
Dokter akhirnya melakukan pemeriksaan pada kaki Jacob dan akan melakukan terapi pada kaki Jacob.
Nara tampak semangat membantu Jacob dalam kesembuhannya. Dia tidak hentinya memberikan Jacob semangat.
Jacob terjatuh beberapa kali saat mencoba melepaskan pegangannya. Dia terlihat sangat marah dan frustasi.
"Argh!!! Kenapa susah sekali kaki ini untuk digerakkan!" teriaknya marah.
"Tuan, Tuan harus lebih banyak bersabar karena terapi ini memang membutuhkan banyak kesabaran yang ekstra. Kaki Tuan--." Perawat itu menunduk tidak berani meneruskan kata-katanya.
"Kakiku kenapa? Tidak bisa sembuh selamanya! Itu yang mau kamu katakan, Hah?" bentaknya marah.
"Tuan harus tetap yakin bahwa kaki Tuan akan sembuh."
"Pergi kamu ... pergi dari sini! Tinggalkan aku sendirian!" teriak Jacob marah.
Nara yang berdiri di tempatnya tampak tidak kuasa menahan tangisnya.
"Argh ....! Kenapa? Kenapa aku harus lumpuh? Kenapa tidak mati saja aku waktu kecelakaan itu terjadi!" Jacob benar-benar tampak histeris.
Nara berjalan mendekat pada Jacob dan langsung memeluk Jacob yang duduk di bawah dengan menangis pilu.
"Jacob, jangan seperti ini, aku mohon." Nara memeluk Jacob erat.
"Aku berharap melakukan terapi ini akan ada harapan untuk kakiku, Nara, tapi apa yang aku dapatkan? Aku bahkan tidak dapat menggerakkannya sedikit pun."
"Jangan menyerah, Jacob. Kamu pasti bisa. Aku akan ada di samping kamu. Aku tidak akan meninggalkan kamu."
"Apa kamu sudah melihat bagaimana berartinya Nara untuk Jacob? Apa kamu akan tega untuk mengambil Nara dari tangan Jacob?"
Jaden terdiam di tempatnya. Dia sedang melakukan video call dengan ayahnya. Jaden dapat melihat bagaimana Nara memeluk Jacob dengan penuh perhatian.
"Aku dan Nara sudah tidak ada hubungan apa-apa, Yah. Aku senang jika Nara dan Jacob sekarang) menjadi dekat."
"Jaden, jangan pernah mendekati Nara lagi. Lupakan dia seperti kamu dulu melupakan Mauren."
Jaden tidak menjawab. Carlos mematikan panggilan teleponnya.
"Nara bukan Mauren yang memang sengaja meninggalkan aku hanya karena ambisinya. Aku mencintai Nara bahkan lebih dari nyawaku sendiri," Jaden berdialog sendiri.
__ADS_1
"Tuan, apa kabar?" Tiba-tiba suara seseorang dari belakang Jaden.
"Leo bagaimana kabar kamu?"
"Baik. Tuan sendiri bagaimana kabarnya? Dan kenapa Tuan tinggal di rumah Nenek? Tidak biasanya." Tatap Leo curiga.
"Aku mencari suasana baru. Katakan? Bagaimana dengan pekerjaan yang aku suruh kamu lakukan?"
"Sudah selesai dengan baik, Tuan. Wilayah itu sudah menjadi milik Tuan Jaden Luther, dan tidak akan ada yang berani mengusiknya.
Smirk yang tidak enak dilihat itu tercipta dari bibir Jaden Luther. "Damian pasti akan marah besar mengetahui tempat itu sudah menjadi milikku. Dia pasti akan mencariku sekarang, dan aku akan dengan senang hati menerima kedatangannya."
"Tentu saja Tuan Damian akan marah dengan semua yang terjadi. Itu semua juga kesalahan Tuan Damian sendiri yang mencari masalah dengan Tuan."
"Manusia bodoh!"
"Tuan, maaf, apa saya boleh bertanya sesuatu pada Tuan Jaden?"
Jaden melirik pada Leo. Jaden seolah tau apa yang akan Leo tanyakan. "Kamu pasti ingin bertanya tentang Nara?"
Leo mengangguk. "Jujur saja, saya sangat merindukan Nara, Tuan."
Leo wajahnya tampak aneh mendengar bentakan Jaden. "Saya merindukan Nara, Tuan. Beberapa minggu saya di sana, saya teringat dengan canda dan tawa Nara. Dia gadis yang menyenangkan, dan pendengar yang baik."
"Kamu hanya boleh mengaguminya, tapi tidak boleh mencintainya."
"Kenapa, Tuan?"
"Karena cucuku mencintainya, Leo. Begitu saja tidak tau," celetuk nenek Miranti yang tiba-tiba masuk ke ruang kerja mendiang suaminya dengan membawa dua buah cangkir kopi panas.
"Selamat siang, Nek," sapa Leo sopan.
"Siang. Oh ya, kamu nanti ikutlah makan siang di rumah. Nenek membuat masakan untuk kalian."
"Terima kasih, Nek. Nek, maaf, tadi Nenek bilang kalau Tuan Jaden menyukai Nara? Apa itu benar?" Leo melihat pada Jaden yang duduk dengan menggigit bolpoin di mulutnya. Jaden sebenarnya mau menandatangani sebuah dokumen.
"Kenapa Nenek bicara yang tidak-tidak. Nara tidak dboleh dengan orang lain karena dia akan menjadi milik Jacob. Nara mungkin akan menerima Jacob yang ini menikah dengan Nara."
"Apa? Itu tidak mungkin. Kenapa Carlos tidak bicara dengan nenek sebagai ibunya?"
__ADS_1
"Iya, Tuan, bagaimana itu bisa terjadi?" Leo tampak heran.
"Ceritanya panjang, Leo. Nek, Jacob mau melakukan terapi untuk kakinya karena Nara. Nara yang sudah mengembalikan semangat hidup Jacob. Aku senang mendengar hal itu. Setidaknya aku tau bagaimana cara membalas budi pada keluarga Nenek."
Wanita paruh baya itu menghela napasnya pelan. Dia meletakkan nampan berisi dua cangkir kopi tadi perlahan. "Tapi sejak kamu diangkat cucu dan putra oleh anakku. Kamu juga anak mereka dan kamu berhak mendapat kebahagian, Jaden."
Jaden beranjak dari tempatnya. Dia mengitari meja meja kayu yang tampak kokoh dan berjalan mendekat pada neneknya.
Jaden menjulurkan tangan memeluk pada pundak neneknya, dan memberikan kecupan kecil pada dahi neneknya.
"Aku sudah cukup bahagia melihat keluargaku bahagia, Nek."
"Nenek tidak suka kamu seperti ini."
"Ayolah, Nek. Kenapa Nenek jadi cerewet sekali? Leo, kamu temani Nenek makan siang dulu karena aku mau pergi sebentar."
"Baik, Tuan."
Jaden melangkah pergi dari sana. Nenek dan Leo saling memandang. "Dia cucuku yang sangat menyebalkan, tapi juga yang sangat aku sayangi, Leo."
"Nek, apa boleh saya bertanya sesuatu?"
"Tanya saja."
"Nek, bagaimana Nara bisa mengenal tuan Jacob, dan tinggal bersama keluarga tuan Jacob?"
Tangan dengan tanda keriput yang mulai terlihat menggandeng tangan Leo. "Nenek akan menceritakan semuanya sambil kita makan siang bersama. Kamu mau, kan, menemani nenek makan siang, Leo?"
"Tentu saja, dengan senang hati, Nek." Leo menggenggam tangan nenek Miranti dan mereka berjalan menuju ruang makan.
Mobil Jaden melaju dengan kencang menerobos jalanan yang siang ini agak sepi. Tidak lama Jaden sampai di sebuah tempat pemakaman yang terkenal hanya untuk orang-orang dari kelas atas.
"Hai, Kek. Aku sudah lama tidak mengunjungi kakek. Kalau kakek masih hidup pasti kakek akan kesal denganku karena apa yang sudah aku lakukan." Jaden duduk berjongkok di samping pusaran kakeknya.
"Benar apa kata kakek. Sekuat-kuatnya seorang pria. Dia pasti akan tunduk jika cinta sudah menyentuh hatinya. Kakek sangat beruntung mendapatkan wanita yang sangat kakek cintai dan mencintai kakek. Aku sebenarnya juga beruntung karena Nara sangat mencintaiku, hanya saja cinta yang kita rasakan tidak harus kita miliki."
Beberapa menit Jaden berada di sana. Dia akan merasa lebih kuat jika sudah bicara dengan pusaran kakeknya.
Tidak lama terlihat awan mulai gelap dan perlahan hujan turun membasahi pusaran kakek Jaden dan juga tubuh Jaden.
__ADS_1
Jaden masih bertahan di tempatnya hingga ada sebuah payung menutupi tubuh Jaden.