Mr. Mafia & His Little Maid

Mr. Mafia & His Little Maid
Kado Ulang Tahun Part 1


__ADS_3

Nara berjalan beriringan dengan dokter Will, tampak wajah Nara yang tersenyum saat dokter di sampingnya berbicara hal yang lucu.


"Dokter Will ini ternyata orang yang humoris. Kenapa dulu tidak menjadi dokter anak saja? Anak-anak kecil pasti senang jika ada dokter yang bisa membuat mereka tersenyum."


"Aku tidak terlalu suka anak-anak. Besok kalau menikah saja, aku tidak ingin buru-buru memiliki anak. Makannya aku tidak memilih menjadi dokter anak.


"Aku malah kebalikannya, aku malah menyukai anak-anak, kalau bisa aku juga mau menjadi dokter spesialis anak, punya tempat praktek yang ada cafe dengan menu yang disukai anak-anak, dan ada tempat bermain untuk mereka."


"Wow! Tinggi sekali impian kamu."


"Ketinggian ya, Pak Dokter? Apalah aku ini?" ucap Nara sedih, tapi dia masih menerbitkan senyuman.


"Eh ...! Jangan putus asa begitu." Tangan Will malah mencubit kecil hidung mancung Nara.


Dua pria yang dari tadi memperhatikan Nara dan Will berbincang tampak kesal melihat kedekatan mereka.


"Aku tidak putus asa, Dok, hanya saja aku menyadari diriku sendiri."


"Minta saja sama bos kamu yang baik hati dan agak songong itu." Dokter Will melirik ke arah temannya yang duduk di kursi roda dengan memasang wajah datarnya.


Nara yang sudah tidak mau disangkut pautkan dengan Tuan JLnya menggelengkan kepalanya perlahan. "Aku nanti akan berusaha sendiri tanpa mengharapkan bantuan dari orang lain." Nara menatap dingin wajah pria yang sudah membuat hatinya tersayat.


"Jangan bicara sembarangan, Will. Kalau Nara kuliah, lalu siapa yang mengurus rumah dan aku di sini, Will?"


"Kamu cari saja pelayan baru, atau aku yakin Nara bisa melakukan dua tugas sekaligus. Menjadi pelayan dan kuliah."


"Aku tidak akan mengizinkan, bahkan jika Nara menjadi istriku sekalipun aku tidak akan memperbolehkan dia kuliah."


Ucapan Jaden barusan membuat semua orang di sana kaget, walaupun itu ucapan yang tidak serius.


"Kasihan sekali wanita yang menjadi istrimu kelak. Kamu jangan mau, Nara." Tangan Will menepuk pundak Nara dan menggoyangkan jari telunjuknya ke kanan dan ke kiri.


Kedua alis Nara mengkerut. "Dokter Will ini ada-ada saja. Tuan tidak akan menikahi seorang pelayan karena hal itu sama saja membawa hal buruk pada nama baik Tuan JL."


Setelah mengatakan hal itu Nara berjalan masuk ke dalam dapur untuk membawa makanan ke ruang depan.


"Kamu sangat menakutkan ya, Jade? Bahkan pelayan kamu sepertinya tidak ingin berkhayal bisa denganmu." Will malah menertawakan Jaden.

__ADS_1


"Brengsek! Jangan bicara yang tidak-tidak, atau aku usir kamu dari rumahku. Aku tidak peduli jika ini ulang tahun Sandra," ucap Jaden tegas tanpa basa basi.


"Tuan, Dokter Will hanya bercanda. Sebaiknya kita mulai saja acara ini. Aku sudah tidak sabar juga." Sandra tersenyum dan Jaden menganggukkan kepalanya.


Acara di mulai, Nara berhenti sejenak memindahkan beberapa peralatan makan di ruang depan.


Setelah Sandra meniup lilin semua yang di sana memberikan ucapan selamat pada Sandra. "Sandra yang cantik, ini buat kamu." Dokter Will memberikan sebuah kotak berwarna merah pada Sandra.


"Dokter, kenapa repot-repot memberikan aku hadiah? Dokter bisa datang ke sini saja aku sudah senang sekali."


"Tidak apa-apa, terimalah."


Sandra membuka hadiah yang diberikan oleh Will, dan ternyata itu sebuah bros dengan mutiara asli di tengahnya.


"Bagus sekali ini Dokter Will."


"Aku tau kamu pasti menyukainya karena tidak ada wanita yang menolak hadiah dariku," ucap Will sombong.


"Iya, itu bagus sekali, Mba. Sangat pantas jika di pakai oleh Mba Sandra."


Nara yang begitu lugu tidak punya pikiran jelek mau saja membantu. Nara membuka peniti bros itu dan menyematkan pada dada Sandra.


"Auw! Nara hati-hati." Sandra tiba-tiba berteriak seolah Nara tidak hati-hati menyematkan peniti bros itu.


"Maaf, Mba, apa kena? Tanganku sudah menutupi bagian belakang." Nara tampak terkejut.


"Tentu saja kena! Kalau tidak kena mana mungkin aku berteriak kesakitan."


"Maaf, aku tidak sengaja." Nara kembali berhati-hati dan akhirnya bros itu terpasang dengan baik.


"Kalau melakukan sesuatu itu harus fokus jangan memikirkan hal lainnya," ucap Jaden tegas pada Nara. Nara tidak menjawab hanya terdiam menatap Jaden.


Will melihat gelagat Jaden dan Nara seperti ada yang aneh. Jaden memang memarahi Nara, tapi cara penyampaiannya kena bagi Will tidak seperti biasanya. Nara pun tampak memberikan tatapan yang aneh pada Jaden.


"Nara, kemarilah," panggil Will pada Nara.


"Ada apa Pak Dokter Will?" Nara berjalan mendekat pada Will.

__ADS_1


Will mengeluarkan sesuatu dari balik saku celananya. "Ini untuk kamu." Will memberikan kotak berwarna merah pada Nara.


"Ini apa?"


Jaden dan Roy yang melihat Nara mendapat hadiah dari Will tampak sama-sama penasaran dengan wajah yang tidak enak dilihat.


"Buka saja." Will memberikan Nara kedipan mata nakalnya.


Nara membuka kotak merah itu dan terlihat bros bentuk angsa dengan mutiara berwarna hitam, tentu saja mutiara itu juga asli."


"Wah! Ini indah sekali Pak dokter." Mata Nara berbinar melihat hadiah pemberian Will.


"Itu untuk kamu. Angsa dengan mutiara berwarna hitam. Seperti sosok kamu yang terlihat pure dan sederhana, tapi aku yakin kamu memiliki jiwa yang kuat."


"Serius ini untukku?" Nara mendelik tidak percaya.


"Tentu saja, anggap saja itu hadiah ulang tahun dariku buat kamu."


"Ck! Hadiah ulang tahun. Memangnya kamu tau tanggal ulang tahun Nara?" Jaden memicing pada Will.


"Aku tidak tau, tapi aku juga tidak mempermasalahkan hal itu. Meskipun sudah terlewat atau belum, hadiah itu memang aku ingin berikan pada Nara. Nara, tolong kamu terima hadiah dariku, dan kalau bos kamu menyuruh membuangnya, kamu hubungi saja aku."


Wajah Will seolah menantang seorang Jaden Luther. Nara tampak bingung sambil memegang hadiah dari Dokter Will.


"Aku akan menyimpannya. Sekali lagi terima kasih Dokter Will." Nara memberikan senyum kecilnya.


Sandra yang berada di tempatnya agak kesal melihat hal itu. Dia niatnya mau memamerkan kado bros pada Nara, tapi ternyata Will juga memberi Nara bros juga.


"Dokter Will kenapa mempunyai banyak bros mutiara seperti ini?" tanya Nara heran.


Will tersenyum renyah. "Aku memang membeli banyak bros seperti itu sewaktu aku di luar negeri waktu itu, dan akan membeli banyak lagi jika bos kamu tidak menyuruhku pulang waktu itu."


"Dia memberi bros itu pada setiap wanita yang sedang dirayunya, Nara. Will seorang playboy sejati." terang Jaden.


"Apa Tuan Will memberikan aku bros ini karena menganggap aku gadis yang mudah dirayu?"


"Ahahah! Kamu polos sekali Nara. Aku memberikan bros itu sama kamu dan Sandra dengan niat yang beda. Aku tulus ingin memberikan bros itu tanpa ada maksud di belakangnya. Itu benar sebagai kado ulang tahun untuk kalian."

__ADS_1


__ADS_2