
Diaz tampak aneh sebenarnya dengan pesan yang Denna kirimkan.
"Kenapa mendadak seperti ini? Apa terjadi sesuatu dengan Denna?" Diaz mencoba menghubungi Denna.
"Diaz, aku minta maaf, nanti aku hubungi kamu karena baterai ponselku habis." balas Denna.
Diaz yang merasa ada yang salah mencoba menghubungi ponsel Denna, tapi ponsel Denna sudah tidak aktif. Diaz yang sekarang merasa ada yang aneh langsung menghubungi ponsel Nara.
"Tante Nara ke mana? Kenapa ponselnya tidak diangkat? Apa aku harus menghubungi ponsel ayah Denna? Tapi aku tidak punya nomornya?"
Rio yang berada di sana tampak heran melihat wajah bingung Diaz. "Kamu kenapa, Diaz? Apa ada masalah?"
Diaz mengatakan kecemasannya pada Denna yang tau-tau mengabari jika dia sudah pulang lebih dulu untuk menyusul ayahnya ke rumah paman tampannya di luar kota.
"Diaz, Denna mungkin memang sedang menuju rumah pamannya, kamu tidak perlu cemas."
"Iya, tapi kenapa mendadak sekali dan tidak memberitahu secara langsung? Apa lagi dia tadi tidak mengatakan di mana dia berada, kenapa dia lama mengambil minuman?"
Rio memegang tangan Diaz. "Diaz, kamu jangan khawatir, aku yakin jika sahabat kamu itu pasti baik-baik saja. Sebaiknya kita berdansa saja di sana." Tangan Rio menjulur menunggu disambut oleh Diaz.
"Apa? Berdansa?" Diaz seketika mendelik mendengar ajakan Rio.
"Kenapa? Kamu tidak bisa berdansa? Kamu pikir aku juga bisa berdansa? Aku juga tidak bisa dansa."
"Oh...! Jadi kamu mencari teman yang sama-sama tidak bisa berdansa?" Rio mengangguk dan mereka berdua saling tertawa.
Di kamar tidurnya. Evans yang baru sadar dari pingsannya mencari di mana ponselnya, kemudian dia menghubungi saudara sepupunya-- Mandy.
"Halo, saudara sepupuku, ada apa? Kenapa cepat sekali menghubungiku? Aku kira besok pagi baru kamu akan meneleponku. Apa permainan gadis itu sangat buruk?" ejek Mandy.
__ADS_1
"Denna tidak bersamaku. Ada pria aneh yang tiba-tiba bisa masuk ke dalam kamar hotelku dan menghajarku. Kemudian dia membawa Denna pergi dari kamarku sebelum aku melakukan apa yang aku inginkan pada Denna." Evans sambil mengelap darah pada tepi bibirnya.
"Apa? Pria aneh? Siapa dia? Dan bagaimana bisa dia masuk ke dalam kamar kamu?" Mandy tampak heran.
"Aku tidak tau. Sekarang yang membuat aku kesal adalah aku gagal melakukan rencana aku untuk menghancurkan Kesombong gadis itu."
"Aku akan ke kamar kamu sekarang." Mandy menutup ponselnya. Mandy segera berjalan menuju kamar Evans yang tidak jauh dari kamar Mandy juga menginap. "Oh my God! Wajah kamu dipukulnya sampai seperti ini?" Mandy melihat lebam dan darah keluar dari bibir Evans.
"Aku tidak tau siapa pria itu karena dia memakai masker dan penutup kepala dari sweter yang dia kenalan."
Mandy tampak berpikir sebentar. "Apa mungkin dia anak sekolah kamu juga yang diam-diam menyukai Denna? Sekarang dia yang malah memiliki Denna."
"Tidak mungkin. Di sekolah tidak akan berani ada yang melawanku. Aku yakin dia orang lain. Setahuku Denna juga tidak memiliki kekasih." Evans tampak penasaran siapa yang sudah menghajarnya dan membawa Denna pergi?
***
"Kepalaku pusing sekali." Denna memegangi kepalanya dan berusaha duduk bersandar pada tepi kamar tidurnya. Denna perlahan mengingat apa yang terjadi dengannya kemarin malam. "Evans!" Dia melihat pada dirinya, lalu melihat pada sekitarnya dan dia sadar jika berada di dalam kamarnya.
"Nona sudah bangun?" tanya seorang pria yang ternyata tidur di sofa depan ranjang Denna.
"Kamu siapa? Dan kenapa kamu bisa berada di dalam kamarku?" Denna memegangi selimutnya dengan erat.
"Nona jangan khawatir. Saya tidak akan menyakiti, Nona Denna." Pria di hadapan Denna itu melepas topi dan masker hitam yang dia pakai. Denna tampak sedikit terkejut melihat wajah seorang pria dengan mata yang memiliki iris coklat serta terlihat tajam. Apa lagi alis tebal dan hidung mancung itu benar-benar terlihat tampan.
"Ka-kamu siapa? Dan kenapa bisa berada di kamarku? Bukannya kemarin malam aku sedang ada di hotel di mana temanku merayakan ulang tahunnya?"
"Nama saya Dimas dan saya adalah bodyguard Nona Denna."
"Apa? Bodyguard?" Denna tampak speechlees beberapa detik sampai akhirnya dia tersadar karena panggilan pria yang baru saja memperkenalkan dirinya.
__ADS_1
"Nona, ini minum obat Nona dulu agar pengaruh obat yang diberikan pria kurang ajar itu hilang." Pria itu memberikan obat dan segelas air pada Denna.
"Tunggu sebentar. Ceritakan dulu bagaimana aku bisa berada di dalam kamarku?"
"Nona minum dulu dan kemudian akan saya ceritakan." Denna akhirnya mau minum obat itu dan bersiap mendengarkan apa yang terjadi dengan dirinya. "Sekarang kamu ceritakan padaku, Dimas."
"Kemarin malam Nona sebenarnya dijebak oleh dua orang saudara sepupu itu, dan saat saya memasuki kamar pria itu--." Dimas terdiam sejenak.
"Katakan apa yang terjadi padaku, Dimas?" Denna seketika cemas mendengar kelanjutan apa yang akan dikatakan oleh Dimas.
"Pria itu sudah membuka baju Nona Denna dan berada di atas tubuh Nona. Dia hampir saja melecehkan Nona Denna."
"Apa?" Seketika Denna meneteskan air matanya perlahan. "Kenapa Evans sampai setega itu? Dia benar-benar pria yang jahat."
Dimas tidak berkata apa-apa lagi. Dia hanya menyodorkan tisu pada Denna. Denna mengambilnya dan segera menghapus air matanya. "Nona sebaiknya segera bersiap-siap dan makan pagi di bawah. Saya akan mengantar Nona ke rumah keluarga Tuan Jo--Paman Nona Denna."
"Aku mau bertemu dengan ayah dan mamaku." Denna membuka selimutnya dan turun dari atas tempat tidurnya. "Dimas, tunggu!" Dimas hanya melihat pada Denna. "Siapa yang mengganti bajuku, Dimas?"
"Pelayan Nona yang mengganti baju Nona, saya hanya menemani tidur di sofa itu. Permisi."
Dimas berjalan keluar dari dalam kamar Denna. Denna terdiam di tempatnya. "Ayah kenapa tidak mengatakan padaku tentang bodyguard itu? Tapi berkat ayah juga aku tidak harus mengalami kejadian yang pastinya akan membuat masa depanku hancur. Evans, aku tidak akan memaafkan kamu dan juga saudara sepupu kamu itu." Denna mengepalkan erat tangannya.
Denna sudah bersiap-siap dia turun ke lantai bawah dan segera masuk ke ruang makan. DI sana dia melihat Dimas sedang berdiri dengan penampilan rapinya. Dimas menggunakan setelan kemeja berwarna hitam tanpa suit. Kedua lengan tangannya digulung ke atas.
"Apa kamu sudah makan?" Dimas menggeleng. "Kalau begitu kamu duduk saja dan ikut makan bersamaku."
"Saya makan nanti saja, Nona. Nona silakan makan dulu, saya mau menyiapkan mobil di luar." Dimas sekali lagi berjalan pergi dari sana dengan dingin.
"Aku harus bicara pada ayah, apa Dimas akan mengikutiku terus nantinya? Jujur saja aku tidak suka jika diikuti oleh seorang bodyguard." Denna memanyunkan bibirnya kesal.
__ADS_1