
"Bodoh! Kalian tidak menemukan di mana keberadaan si brengsek Jaden Luther itu?"
"Kami minta maaf, Tuan."
"Pergi kalian dari hadapanku. Sekarang!" bentak seorang pria dengan menodongkan senjata ditangannya.
Beberapa orang dengan setelan berwarna hitamnya tampak ketakutan dan segera berjalan pergi dari sana.
Terdengar suara tembakan beberapa kali di tempat itu. Pria dengan kacamata hitamnya itu menembakkan beberapa peluru ke atas sampai habis. Dia meluapkan segala kekesalannya.
Tidak lama terdengar bunyi ponsel miliknya. Kemarahannya agak mereda melihat nama pada layar ponselnya.
"Halo, bagaimana?"
"Aku tidak menemukan apapun."
"Apa?" Wajah pria itu tampak kembali menahan marah. "Dia pintar sekali sembunyi dariku."
"Kita pakai caraku, culik saja neneknya maka dia akan keluar dari tempatnya."
"Jangan, hal itu terlalu mudah untuk seorang Jaden Luther. Aku punya cara tersendiri untuk memancing si brengsek itu keluar dari persembunyiannya." Tertarik senyum miring dari sudut bibir pria itu.
"Apa aku boleh tau rencana yang akan kamu gunakan?"
"Tentu saja, karena dalam rencanaku ini akan melibatkan kamu di dalamnya."
"Aku? Lagi?"
"Iya, dan kali ini rencanaku pasti berhasil."
***
Di tempatnya, Nara izin pergi ke rumah Kak Esme, dia akan melakukan kegiatan rutin yang beberapa hari ini sering dia dia lakukan di sana.
"Tuan kesayanganku, aku mau pergi dulu. Kamu tidak apa-apa, kan, aku tinggal sendiri?"
Jaden melihat Nara dari atas sampai bawah. Nara kali ini menggunakan dress selutut dan rambutnya di kuncir kuda. Nara membawa tas kecil yang bahkan Jaden tidak boleh melihatnya apa isi tas itu.
__ADS_1
"Kenapa setiap kamu pergi ke sana kamu selalu memakai dress selutut?" Lihat Jaden curiga.
"Apa aku harus mengingatkan lagi?"
"Kamu belajar menari dengan Esme? Dia itu bahkan tidak bisa menggerakkan kakinya untuk menari."
Nara mengkerutkan kedua alisnya. "Menari? Untuk apa aku belajar menari?"
"Siapa tau kamu mau menari striptis di hadapanku," celetuk Jaden dan mendapat tamparan kecil dari Nara.
"Enak saja! Memang aku wanita penghibur?" Nara mengerucutkan bibirnya.
"Kamu wanitaku, dan walaupun kamu menarik, kamu hanya menari untukku." Jaden menahan pinggang Nara.
"Aku mau pergi dulu. Sayang, kamu percaya padaku, Kan?"
"Sangat, dan aku pun menghormati semua keputusan yang kamu ambil."
"Terima kasih." Nara mencium Jaden dan dia pergi ke rumah Esme dengan berjalan kaki seperti biasa.
Beberapa menit Nara sampai di rumah Esme, bangunan yang tampak dari luar kecil, tapi saat masuk ke dalamnya. Esme memiliki taman yang besar dan ada beberapa wanita di sana. Esme berdiri dengan membawa pistol dan menodongkan pada sebuah manekin di depannya, dan ada titik-titik merah pada manekin itu.
Tidak hanya itu ada satu teman Esme juga seorang yang pandai bela diri. Nara membuka dressnya dan tampak sekarang penampilannya berubah. Dia menggunakan celana pendek berwarna hitam dan atasan u can see berwarna hitam.
"Aku siap memulainya, Kak." Nara tersenyum kecil.
Esme adalah mantan polisi wanita yang jatuh cinta pada seorang mafia. Di mana suaminya meninggal karena dibunuh oleh musuhnya. Hidup Esme berubah saat ditinggal pergi oleh suaminya. Esme memiliki seorang putra yang dia besarkan sendiri. Bertemu dengan Jaden adalah sebuah takdir yang indah,
bagi Esme karena Jaden, Esme dapat terus bertahan hidup di tengah perekonomiannya yang sulit.
Jaden juga yang menebus anak Esme saat di culik oleh orang yang menjadi musuh suami Esme.
Di kota itu sebenarnya Jaden memiliki banyak musuh, tapi dia juga memiliki pengaruh besar di mana. Bagi Jaden, tempat paling aman adalah di mana musuh-musuh lainnya kita berada. Oleh karena itu dia memilih bersembunyi di sana.
"Kak Esme kenapa?" Nara melihat wanita itu sedang memikirkan sesuatu.
"Aku tidak apa-apa, Nara. Nara, apa kamu tidak marah sama sekali padaku saat aku mengatakan kamu sangat bodoh sudah mau menikah dengan seorang Jaden?"
__ADS_1
"Aku tidak marah dan aku tau kenapa Kak Esme mengatakan hal itu. Kakak pasti takut kejadian yang menimpa Kakak dulu terjadi padaku." Wanita paruh baya itu mengangguk perlahan.
"Bisa bertemu dan jatuh cinta pada Tuan JL itu sebuah kebahagiaan buatku. Aku tidak takut sama sekali dan aku akan menghadapinya dengan Tuan JL."
"Tuan JL?" Tatap Kak Esme bingung. Nara tersenyum, lalu, dia menceritakan semua awal dia dan Jaden bertemu.
"Nara, aku senang kamu menerima tawaranku untuk belajar menembak dan bela diri."
"Setidaknya aku bisa melindungi diriku sendiri nantinya." Nara tertawa dan Esme juga tersenyum pada Nara.
Setelah mereka selesai, Nara langsung izin pulang dan Esme membawakan Nara sebuah botol berisi minuman kesehatan yang tadi dia janjikan pada Jaden.
"Minumlah itu supaya kesehatan kamu cepat pulih. Titip salamku pada suamimu dan semoga bulan madu kalian besok berjalan lancar."
"Terima kasih, Kak Esme." Nara berjalan menuju cafe miliknya karena seperti biasa cafe miliknya pasti masih buka karena jika hari semakin malam di sana banyak sekali para kakek tua dan orang-orang yang kurang mampu datang dan Nara memang menyediakan kue dan makanan untuk mereka.
Jadi Jaden dan Nara membuka tempat itu bukan hanya untuk mencari keutungan semata, tapi juga berbuat baik kepada orang lain di sana. Jaden hanya mengikuti apa yang istrinya inginkan.
"Sayang?" Nara kaget karena ternyata suaminya beridir menunggunya di tepi jembatan di mana biasa Nara lewati jika pulang dari rumah Esmera.
"Hai." Jaden memeluk Nara dan mengecupnya. "Apa aku mengejutkan kamu?"
"Tentu saja. Apa kamu tadi mengintip apa yang aku lakukan di rumah Kak Esme? Bukannya kamu sudah berjanji tidak akan melakukan hal itu?" Nara menatap Jaden curiga.
"Aku tidak melakukan apa-apa. Aku dari tadi hanya menunggu kamu di sini. Aku tidak tau apa yang kamu lakukan di rumah Esme," jawab Jaden santai.
"Jangan berbohong. Apa benar kamu tidak tau apa yang aku lakukan di sana?" Nata matanya menyipit melihat pada suaminya.
"Aku serius Nara, aku sama sekali tidak tau dan tidak mencoba mencari tau. Aku akan menunggu kamu yang mengatakannya." Jaden memeluk tubuh kecil Nara.
"Lalu, kalau kamu di sini, siapa yang menjaga cafe kita?"
"Aku serahkan pada salah satu pegawai kita karena aku ingin pulang dan beristirahat. Bukannya besok aku ingin mengajak kamu pergi ke tempat yang sudah aku katakan sama kamu. Apa kamu lupa?"
Nara menggeleng. "Aku tidak lupa. Ya sudah kalau begitu kita pulang saja. Aku juga sebenarnya sangat capek."
Blup!
__ADS_1
Pria kesayangan Nara itu menggendong Nara ala bridal style dan sekali lagi menyematkan kecupannya pada bibir Nara.
"Aku akan menggendongmu sampai rumah, supaya kamu tidak capek." Jaden tersenyum