
Wanita cantik di depannya menatap cucu kesayangannya itu dengan pandangan serius. "Nenek kenapa melihatku seperti itu? Apa ada yang salah denganku!"
"Nenek benar-benar tidak menyangka kamu bisa semirip itu dengan kakek kamu, tapi kakek kamu lebih baik. Kenapa sikap kamu seperti tadi dengan kenalan kamu?"
"Nek, aku bilang hari ini akan menghabiskan waktu hanya berdua dengan nenek, bahkan aku tidak mengaktifkan ponselku agar tidak ada yang mengganggu kita," jawab Jaden santai.
"Baiklah." Tangan wanita itu kembali mengambil pisau dan garpunya. "Sayang, bagaimana menurut kamu tentang Mona putri Pak Benu itu?" tanya Nenek yang bicara tanpa melihat pada Jaden.
"Mona siapa?"
"Jaden! Jangan pura-pura tidak ingat dengan gadis manis yang tadi baru berkenalan dengan kita tadi."
"Oh gadis itu. Aku menyukainya," jawab Jaden singkat tanpa melihat juga pada neneknya.
"Benarkah? Nenek senang mendengarnya. Walaupun dia masih jauh usianya sama kamu, tapi nenek lihat dia baik, periang dan gampang sekali akrab dengan orang lain. Dia juga cantik. Apa mau berkenalan lebih lanjut dengannya?"
Jaden seketika menghentikan gerakan tangannya yang sedang memotong daging steaknya dan melihat pada neneknya. "Aku sangat menyukai gadis kecil yang bernama Lisa itu. Dia terlihat sangat polos dan pemberani."
"Oh Tuhan! Kenapa cucuku seperti ini!" Wanita cantik itu memutar bola matanya jengah.
"Aku tidak tertarik dengannya. Nenek kenapa pusing memikirkan tentang wanita untukku? Nenek jangan takut, walaupun aku tidak dekat dengan wanita manapun. Aku masih normal, Nek."
Nenek Miranti akhirnya tidak meneruskan perkataannya. Mereka kembali makan malam, dan setelah makan malam. Jaden mengajak neneknya pergi ke suatu tempat di mana nenek dan kakeknya sangat menyukai tempat itu jika malam hari, yaitu pantai.
Tampak Nara mondar mandir sendiri di dalam kamarnya. Di rumah sebesar itu dia hanya sendirian karena malam ini Bi Ima izin pergi entah ke mana. Nara hanya di jaga oleh beberapa penjaga di luar.
"Si dingin itu ke mana? Katanya mau makan malam di rumah dan aku di suruh membuatkan nasi goreng seperti tadi pagi, tapi dia malah tidak ada di rumah. Mas Leo juga ke mana?"
Nara keluar dari dalam kamarnya dan berjalan turun ke lantai bawah. Dia melihat keadaan sangat sepi. Nara melihat pada pesawat telepon dekat perapian.
"Apa aku menghubungi pihak berwajib saja agar aku bisa bebas dari tempat ini? Tapi kalau aku melakukannya apa si JL itu tinggal diam? Dia bisa melakukan apa saja. Apalagi dia orang yang punya segalanya. Aku takut nanti akan berimbas pada Paijo dan neneknya," Nara berperang dengan hatinya sendiri.
__ADS_1
Nara berpikir lagi dan dia memutuskan untuk menghubungi Paijo. Nara menekan nomor ponsel Paijo dan tidak lama diterima oleh sahabat polos Nara itu.
"Halo," terdengar suara orang menguap. "Kamu tidak melihat jam ya menelepon orang malam-malam begini?"
"Halo, Paijo," suara Nara tampak bersemangat.
Paijo aliasa Jo yang mengenali suara Nara seketika membuka lebar kedua matanya.
"Nara! Kamu benarana Nara? Si ratu cerewet itu?" cerocos Paijo.
"Tentu saja aku Nara sahabat kamu, tapi aku sudah menjadi hantu yang merindukan kamu, Paijo," suara Nara tiba-tiba terdengar menakutakan.
"Nara, kamu jangan bercanda." Paijo tampak takut.
"Paijo, tolong aku, aku kesepian di sini. Aku kangen sama kamu," ucap Nara yang malah terdengar sedih, tapi menakutkan.
"Kamu pasti orang iseng yang menyamar menjadi Nara. Nara temanku baik-baik saja. Dia di rumah saudaranya di kampung, jadi kamu jangan menakutiku karena aku bukan penakut," ucap Paijo sok berani, padahal dia sudah ingin buang air kecil di celana.
Nara agak kaget mendengar Paijo mengatakan jika Nara tinggal dengan saudaranya di kampung. Memangnya saudara siapa yang di maksud Paijo? Dan kenapa Paijo bisa berpikiran begitu?
"Dasar Ratu Cerewet! Kamu kenapa malam-malam menelepon? Lagian kamu juga kenapa pindah tidak bilang- bilang. Asal menghilang saja."
"Siapa juga yang mau menghilang tiba-tiba? Aku itu di--." Nara menghentikan perkataannya.
"Kamu kenapa?"
"Aku baik-baik saja, Paijo. Kabar kamu dan nenek bagaimana?"
"Aku dan nenek baik-baik saja. Nara, kenapa kamu mau pindah ke kampung? Katanya kamu mau mencari pekerjaan setelah lulus sekolah agar dapat kuliah dengan biaya sendiri?"
Nara ingat dengan cita-citanya, tapi hal itu juga tidak akan dapat terjadi. "Doakan saja agar aku dapat kuliah nantinya, Jo. Kamu bagaimana? Apa kamu akan kuliah juga?"
__ADS_1
"Aku tidak tau, ibuku kemarin menghubungiku lagi untuk menawariku aku ingin kuliah di mana, tapi kamu tau sendiri aku tidak mau merepotkan ibuku."
"Kamu jangan begitu, Jo. Coba berdamailah dengan ibu kamu karena beliau sangat sayang sama kamu."
Seketika wajah Paijo yang biasanya tidak bisa serius sekarang tampak serius. "Aku bukannya membenci ibuku, tapi hanya aku masih belum bisa menerima untuk tinggal dengannya walaupun nenek juga akan ikut. Sudah untuk dijelaskan, Nara."
"Iya, aku tau. Kamu masih butuh banyak waktu."
"Nara, rumah saudara kamu di mana? Aku akan menemui kamu ke sana. Nara, aku kangen sama kamu. Aku minta maaf sama kamu sudah membuat kamu kesal waktu itu."
"Iya, aku lupa kalau kita waktu itu sedang tidak saling menyapa. Aku juga minta maaf sudah marah sama kamu."
"Nara, katakan kamu di mana?"
Nara terdiam di tempatnya. "Jangan ke sini, nanti suatu saat aku yang akan menemui kamu jika aku mendapat izin karena aku juga di sini sedang bekerja dengan seorang tuan tanah." Nara berbohong.
"Apa dia baik?"
"Dia baik, sangat baik, sampai aku ingin getok kepalanya kalau aku bisa," gerutunya lirih.
"Kamu bicara apa, Nara?"
"Aku tidak bicara apa-apa. Jo, ini sudah malam, lain waktu aku hubungi kamu lagi. Jo, aku titip salam buat nenek kamu. Aku sangat merindukan kalian."
"Nara, tunggu! Apa kamu acara wisuda dan malam perpisahan akan datang? Kita akan mengadakan pesta topeng. Kamu datang kan?"
Nara lagi-lagi terdiam di tempatnya. Bagaimana dia bisa datang ke acara perpisahan itu? Jaden juga tidak akan mengizinkan dia keluar walaupun dia meminta izin.
"Aku tidak tau, Jo. Aku sekarang bekerja dengan orang, jadi tidak bisa seenaknya."
"Pasti aku akan kesepian dia sana karena kamu tidak hadir," suara Paijo terdengar sedih.
__ADS_1
"Di sana banyak teman-teman lainnya, kamu jangan khawatir. Jo, selamat atas kelulusan kamu."
"Kamu juga, Nara." Mereka mengakhiri panggilannya.