
Nara menyuapkan satu sendok ke mulutnya dan perutnya tiba-tiba seolah tidak mau menerima makanan yang baru saja Nara masukkan.
"Aku tidak mau makan, Tuan. Aku mau istirahat saja daripada nanti aku muntah di sini."
"Kamu minum obat saja kalau tidak mau makan, dan segera tidur." Jaden berdiri mengambil baki makanan Nara dan meletakkannya pada meja kecil di dekat pintu kamar.
Nara mengambil obat dan segera meminumnya. "Tuan, aku minta maaf sudah menyusahkan, bolehkan aku istirahat sebentar, nanti kalau sudah baikkan aku akan kembali melakukan tugasku."
Jaden yang melihat Nara memang sakit dan tidak pura-pura menganggukkan kepalanya dan dia pergi ke luar kamar Nara.
Jaden tampak agak sedikit bingung dengan dirinya sendiri. Entah kenapa dia yang biasanya tidak peduli pada orang mendadak menjadi iba melihat Nara.
"Gadis itu sebenarnya kasihan. Dia sudah tidak punya kedua orang tua, sama denganku, tapi aku masih memiliki nenek dan keluarga yang peduli denganku. Aku juga memiliki kekuasaan di mana orang-orang yang akan peduli padaku, sedangkan Nara hanya gadis biasa yang bahkan pamannya serta keluarganya tidak peduli sama dia."
__ADS_1
Jaden membaringkan tubuhnya di sofa ruang tengah. Dia mengambil tablet yang ada di dalamnya dan melihat apa saja kegiatan Nara hari ini. Mata Jaden mendelik kaget saat tau Nara menggunakan pesawat teleponnya. Dia lalu mendengar apa yang dikatakan oleh Nara dan orang yang di teleponnya.
"Ini Paijo sahabatnya yang di sekolah? Kenapa Nara tidak bercerita jika dia aku culik? Dia malah bercerita sedang bekerja pada seseorang, dan kenapa dia tadi malah memilih kabur dari sini?" Banyak tanda tanya pada kepala Jaden.
Jaden kembali bangkit dari tempatnya dan dia menuju kamar Nara. Dia ingin bertanya atau bahkan mengancam Nara sekali lagi karena sudah berani menghubungi seseorang.
Jaden mengurungkan niatnya saat dia melihat Nara sekali lagi mengigau tidak karuan.
Jaden menempelkan tangannya pada dahi Nara dan dia merasakan suhu tubuh Nara yang meningkat. Tidak lama terdengar suara petir menyambar dan hujan deras pun menyertainya.
"****! Kalau aku bawa dia ke rumah sakit hujannya deras seperti ini pasti waktunya akan lama."
Jaden ini tinggal di tempat yang agak jauh dari perkotaan dan memang dia memilih tempat terpencil dan tersembunyi. Medan yang dilalui juga bukan jalanan yang lurus dan mudah.
__ADS_1
"Apa yang harus aku lakukan?" Jaden berpikiran sejenak dan dia teringat dengan apa yang dikatakan oleh temannya yang dokter itu.
"Paman jahat, kalian semua jahat. Jaden juga sangat jahat, aku benci dengan kehidupanku ini," racaunya.
"Tidak ads cara lain."
Jaden segera membuka bajunya dan dia juga membuka baju yang dipakai oleh Nara serta membuang seenaknya.
Jaden yang berada di atas tempat tidur menelan salivanya dengan susah saat melihat tubuh indah milik Nara, walaupun sebenarnya dia pernah melihatnya, tapi entah kenapa? Setiap dihadapkan oleh pemandangan indah itu, ada sesuatu dari diri Jaden yang berdesir tidak enak.
"Kenapa begini?" Jaden kemudian berbaring di samping Nara dan menarik tubuh Nara untuk mendekapnya dengan erat. Jantung Jaden berdetak sangat cepat seolah ingin keluar dari tempatnya.
Nara yang merasakan rasa dingin menyentuh setiap kulitnya dengan tidak sadar tangannya merangkul tubuh Jaden dan semakin mendekatkan tubuhnya dengan tubuh Jaden.
__ADS_1