Mr. Mafia & His Little Maid

Mr. Mafia & His Little Maid
Mau Mas Leo


__ADS_3

Pesawat Nara sudah landing, dan mereka berdua turun dari pesawat. Nara dan Jaden disambut oleh mobil hitam mewah dengan dikemudikan oleh Leo.


"Hai, Nara," sapa Leo dengan cepat.


"Mas Leo!" Nara tampak senang dan seketika dia berlari kecil memeluk Leo.


Jaden yang melihat langsung mendelik dan segera memisahkan dua orang yang sedang berpelukan melepas rindu.


"Jaga sikap kamu ya, Leo. Jangan seenaknya memeluk gadisku." Nara yang melihatnya tampak kesal. "Nara, jangan dekat-dekat dengan Leo." Jaden menggandeng tangan Nara.


"Aku bisa jalan sendiri, Tuan JL. Lagi pula jangan melarang Mas Leo mendekatiku. Mas Leo itu sudah aku anggap sebagai saudaraku sendiri, setidaknya dia sangat percaya padaku." Nara melengos pergi dan Leo melihat Jaden yang wajahnya tampak datar.


"Tuan, silakan masuk ke dalam mobil."


Jaden berjalan menuju mobilnya, dan di dalam Nara duduk berjauhan dengan Jaden. Pria itu tampak membiarkan saja apa yang ingin Nara lakukan.


Leo yang mengemudikan mobil tampak bingung dengan Tuan Jaden dan Nara. Bukannya mereka saling mencintai? Seharusnya saat sampai terlihat kebahagian di antara mereka, tapi kenyataannya malah tidak.


"Nara bagaimana keadaan bayi dalam perut kamu?" Leo mencoba memecah suasana yang tampak tidak enak.


"Bayiku baik-baik saja, Mas Leo. Kabar Mas Leo juga bagaimana? Apa di sana Mas Leo menemukan seseorang?"


"Belum ada, Nara. Aku di sana benar-benar fokus bekerja."


"Kenapa tidak mencari? Aku yakin wanita yang mendapatkan Mas Leo pasti bahagia. Mas Leo itu baik, lembut dan pasti setia."


"Terima kasih atas pujiannya Nara."


Tidak lama mereka sampai di sebuah rumah yang Nara tau di sana tinggal wanita paruh baya yang sangat cantik dan baik.


Wanita paruh baya itu berjalan keluar karena tau calon cucu menantunya datang. "Halo, Sayang." Sebuah tangan hangat memeluk Nara.


"Nenek." Nara merasa bersalah dengan nenek. "Nek, maafkan aku."


"Maaf, kan, kamu? Memangnya kamu salah apa sama nenek?" Mata wanita itu menatap nanar pada Nara.


"Aku sudah membuat nenek kecewa dengan hal yang sudah terjadi padaku dan Tuan JL," Nara agak takut.

__ADS_1


Helaan pelan keluar dari mulut wanita itu. "Memang nenek akui kalau nenek tidak menyetujui apa yang terjadi pada kalian berdua, tapi mau bagaimana lagi? Kita perbaiki apa yang sudah terjadi agar menjadi suatu hal yang indah." Senyuman manis nenek benar-benar dapat menenangkan hati Nara.


"Ini semua juga karena salah Nenek," celetuk Jaden yang dari tadi berdiri di sana, tetapi wanita tua yang dulu sangat menyayanginya seolah lupa dengan cucu tersayangnya itu.


"Kenapa nenek yang salah, Jaden?"


"Nenek meminta terus agar aku memberi Nenek cucu dan sekarang aku memberi Nenek cucu."


"Tapi bukan cara seperti ini yang nenek minta sama kamu. Sudahlah! Sekarang tidak perlu dibahas. Sekarang yang tperpenting nenek sangat senang karena rumah nenek akan ramai dengan suara bayi."


Nara kembali merasakan mual dan dia meminta izin untuk ke belakang. Jaden lagi-lagi terlihat cemas, tapi cemas Jaden malah seolah menyalahkan Nara.


"Kamu tidak makan tetap saja muntah. Apa tidak apa-apa nanti bayiku, Nara?"


Nara yang mencoba mengambil napas dan melihat datar pada Jaden. "Kenapa selalu menyalahkan aku? Aku juga tidak tau. Coba saja kamu yang hamil pasti akan tidak bisa menahan rasa tidak enak di badan kamu."


"Nek, Nara dari tadi belum makan, tapi dia muntah terus. Aku suruh makan katanya tidak enak. Apa dia tidak memikirkan bayiku?"


Nara berjalan dan berdiri di depan Jaden. "Tuan kira aku senang dengan semua ini. Aku juga memikirkan bayi kita, tapi bagaimana lagi badanku dan perutku rasanya tidak enak." Nara akhirnya terisak menangis.


"Aku ...?" Jaden wajahnya berubah bingung. Dia tidak bermaksud membuat Nara menangis.


"Aku minta maaf, Nara, aku hanya panik dan khawatir saja. Bagaimana kalau kita ke dokter." Jaden memegang jemari Nara, tapi Nara malah melepaskan pegangan tangan Jaden.


"Jaden, kamu belum membawa Nara ke dokter waktu di Kanada?"


"Sudah, Nek, dan dokter bilang jika bayiku sangat sehat, tapi kalau Nara tidak mau makan darimana bayiku bisa tumbuh sehat?"


Nenek tau jika Nara ini masih sangat muda, dan dia juga akan menjadi ibu baru. Kehamilan yang tiba-tiba ini pasti membuat emosinya benar-benar tidak terkontrol. Apa lagi Nara mengalami morning sick dan dia bilang badannya tidak enak seperti orang sakit.


"Nara, katakan pada Nenek apa yang kamu inginkan? Jaden akan menurutinya."


Nara melihat pada nenek dan kemudian beralih pada Leo. "Mas Leo," ucap Nara.


"Apa? Apa maksud kamu menginginkan Leo?" Jaden sudah emosi saja.


"Kamu ingin apa dariku, Nara?"

__ADS_1


"Temani aku makan ya, Mas Leo. Aku ingin cerita banyak sekali dengan Mas Leo." Nara seolah senang dengan sosok Leo yang memang lebih lembut dan tenang.


"Tidak boleh! Enak saja! Aku ini ayah dari bayi itu. Kenapa malah meminta Leo yang menemani kamu makan?"


"Jaden! Biarkan saja. Kamu mau Nara dan bayi kamu kelaparan? Mungkin Nara akan lebih nyaman dengan Leo. Dia sedang mengidam," bisik nenek.


"Apa wanita hamil mengidam sampai seperti ini?"


"Beda-beda, Jaden."


"Tidak apa-apa, Tuan Jaden. Saya sama sekali tidak keberatan. Saya juga ingin menceritakan banyak sekali apa yang saya lakukan di luar negeri waktu itu."


Jaden berjalan mendekati Leo dan tangannya besidekap dengan mata memicing pada Leo.


Glek!


Leo mencoba menelan salivanya. Dia takut sepertinya Tuan Jadennya akan marah padanya.


"Tuan JL, aku lapar," rengek Nara.


"Aku akan temani makan, kalau perlu aku yang akan menyuapi kamu, tapi jangan meminta Leo yang menemani kamu makan."


"Tidak mau, aku mau makan dengan Mas Leo."


"Nara!" seru Jaden kesal.


"Kenapa? Kamu tidak percaya kalau aku tidak ada apa-apa dengan Mas Leo? Mengira anak ini anak Mas Leo?"


"Wajar kalau aku curiga sama kamu melihat sikap kamu yang seperti ini."


"Apa?" Nara mendelikkan kedua matanya.


Leo berjalan mendekati nenek. "Nek, melihat mereka aku jadi berpikir dua kali untuk nanti menikah," ucap Leo.


"Hush! Tidak boleh begitu? Mereka berdua ini masih tahap adaptasi dengan keadaan Nara yang hamil. Anggap saja supaya mereka tidak kaget nanti kalau bayi mereka lahir."


"Terserah kalau Tuan tidak memperbolehkan aku makan dengan Mas Leo. Aku tidak mau makan."

__ADS_1


Jaden tidak punya pilihan lagi. Akhirnya dia mengalah. Seorang Jaden Luther kalah lagi dengan seorang Nara.


Wanita paruh baya itu tersenyum melihat ekspresi cucunya. "Nenek akan menyuruh pelayan menyiapkan makanan untuk kamu, Nara."


__ADS_2