya."
"Tapi--."
"Jangan beralasan apapun. Kamu juga sekarang tidak mengidam, jadi tidak memerlukan dekat dengan Leo lagi."
Nara seketika melihat pada Jaden dengan mata yang sedih. Jaden seolah mengingatkan tentang bayi mereka yang sudah diambil Tuhan.
Jaden yang merasa ucapannya salah pada Nara seketika mendekat pada Nara. "Maaf, aku tidak bermaksud membuat kamu teringat pada bayi kita. Sekarang aku akan membawa kamu pergi dari sini. Kita akan berbulan madu di tempat yang hanya ada kita berdua. Tidak ada orang lain yang aku beritahu ke mana aku akan membawa kamu."
"Kamu mau menculikku lagi?"
"Kali ini aku menculikmu untuk menjadikan kamu ibu dari anak-anakku, bukan sebagai pelayanku," bisik Jaden pada telinga Nara.
__ADS_1