
"Oh ****! Kenapa begini lagi?" Jaden mengumpat saat dia sudah menarik bibirnya dari bibir Nara.
Tangan Jaden mengusap lembut pipi gadis yang masih dengan mata terpejamnya. Jaden dapat melihat lebih dekat bahkan sepuasnya melihat wajah Nara.
"Benar sekali apa yang dikatakan oleh si brengsek Will itu. Gadis ini memang memiliki wajah yang cantik, tapi jika mengingat sikap keras kepalanya. Aku benar-benar kesal padanya."
Jaden kembali membaringkan tubuh Nara dan menyelimutinya. Jaden juga tidak lupa mengompres dahi Nara dengan waslap.
"Oh Tuhan! Kenapa juga aku mau merawat gadis pembangkang ini seperti ini?" Jaden tampak kesal dengan dirinya sendiri.
Dia kemudian melihat Nara tidur lagi dengan nyenyak. Jaden membaringkan tubuhnya pada sofa panjang yang ada di depan ranjang Nara.
Tidak lama ponsel Jaden berbunyi dan dia melihat ada nama Paman Benu di sana. "Ada apa pria tidak tau diri ini menghubungiku?" dialognya sendiri.
__ADS_1
"Halo, Tuan Muda Jaden, saya Paman Benu.".
" Ada apa kamu menghubungiku? Apa kamu mau meminjam uang lagi padaku?" tanya Jaden dengan nada dingin.
"Maaf, bukan itu maksud saya menghubungi Tuan Muda Jaden. Saya menghubungi karena ingin mengundang Tuan Muda untuk datang ke acara pesta ulang tahun putri saya yang bernama Mona. Saya juga mengundang nenek Tuan Muda untuk bisa hadir juga di acara itu."
Terlukis senyuman miring dari sudut bibir Jaden. "Maaf, aku mungkin tidak bisa hadir karena aku punya banyak kesibukan, dan nenekku juga baru saja keluar dari rumah sakit dan dia tidak bisa terlalu capek. Aku akan mengirim kado untuk putrimu, tapi untuk datang aku tidak bisa."
"Oh, begitu. Padahal saya dan istri berharap sekali Tuan Muda Jaden bisa hadir dalam acara itu."
"Tuan Muda tunggu sebentar, ada lagi yang ingin aku tanyakan sama Tuan Muda."
"Apalagi?"
__ADS_1
"Soal ponakan saya si Nara itu. Apa benar dia sudah Tuan Muda kirim ke San Fransisco untuk menjadi pelayan di rumah kenalan Tuan Muda?"
Jaden melihat pada Nara yang tengah tertidur di ranjangnya. "Sudah, dan aku harap kamu tidak perlu tau lebih banyak lagi soal itu karena itu sudah bukan urusan kamu."
"Tentu saja saya tidak akan bertanya lebih panjang lagi. Maafkan saya, Tuan Muda."
"Satu hal yang perlu aku ingatkan lagi, kalau kamu berniat meminjam uang lagi padaku, aku hanya ingin kamu membayarnya dengan tubuh putrimu. Kamu dengar?" Jaden sengaja mengatakan hal itu karena dia ingin tau apa si Benu ini akan tega melakukan hal itu karena dia saja sudah tega menjual ponakannya sendiri.
"Tidak Tuan Muda. Uang yang aku perolah dari Tuan Muda akan aku manfaatkan sebaik mungkin. Putriku sangat berharga bagiku."
"Lalu? Ponakan kamu yang juga sudah kamu rawat dari kecil, kamu tidak menganggapnya berharga?"
"Dia bukan anakku, lagipula dia itu menyusahkan saja sejak kecil. Warisan yang ditinggalkan oleh ayahnya sama sekali tidak bisa mencukupi kebutuhannya. Lebih baik dia bekerja di luar negeri agar mendapat uang yang lebih banyak untuk dirinya. Istriku juga sudah tidak sanggup mengurusnya lagi."
__ADS_1
Jaden sebenarnya juga pernah mencari tau tentang kehidupan Nara dan keluarga pamannya. Kasihan sekali Nara, tapi Jaden bukan orang yang muda merasa simpati akan kehidupan seseorang.
"