
Denna masih mengedarkan pandangan mencari di mana keberadaan Dimas.
"Apa dia benar-benar minder dan tidak mau datang ke sini?" Wajah Denna tampak kesal.
"Nona Denna, maaf saya datang terlambat," suara seseorang di belakang Denna.
"Dimas! Kamu kenapa baru datang? Lalu, mana adik kamu?"
"Adik saya tidak bisa ikut karena dia ada acara di sekolahnya dan tadi saya masih rapat sebentar di sekolahnya."
"Oh ... jadi karena itu kamu datang terlambat ke sini?"
"Iya, Nona."
Denna memperhatikan Dimas dari atas sampai bawah, dan dia malah terkekeh kecil. Dimas bingung kenapa nona Dennanya ini malah tertawa?
"Kamu benar-benar bisa ya mengakali sesuatu."
"Maksud Nona Denna?"
"Kamu aku suruh memakai baju warna salem, tapi kamu hanya memakai dasi warna salem. Apa itu baru beli?" Dimas mengangguk. "Pasti susah mencari dasi warna salem?"
"Sangat," jawabnya singkat.
"Tapi perpaduannya bagus juga. Kemeja warna hitam dan dasi warna salem. Bagus."
Dimas berjalan mendekat dan dia mengeluarkan sesuatu dari kantong celananya. "Ini untuk Nona Denna. Selamat ulang tahun."
Kedua mata Denna tampak langsung berbinar melihat sebuah paper bag kecil berwarna hitam.
"Ini apa, Dimas? Kamu seharusnya tidak perlu membawakan aku hadiah karena dengan kamu datang saja aku cukup senang."
"Tidak apa-apa, Nona. Saya juga berharap kado pemberian saya mau disukai oleh Nona Denna."
Denna melihat ke dalam paper bag itu dan tangannya mengeluarkan apa yang ada di dalamnya. "Scarf?"
"Saya tidak tau mau membelikan apa karena Nona Denna sudah memiliki semuanya."
"Tidak apa-apa, aku suka. Kebetulan aku tidak mempunyai koleksi scarf warna salem. Baru kali ini aku punya. Terima kasih ya, Dimas."
"Sama-sama, Nona Denna."
"Aku akan menyimpannya. Ayo sekarang kita ke tempat nenek dan keluargaku. Apa kamu tidak ingin menyapa mereka?"
"Tentu saja."
__ADS_1
Dimas bersama Denna menuju ke meja di mana keluarga Denna berada, dan tampak dari kejauhan dua pasang mata melihat dan memperhatikan mereka terus.
"Siapa dia sebenarnya? Dan kenapa dia bisa diterima oleh keluarga Denna? Apa dia anak orang terpandang?" tanya Mandy.
"Denna dan keluarganya memang keluarga terpandang, tapi sangat menghargai orang lain, tidak suka membeda-bedakan kasta seseorang."
"Kasihan kamu, saudara sepupuku. Kamu yang anak orang kaya dan tampan, bahkan di kagumi banyak cewek di sekolah kamu, tapi harus kalah dengan pria dari kalangan biasa yang hanya menang tampang."
"Diam kamu, Mandy! Aku sedang mencari cara untuk membuat hubungan Denna dan pria brengsek itu berakhir dan akhirnya Denna sadar jika pria pilihannya itu tidak lebih baik dariku."
"Kamu jebak saja pria itu dan aku akan membantu kamu." Evans melihat bingung pada Mandy.
"Aku akan mendekati pria yang menjadi kekasih Denna. Aku ingin lihat, dia pria yang setia atau sama seperti kamu." Mandy melirik pada Evans.
"Bagus juga ide kamu. Kita akan membuat rencananya, tapi tidak di sini."
"Jika pria itu masuk ke dalam jebakanku, aku akan dengan senang hati memberikan diriku. Jujur saja aku mulai tertarik dengannya. Dia sangat menawan." Wajah Mandy tersenyum dengan licik. Dia persis sekali dengan maminya-- Mauren.
"Kamu boleh memilikinya dan biarkan Denna menjadi milikku." Mereka berdua saling bersulang dan tersenyum licik dan jahat.
Keluarga Denna tampak sangat bahagia malam ini. Denna tidak tau jika Evans dan Mandy sudah menyusun rencana untuk dirinya.
***
Hari-hari berlalu dengan cepat. Hari ini adalah hari pertama Denna masuk kuliah setelah dia menjalani MOS. Denna tampak di dalam mobil dengan Dimas yang selalu menemani Denna.
"Aku sebenarnya senang bisa kuliah di sini, tapi aku agak kecewa saat mengetahui jika Mandy saudara sepupu Evans ternyata juga satu tempat kuliah denganku."
"Apa salahnya? Mungkin dia memang ingin menjadi dokter dan bisa menolong orang lain."
"Tapi apa yang dia lakukan padaku waktu itu aku benar-benar membencinya. Dia licik sekali."
"Nona Denna lebih waspada saja dan jangan mudah percaya dengan orang, apa lagi orang yang baru Nona kenal "
"Iya. Sejak saat itu aku mulai tidak mau percaya lagi dengan orang yang baru aku kenal."
"Jadi, sekarang tidak perlu memikirkan tentang saudara sepupu Evans yang satu kuliah dengan Nona. Nona Denna di sini untuk belajar, jadi tidak perlu memikirkan hal lainnya.".
"Iya, aku bodoh sekali. Kenapa malah memikirkan hal yang tidak penting." Denna mencari sesuatu.
"Nona mencari apa?"
"Ikat rambutku. Apa aku lupa membawanya?" Denna melihat ke dalam dashboard dan tidak ada. Di dalam dompetnya juga tidak ada."
"Apa perlu saya belikan?"
__ADS_1
"Tidak perlu, Dimas. Aku bawa scarf kamu. Aku pakai itu saja."
"Nona membawa scarf saya ke manapun?"
Denna tampak bingung mau menjawab apa? Dia tidak mau di anggap menyukai Dimas karena bagi Denna yang harus menunjukkan cinta itu seorang pria dulu, bukan wanita.
"Sebenarnya tidak membawa ke manapun, hanya saja ini terbawa ke dalam tasku karena kemarin saat aku diajak mamaku aku memakai baju yang cocok jika aku tambahkan scarf ini. Itu saja."
"Terima kasih sudah menyimpannya dengan baik."
Denna mengangguk dan memakai scarf untuk mengikat rambutnya.
"Nona, maaf, rambut Nona ada yang tertinggal." Tangan Dimas melepas scarf Denna dan mencoba membantu menjadikan satu rambut yang keluar dan kembali mengikatnya dengan scarf. Wajah mereka tampak sangat dekat, bahkan Denna dapat mencium aroma napas Dimas.
Jantung Denna berdetak tidak karuan. Dimas pun entah kenapa merasakan hal yang tidak karuan saat memandang lekat wajah Denna.
"A-aku--."
Cup
Entah devil dari mana yang merasuki Dimas. Dia malah mencium bibir Denna.
Menikmatinya dengan lembut, dan semakin dalam karena lawannya pun menyambut kecupan Dimas.
Kebetulan kaca mobil Denna hitam dan tidak akan mudah terlihat dari luar.
Dimas melepaskan ciumannya setelah dia seperti sadar jika dirinya baru saja melakukan hal yang salah.
"Sa-saya minta maaf, Nona Denna."
"Kenapa kamu tiba-tiba menciumku? Apa itu tadi hanya kamu terbawa napsu?"
Dimas dengan cepat menggeleng. "Jangan berkata seperti itu. Saya merasakan sesuatu yang saya sendiri tidak tau apa itu?"
"Aku juga salah, kenapa aku tadi malah menikmati ciuman kamu."
"Kalau Nona ingin marah dengan saya, saya akan terima."
Denna menggeleng cepat. "Aku tidak marah. Dimas apa kamu menyesal sudah menciumku?"
Dimas menatap lekat Denna sekali lagi. "Saya sangat menyesal sudah melakukan hal yang salah tadi."
"Tapi aku tidak menyesal atas kejadian yang tadi." Denna tiba-tiba mukanya kesal dan turun dari mobil.
Dimas agak kaget, kenapa Nona Denna tiba-tiba marah seperti itu? Apa ucapannya tadi ada yang salah?
__ADS_1
"