Mr. Mafia & His Little Maid

Mr. Mafia & His Little Maid
Acara Amal part 2 (Bertemu Lagi)


__ADS_3

Nara memegang tangan Jacob, memberikan senyum hangatnya untuk Jacob.


"Aku yakin Jacob akan bisa berjalan lagi, walaupun jika dokter mengatakan kesempatannya satu persen."


"Satu persen itu bukan kesempatan, Nara. Itu sudah memang tidak ada harapan, hanya saja dokternya tidak mau memakai kata-kata yang akan membuat pasiennya sedih."


"Tapi aku akan tetap berusaha agar kakiku bisa sembuh, Leon."


"Ya kamu berharap saja terus. Oh ya, Nara. Apa kamu sudah memiliki kekasih? Kamu sangat cantik dan jangan bilang kalau kamu tidak memiliki kekasih." Mata Leon melirik pada Jacob.


"A-aku masih belum memikirkan hal itu dulu. Jacob, aku mau ke kamar mandi sebentar. Kamu tidak apa-apa, kan aku tinggal di sini?"


"Tidak apa-apa, Nara. Kamu pergilah, mungkin sebentar lagi kedua orang tuaku kembali."


Nara juga izin pada Leon dengan hanya menggunakan isyarat dan berjalan pergi dari sana.


Setelah melihat Nara agak jauh. Leon duduk mendekati Jacob. "Jacob, sebaiknya kamu jauhi Nara, kasihan dia kalau harus mengursusi pria lumpuh seperti kamu walaupun kedua orang tua kamu sangat kaya, tapi jangan siksa gadis itu."


"Apa maksud kamu? Aku tidak pernah menyiksa gadis itu. Jika pun Nara menerimaku, dia menerima keadaanku dengan tulus. Nara gadis yang baik."


"Hahahaha! Tulus? Jangan-jangan kamu mengiming-imingi dia dengan uang kamu."


"Jaga mulut kamu. Nara itu bukan gadis yang mudah dibeli."


"Ahahaha! Kamu polos sekali pria lumpuh. Tidak ada seorang wanita yang tidak menginginkan uang. Mereka semua menginginkan uang."


"Tapi Nara bukan gadis yang seperti itu."


"Apa mau kita buktikan? Aku akan mencoba menarik perhatian Nara. Aku tampan, kaya, dan yang pasti aku sehat karena memiliki kaki. Bukan seperti kamu. Jika Nara menerimaku, kamu jangan bunuh diri, ya?" Leon menyeringai dan beranjak pergi dari sana.


Nara yang baru saja keluar dari kamar mandi ditabrak oleh seseorang dan Nara merasakan bajunya yang basah karena ternyata orang yang menabraknya itu membawa minuman yang tentu saja tumpah pada baju Nara.


"Hei! Hati-hati kalau berjalan!" seru Nara kaget.


"Nara! Aku minta maaf karena tidak sengaja menabrak kamu."

__ADS_1


Nara mengangkat kepalanya dan ternyata itu Leon. "Leon? Jadi kamu yang tidak hati-hati."


"Aku minta maaf, aku akan membersihkan baju kamu."


"Tidak perlu, Leon, biar aku yang membersihkannya sendiri." Nara mengipas-kipaskan bajunya dengan tangan.


"Tidak apa-apa." Leon mengambil sapu tangan pada saku celananya.


Saat tangannya akan menyentuh bagian dada Nara. Nara reflek mundur ke belakang. "Tidak perlu, Leon, aku bisa sendiri."


"Tidak apa-apa, Nara. Aku akan melakukannya dengan lembut." Tangan Leon tetap memaksa.


"Aku tid--." Nara terdiam saat dia melihat di depannya sebuah tangan besar menggenggam erat pergelangan tangan Leon yang ingin tetap memaksa membersihkan baju Nara.


"Auw ... sakit!" Rintih Leon karena genggaman pria itu sangat kuat seolah ingin mematahkan tangan yang dipegangnya.


"Tuan JL," ucap Nara lirih.


"Apa kamu tidak mendengar apa yang gadis itu katakan padamu? Dia bisa membersihkan bajunya sendiri, jadi kamu tidak perlu membantunya," ucap Jaden terdengar tegas dan menekankan.


"Kamu siapa? Lepaskan tanganku!"


Jujur saja, Leon tampak takut melihat aura kejam dan tidak enak dari raut wajah pria di depannya itu.


"Kamu tau namaku?"


"Aku bahkan tau semua tentang keluarga kamu. Pergi sekarang atau aku tidak takut menghabisi kamu di sini."


Jaden melepaskan cengkraman tangannya dan Leon yang tidak mau mengambil resiko karena melihat pria itu tampak serius dengan ucapannya memilih pergi dari sana.


Nara menatap punggung pria yang dia cintai itu dengan tatapan nanar.


"Terima kasih, Tuan. Kalau begitu aku permisi dulu." Nara hendak berjalan melewati Jaden, tapi pria itu memegang tangan Nara.


"Ikut aku, Nara." Jaden menggandeng tangan Nara dan membawanya pergi dari sana.

__ADS_1


"Tuan JL mau membawaku ke mana?" Nara tampak bingung. Dia berjalan di belakang Jaden.


Jaden membawa Nara masuk ke dalam sebuah ruangan yang ada di gedung acara itu. Itu seperti ruang untuk ganti baju jika ada pengunjung di sana menginginkan hal privasi.


"Untuk apa Tuan JL membawaku ke sini?" Nara menatap nanar sekali lagi pria itu.


"Aku merindukan kamu, Nara." Setelah mengatakan hal itu Jaden dengan tanpa permisi pada Nara langsung menangkup wajah Nara dan mengecupi bibir Nara dengan agak liar. Jaden seolah ingin menghabiskan bibir manis Nara yang sangat dia rindukan.


Nara hanya bisa pasrah mendapat perlakuan pria yang sangat dia cintai, tapi menyakitinya itu. Nara pun sebenarnya sangat merindukan juga ciuman manis namun agak liar yang selalu Jaden berikan untuknya.


Jaden menarik perlahan ciumannya setelah dia puas melepas kerinduannya pada Nara. Napas Jaden terdengar naik turun dengan tetap menyandarkan dahinya pada dahi Nara.


Kedua mata yang dulu saling menginginkan bertemu kembali. "Apa hanya ini yang kamu inginkan jika bersamaku? Bukannya kamu bisa mendapatkan yang lebih dari ini dari kekasih kamu, Tuan JL."


"Nara." Jaden masih menangkup wajah Nara, tapi dia sekarang bingung akan mengatakan apa pada Nara. Dia mengatakan rindu bahkan menciumi Nara, tapi dia mengaku sudah memiliki wanita lain. Jaden bukan seorang playboy. Jaden seorang pria sejati yang tidak bisa mengakui cintanya karena baginya kebahagiaan keluarganya lebih penting.


"Lepaskan tangan kamu, Tuan JL. Jacob sudah menungguku." Nara perlahan melepaskan tangan Jaden dari pipinya walaupun itu sangat berat.


"Nara, apa kamu mencintai Jacob?"


Nara yang sudah berbalik arah kembali membalikkan tubuhnya dan melihat pada Jaden dengan tatapan datar.


"Apa itu penting untuk kamu, Tuan JL?"


Jaden sama sekali tidak akan rela jika Nara ternyata sudah jatuh cinta pada Jacob.


"Apa urusan kamu jika aku sekarang mencintai Jacob?"


Jaden seolah tidak terima mendengar hal itu dia menarik tubuh Nara kembali mendekat padanya. "Apa kamu bisa melupakan aku, Nara?"


Jaden yang sebenarnya dari tadi tidak kuat melihat penampilan Nara yang sangat cantik dan menahan rindunnya. Ingin sekali merengkuh gadis itu ke dalam dekapannya. Jaden kembali mengecupi bibir Nara bahkan sekarang dia berpindah pada leher kecil Nara yang terekspose karena baju model leher simetrisnya.


"Hentikan, Tuan JL." Nara mencoba menghentikan apa yang Jaden lakukan padanya, tapi pria itu seolah tidak peduli dengan ucapan Nara. Dia benar-benar kesal dengan ucapan Nara.


"Kamu menyukainya, bukan?" Jaden menyandarkan Nara pada dinding dan menahan kedua tangan Nara ke atas kepala agar tangan Nara tidak mengganggu kegiatannya.

__ADS_1


"Aku hamil, Tuan JL."


Deg!


__ADS_2