Mr. Mafia & His Little Maid

Mr. Mafia & His Little Maid
Kembali Bersama


__ADS_3

Jaden agak shock saat mengetahui Nara tengah hamil. Dia sampai menarik lengan tangan Nara dengan kasar.


"Apa kamu tidak bisa lebih lembut dengan seorang wanita?" Paijo tampak marah.


"Jangan ikut campur urusanku!"


"Kalau kamu kasar pada Nara, aku tidak akan tinggal diam." Sungut Paijo.


"Kamu marah apa karena anak yang dikandung Nara adalah bayi kamu?"


"Jaden, kamu ini bicara apa? Bayi di dalam kandunganku adalah bayi kamu."


"Apa? Bayiku? Jangan membodohiku, Nara!"


"Dasar pria aneh! Kamu itu hilang ingatan. Sebelum Nara pergi dari rumah, dia sudah mengandung anak kamu. Kalau dia mengandung bayiku, tidak mungkin aku biarkan dia sendirian tinggal di sini."


"Nara, apa benar kamu mengandung bayiku?" tanya Jaden tidak percaya.


Nara mengangguk perlahan. "Bayi ini memang milik kamu, tapi kalau kamu tidak mengingatnya aku juga tidak akan memaksa. Kamu tau? Saat kita berbulan madu dan menyewa tempat Kak Esme, kamu mengatakan jika ingin sekali segera memiliki seorang bayi dariku."


"Esme? Kamu tau soal Esme?"


Nara mengangguk. "Aku tau semuanya, bahkan aku tau jika kamu dulu tidak ingin sekali menikah bahkan memiliki anak karena takut jika musuh kamu tau, mereka akan menyakiti keluarga kamu. Iya, kan?"


Jaden mendelikkan matanya mendengar ucapan Nara yang memang dari dulu itulah prinsipnya.


"Aku akan memiliki seorang anak? Oh Tuhan! Kenapa secepat ini? Dan kenapa aku tidak mengingat semuanya!" Jaden malah memukuli kepalanya karena kesal tidak mengingat semuanya.


"Jangan lakukan itu!" Nara memegangi tangan Jaden untuk menghentikan aksi Jaden memukul kepalanya.


"Jangan seperti itu, nanti kamu malah menyakiti diri sendiri. Sekarang yang terpenting kamu harus melindungi Nara dan bayi kalian karena musuh kalian masih ada di sekitar kamu."


"Apa maksud kamu? Aku akan melindungi Nara, aku akan membawa Nara kembali ke rumah dan semoga aku dapat mengingat semuanya.


"Aku tidak bisa kembali ke rumah nenek. Nenek sudah termakan hasutan Renata dan aku tidak mau kalau sampai Renata mengetahui aku hamil."


"Renata? Memangnya ada apa dengan Renata?" Jaden tampak bingung.

__ADS_1


"Dia itu wanita dengan seribu wajah yang menyebabkan istri kamu dulu keguguran."


Sekali lagi wajah pria dengan postur tubuh nyaris sempurna itu terkejut mendengar Nara pernah keguguran dan itu karena Renata sahabat masa kecilnya yang justru selama ini menemaninya setelah kecelakaan itu.


"Nara, kamu pernah keguguran?" Nara mengangguk. "Anakku?"


"Iya, dan semua itu dilakukan oleh Renata karena kejadian itu aku harus meninggalkan kamu."


"Ceritakan semua padaku?"


"Aku tidak bisa, Jaden, aku tidak mau kamu sampai sakit gara-gara berusaha mengingat semuanya."


"Iya, kalau kamu sampai mati karena berusaha memgingat hal itu. Hidup Nara akan tambah susah. Bisa-bisa aku nikahi saja Nara ini."


"Jaga bicara kamu, Jo!" bentak Jaden marah.


"Untuk sementara aku akan hidup sendiri di sini, kamu kembalilah pada nenek dan berpura-puralah seolah kamu tidak pernah mengetahui semua ini sampai semua benar-benar aman. Aku tidak mau sampai bayiku dalam bahaya dan kamu juga. "


"Apa kamu mengusirku." Jaden menarik tangan Nara lembut mendekat ke arahnya.


"Aku tau, tapi kali ini kasusnya beda. Ini membahayakan bayi kita dan kamu. Dua hal itu yang tidak bisa aku hadapi jika harus kehilangan sekali lagi bayi dalam kandunganku."


"Baiklah, kalau begitu kamu tinggal di rumah persembunyian milikku saja dan aku akan datang ke sana setiap hari bahkan aku akan mencari alasan ke nenek jika aku harus pergi ke luar negeri untuk mengurusi urusan bisnisku.


"Lalu, pekerjaanku bagaimana?" Nara melihat pada Paijo.


"Kamu tidak perlu bekerja dengan dia Nara. Kamu hanya akan tinggal di rumah sebagai istriku."


"Aku setuju, tapi kamu jangan mencoba menjauhkan Nara dariku. Bagaimanapun aku lama juga mencari keberadaan sahabat baikku. Setidaknya aku juga bisa melindungi Nara jika si wanita seribu wajah itu ingin menyakiti Nara."


"Aku tidak butuh bantuan kamu, Jo."


"Bukan kamu yang memintanya, ini murni dari hatiku yang ingin memastikan sahabatku dan calon keponakanku baik-baik saja." Wajah Paijo seolah menantang Jaden.


"Kalian jangan bertengkar terus. Jujur aku sangat mencintai kamu, Jaden, tapi Paijo adalah sahabat terbaik yang aku punya. Dia benar-benar tulus selama ini padaku." Tatap Nara pada manik mata suaminya.


"Aku ikuti permintaannya. Dia boleh mengetahui di mana kamu berada, tapi jangan terlalu dekat dengan Nara."

__ADS_1


"Terima kasih." Nara memeluk Jaden.


Jaden melepaskan pelukan Nara. Sekarang dia malah menarik dagu Nara tinggi dan mengecap bibirnya perlahan.


"Oh Tuhan! Sebaiknya aku pergi saja." Paijo kesal melihat adegan yang seharusnya tidak diperlihatkan di depan matanya yang jomlo itu.


Telunjuk Jaden memberi isyarat pada Paijo untuk pergi dari sana tanpa melepaskan ciumannya.


Paijo memilih kembali ke restoran miliknya. Dalam hatinya dia merasa senang dengan yang terjadi pada hidup Nara. Setidaknya dia sekarang akan memiliki kebahagiaan.


Kembali di rumah Nara. Mereka sedang menikmati sarapan pagi bersama walaupun sikap Jaden tidak seperti biasanya dia dan Nara saat masih ingat semuanya.


"Kamu dan Paijo tadi berencana ke dokter kandungan, kan?" Nara mengangguk. "Kalau begitu akan aku antarkan kamu ke sana."


"Apa benar?"


"Tentu saja. Bagaimanapun bayi itu adalah anakku dan aku tidak mau terjadi apa-apa pada bayiku."


"Iya, aku juga ingin tau perkembangan bayi kita."


"Nara, aku akan mencoba mencari tau segala tentang Renata dan kecelakaan yang aku alami."


"Memangnya kamu kenapa bisa sampai mengalami kecelakaan itu? Aku dengar kamu sedang ribut dengan seseorang di sebuah club malam karena kamu menggoda kekasih pria itu. Lalu, pacar dari wanita itu tidak terima dan kalian terlibat perkelahian."


"Aku sama sekali tidak ingat. Aku juga masih mencari tau semuanya. Untuk sementara kamu sabar dulu, aku juga akan mengurus semua tanda tanya ini."


Nara menghabiskan makanannya dan setelah itu mereka pergi ke dokter di mana Paijo membawa Nara untuk pertama kali.


Dokter di sana tampak bingung melihat Nara dengan Jaden karena setahu dokter itu, waktu Nara ke sana pertama kali dengan pria yang bukan sekarang bersama dengan Nara.


"Maaf, apa dia saudara laki-laki kamu?"


"Saudara? Apa maksud kamu saudara? Aku suami dari wanita ini. dan kita ke sini ingin memeriksakan kandungan istriku," sungut Jaden kesal.


"Oh! Aku minta maaf karena setahuku suami dari Nara bukan kamu saat Nara ke sini."


"Aku suami Nara dan si Jo itu hanya sahabat dari istriku karena aku tidak bisa mengantarkan Nara saat itu." Jaden melihat pada Nara.

__ADS_1


__ADS_2