
Jaden naik ke atas bebatuan di dalam goa. Dia mengulurkan tangannya meminta Nara untuk ikut dengannya ke dalam gua itu. Nara menoleh ke sana ke sini, takut jika ada orang lain yang melihatnya.
"Jangan khawatir, tidak akan ada yang melihat kamu. Kalau berani melihat tubuh kamu selain aku, aku cungkil matanya. Kemarilah!"
Nara berani naik ke atas permukaan dan menyambut tangan Jaden. "Mau ke mana?"
"Kita ada akan melihat bagian dalam gua ini, kata salah satu pengawalku ada sungai kecil di dalamnya dan airnya sangat jernih.
"Aku takut, Tuan."
"Takut apa? Memangnya ada yang lebih menakutkan daripada aku?"
"Tidak ada," ucap Nara cepat sambil meringis.
Jaden menggandeng Nara masuk ke dalam tempat itu. Mereka melihat-lihat pemandangan bebatuan putih yang tampak bersinar karena terpantul cahaya matahari yang masuk lewat sela-sela kecil di sana.
"Indah sekali, Tuan. Itu sungainya, aku mau masuk ke sana." Nara malah masuk pelan-pelan ke dalam sungai kecil di sana.
"Tuan, airnya hangat, tidak seperti di luar tadi." Nara malah berendam dengan memejamkan kedua matanya.
"Kamu menyukainya?"
"Sangat menyukainya, Tuan tidak mau berendam di sini?" Nara langsung membuka kedua matanya. "Tidak jadi mengajak Tuan, tempatnya kecil, sebaiknya bergantian saja kita berendamnya." Nara kembali menutup kedua matanya.
Jaden yang tadi mau masuk, namun tidak jadi karena melihat pada layar di jam tangannya ada panggilan masuk dari neneknya. "Nara, aku akan segera kembali karena nenek menghubungiku. Kamu tidak apa-apa, kan kalau aku tinggal di sini sendirian?"
"Tidak apa-apa. Tuan jawab dulu telepon dari nenek, Tuan. Aku akan bersantai sejenak di sini."
"Ya sudah kalau begitu."
Jaden berjalan keluar dari gua itu dan melewati air terjun menuju tempat di mana dia melepas bajunya.
"Jaden, kamu di mana? Kenapa lama sekali kamu menjawab panggilan nenek?"
"Nenek ini mengganggu saja, aku mau mandi dengan Nara."
__ADS_1
"Apa? Kamu mandi dengan Nara?" Seketika wanita paruh baya itu terkejut. "Jaden, jangan membuat nenek jantungan. Katakan kamu di mana? Jangan malah bicara sembaranga!"
"Kenapa nenek terkejut? Bukannya nenek menginginkan aku memberi nenek cucu?"
"Dasar cucu nakal! Memberi cucu, tapi jangan meniduri anak orang sembarangan. Kenalkan pada nenek dan nikahi dia, baru memberi nenek cucu."
"Kelamaan, Nek," jawab Jaden santai."
"Sudah ... sudah! Nenek bisa jantungan lama-lama bicara sama kamu. Kamu nanti malam harus datang ke rumah nenek untuk makan malam, dan jangan lupa bawa serta Nara bersama dengan kamu."
"Nanti malam? Kenapa tidak lain waktu saja. Pekerjaan Nara di rumah sangat banyak, Nek. Aku juga ada pekerjaan kantor yang belum aku selesaikan." Jaden memang pernah mengatakan akan membawa Nara menemui neneknya, tapi tidak jadi malam ini sebenarnya karena dia ingin menghabiskan hari ini dengan Nara
"Ini hari libur, Jaden. Jangan banyak alasan lagi. Pokoknya nanti malam nenek tunggu di rumah nenek. Kamu dan Nara jangan datang terlambat, atau nenek tidak akan mau bertemu dengan kamu selamanya."
"Nenek mengancamku?"
"Iya, dan kali ini nenek serius."
"Kenapa sekarang nenek lebih sadis dari aku?"
"Iya. Aku sayang nenek."
"Nenek akan sayang kamu kalau kamu nanti datang ke rumah."
Wanita paruh baya itu menutup teleponnya. Jaden tampak tersenyum kecil mengingat siapa kakeknya. "Ajaran kakek kenapa malah dipraktekkan padaku?" Jaden berdialog sendiri.
Jaden kembali ke dalam gua, dan saat dia masuk, Jaden seketika panik karena tidak melihat Nara di sungai kecil itu. Jaden mengitari gua itu mencari di mana Nara berada.
"Nara ... Nara! Kamu di mana?" teriak Jaden memanggil Nara, tapi panggilannya tidak mendapat jawaban dari Nara. Jaden kembali ke luar goa mencari Nara, tapi tetap saja Nara tidak ada.
"Di mana dia?"
Jaden segera berlarian ke sekitar luar air terjun mencari di mana Nara, tapi tidak ada, bahkan baju Nara masih ada.
Saat Jaden akan menghubungi pengawalnya. Tiba-tiba sosok yang dia cari berdiri tidak jauh dari tempatnya berdiri.
__ADS_1
Nara berjalan perlahan-lahan mendekat pada Jaden. "Kamu mencariku, Ya?" tanya Nara dengan suara lembutnya.
Jaden tanpa berkata langsung memeluk Nara dengan erat. "Kamu coba menguji diriku, Nara?" Nara terdiam di dalam pelukan Jaden. "Aku takut, Nara. Jangan lakukan hal seperti ini lagi."
"A-aku tadi hanya ingin bercanda sama kamu, Tuan."
"Tidak lucu, sama sekali tidak lucu, Nara."
Nara merasakan Jaden seperti ketakutan sekali dari pelukan dan ucapannya. Dahal Nara tadi hanya bercanda, dia sembunyi di tempat di mana Nara bisa melihat Jaden kebingungan mencarinya.
"Maaf, sekarang kita melakukan saja apa yang tadi Tuan JL katakan. Mencari cara baru untuk apa?" Nara berpikir, lupa dengan apa yang Jaden katakan tadi.
"Infus water." Jaden seketika menggendong Nara ala karung beras.
"Tuan! Aku mau turun! Kenapa membawaku seperti ini?" Nara berontak ingin turun, tapi Jaden memegangnya sangat erat. Dia membawa Nara masuk ke dalam air dan tepat di bawah air terjun.
Kepala Nara rasanya dipijat saat merasakan air terjun yang jatuh tepat di atas kepalanya. Air yang dingin itu malah membuat Nara terasa lebih nyaman dan damai. Begitupun dengan Jaden. Dia tampak merasa sangat tenang apalagi di depannya melihat gadis yang dia cintai itu.
Nara memejamkan kedua matanya merasakan pijatan air yang jatuh. Jaden menarik pinggang Nara dan agak menaikkan tubuh Nara ke atas. Nara yang membuka kedua matanya langsung berdiri berjinjit dan ciuman Jaden pun sekali lagi mendarat pada bibir lembut Nara.
Nara kali ini membalas ciuman Jaden dengan lembut bahkan kedua tangannya bergelayut pada leher Jaden.
Beberapa menit lamanya mereka saling bertarung bibir di bawah air terjun sampai akhirnya Nara yang tidak bisa bernapas menarik bibirnya dari Jaden.
Terlihat napas naik turun Nara dan dia melemparkan senyum pada Jaden.
"Tuan, apa kamu mencintaiku?"
Nara tiba-tiba bertanya hal yang membuat Jaden agak terkejut. Jaden tidak menunjukkan ekspresi apa-apa. Dia malah terdiam.
Nara mendekat dan melihat dengan tatapan tidak ada rasa takut pada Jaden. "Tuan, semua yang sudah kamu lakukan selama ini denganku, dan aku melihat rasa takutmu tadi karena mengira aku menghilang, apa itu semua bukan cinta? Apa tidak ada sedikitpun rasa cinta yang timbul di hati Tuan JL untuk si pelayan ini?"
Nara kembali mempertanyakan pertanyaan yang membuat Jaden diam seribu bahasa.
Pria itu masih dengan sikap gigihnya berdiri tidak menjawab pertanyaan yang di lontarkan oleh Nara.
__ADS_1